Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Pulau Sumba: Tanah Para Tuan dan Hamba


Lukman Solihin

Mentari pagi mulai menyengat saat pesawat kami mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Minggu pertama bulan Oktober tahun 2012 adalah penghujung musim kemarau yang sukses memanggang Pulau Sumba menjadi karpet padang sabana yang menguning-kerontang. Sebagian wilayah di pulau ini tanahnya mengering berwarna putih karena mengandung pasir, batu, juga kapur. Sopir yang mengantar kami menunjuk perbukitan yang tandus sebagai akibat dari kemarau. Katanya, kalau musim hujan, semua tanah dan bukit dibalut rumput dan ilalang yang hijau, kontras dengan pemandangan kami hari itu.

Bandara ini satu dari dua bandara di Pulau Sumba. Satu lagi di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Hampir setiap hari Bandara Umbu Mehang Kunda melayani rute Waingapu – Kupang atau sebaliknya. Apabila tidak ada penerbangan, bandara ditutup. Aktivitas di bandara, seperti kantin atau penjual suvenir, hanya berlangsung apabila ada kedatangan atau keberangkatan pesawat. Hanya ada dua toliet di bandara ini, yaitu di tempat kedatangan dan tempat keberangkatan. Pengambilan bagasi dilakukan secara manual tanpa mesin. Jadi, bagasi penumpang diambil dari pesawat dan diantar dengan kereta-gerobak ke bandara, lalu di bandara ada jendela kecil untuk memasukkan koper atau barang dan penumpang tinggal mengambilnya. Kantin di bandara ini hanya ada dua, yaitu kantin biasa dengan kapasitas 3 meja dan satu ruang semacam “executive lounge” (per orang dikenai 25 ribu rupiah). Di ruangan ini, Anda dapat menikmati kacang, kue, minuman kemasan di dalam kulkas, atau memesan minuman panas. Seorang kawan yang meminum kopi kotak kemasan sontak mengumpat setelah tahu ternyata tanggal kedaluwarsanya telah lewat satu bulan. Pantas agak kecut, katanya. Hehe...
Uma Mbatangu (Rumah bermenara), Rumah Tradisional Sumba.
Saya datang ke Sumba untuk mendokumentasikan upacara kubur batu yang akan dilaksanakan di Kecamata Umalulu (orang setempat menyebutnya Melolo) di Kabupaten Sumba Timur. Dua orang termasuk saya bertugas melakukan pengamatan dan wawancara untuk menyusun laporan deskripstif, tim lainnya yang terdiri dari tiga orang bertugas mendokumentasikan secara visual (melalui foto dan video). Ritual yang diyakini bersumber dari tradisi megalitik—yaitu tradisi zaman prasejarah yang ditandai dengan hasil budaya berupa batu-batu besar—ini akan dilaksanakan meriah karena akan memakamkan 4 jenazah dari kalangan maramba (bangsawan).

Di tanah ini, kasta atau strata sosial berdasarkan keturunan masih berlaku. Yang teratas adalah kaum maramba (bangsawan) yang dahulu hingga sekarang merupakan penguasa di bidang politik, tuan atas tanah (mangu tanangu) dan juga para budak. Lapis kedua ada golongan kabihu (orang bebas) yang merupakan orang kebanyakan. Lalu lapis ketiga adalah kaum “sendal jepit”, yaitu golongan ata (budak atau abdi) yang dikuasai oleh tuannya (kaum maramba). Golongan maramba dapat dikenali dari nama gelar yang mereka pakai, yaitu Umbu atau Tamu Umbu untuk laki-laki dan Rambu atau Tamu Rambu untuk perempuan.

Praktik tuan-hamba atau antara maramba dan ata ini masih berlangsung hingga sekarang. Seorang hamba bergantung hidupnya, dalam hal ini untuk makan dan penghidupan, dari tuannya. Mereka dipekerjakan sebagai pembantu rumah, pekerja kebun, pengurus hewan, atau pekerja kain tradisional dengan upah seadanya. Hidup mereka boleh dibilang seratus persen ditanggung oleh tuannya. Sementara mereka harus merelakan tenaga dan ketundukan kepada tuannya itu.

Sebaliknya, para bangsawan dan anak keturunannya juga bergantung kepada maramba dalam kehidupan keseharian mereka. Sumberdaya berupa sawah, kebun, pekarangan, hewan peliharaan, kerajinan kain, dan usaha lainnya tak akan berjalan mulus tanpa ata/hamba sebagai kaum pekerja. Kepemilikan atas golongan ata juga menaikkan status dan prestis para maramba, sebab semakin banyak hamba yang dikuasai dan ditanggung hidupnya menunjukkan kemampuannya di bidang ekonomi dan kekuasaan yang dimilikinya.

Sekilas, praktik tuan-hamba ini nampak “cukup manusiawi” karena para hamba juga diperlakukan dengan nisbi baik. Mereka ditanggung hidupnya, juga biaya sekolah bagi anak-anaknya. Namun sebuah kasus pada tahun 2006 yang sempat disiarkan media menguak praktik perhambaan yang tak manusiawi. Ketika itu, seorang ibu dari kaum hamba dituduh membunuh anaknya sendiri. Dalam sebuah penyelidikan oleh wartawan/aktivis perempuan terungkap bahwa anak yang terbunuh penuh dengan bilur-bilur luka bekas lecutan cemeti. Aktivis itu mengatakan, tak mungkin seorang ibu yang membesarkan anaknya sendiri tega membunuh anaknya memakai cemeti hingga mati. Sang ibu sendiri mengaku memukul anaknya, lalu si anak tidur dan lalu mati. Pernyataan itu bertentangan dengan kondisi si anak dengan bilur-bilur bekas cemeti. Anak ini tentu disiksa lebih dahulu sebelum ajalnya, dan mungkin sang ibu yang budak disuruh oleh tuannya untuk mengaku sebagai pelaku, karena tak ada pilihan lain kecuali mematuhi perintah itu (baca liputan KBR 68 H).

Marapu
Ketergantungan kaum hamba kepada maramba ini membuat mereka tak mudah untuk melakukan mobilitas sosial, misalnya menjadi manusia bebas yang tak lagi berstatus hamba. Sebagian hamba bahkan cenderung “rela” dan “ikhlas” menjadi hamba karena demikianlah yang mereka pikirkan sebagai kehidupan ideal (mungkin ada kemiripan dengan para abdi dalem di Keraton Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta). “Kerelaan” ini dapat ditelusuri lebih jauh sumbernya dari kepercayaan Marapu, agama lokal masyarakat Sumba yang termasuk ke dalam agama dengan ritual pemujaan nenek moyang (ancestor worship).

Agama ini dahulu merupakan agama mayoritas penduduk setempat hingga pekabaran injil dimulai sekitar tahun 1816. Namun, seperti ditulis oleh Purwadi Soeriadiredja, dalam disertasinya tentang Agama Marapu, pekabaran injil tidak begitu berhasil hingga tahun 1990. Kristen mulai dianut dan menjadi agama mayoritas pasca-tahun 1990-an, ketika agama resmi menjadi prasyarat anak-anak Sumba untuk bersekolah formal. Saat ini, penganut kristen di Sumba Timur mencapai 75 persen, sementara penganut Marapu menduduki posisi kedua, yaitu sekitar 9,8%, kemudian Katolik 8,4%, dan Islam 6,4%. Agama resmi lainnya, seperti Hindu, Buddha, dan Konghucu pemeluknya tidak lebih dari satu persen dan umumnya dipeluk oleh para pendatang. Keterdesakan agama Marapu dapat dipahami sebagaimana terjadi pada agama-agama lokal lainnya, yaitu kombinasi antara desakan dari kaum misionaris agama-agama resmi dan perlindungan negara yang tak memadai.
Jenazah yang akan dikubur batu, dibungkus kain tradisional.

Kembali kepada konsepsi tentang tuan-hamba tadi, agama Marapu menguatkan atau menjustifikasi keyakinan bahwa alam baka tidak begitu berbeda dengan alam dunia. Seorang maramba statusnya tetap sebagai maramba dan begitu pula seorang ata akan tetap statusnya sebagai kaum hamba di alam sana. Oleh sebab itu, pada zaman dulu seorang maramba yang mati akan diupacarai dengan cara menyembelih kuda sebagai kendaraan di alam akhirat nanti. Kaum maramba ini juga dibalut kain tradisional terbaik, kain mahal yang harganya bisa puluhan juta, sebagai pakaian di alam akhirat. Mereka juga didampingi oleh hambanya yang paling setia dengan cara dipenggal atau dikuburkan dengan cara hidup-hidup. Seorang golongan maramba yang saya temui menegaskan, bahwa dahulu (artinya sekarang tidak lagi terjadi) karena begitu setia kepada tuannya, seorang hamba dengan kerelaannya sendiri bahkan meminta untuk mati bersama tuannya.

Kesaksian Soeriadiredja yang ditulis dalam disertasinya, pada tahun 1982 ketika dia mengamati langsung prosesi kubur batu dari raja setempat, banyak polisi dan tentara berjaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti bunuh diri dari hamba yang ingin menyertai tuannya. Nama-nama hamba ini dicatat dan lubang kubur batu dijaga ketat supaya tak seorang pun meloloskan diri untuk ikut terkubur. Kesaksian saya sendiri dalam upacara kubur batu yang dilaksanakan awal Oktober ini, tak satu kepala pun dipenggal, kecuali kuda, kerbau, dan babi.

Kompleks kubur batu.

Kaum maramba ini adalah penguasa di bidang politik dan ekonomi di tingkat lokal. Para keturunan maramba, seperti telah saya sebutkan adalah tuan tanah hingga sekarang. Mereka juga mewarisi usaha perkebunan, perladangan, peternakan, juga semacam industri kain tradisional. Dengan sumber daya dan kedekatan dengan penguasa (pada zaman kolonial mereka juga diakui oleh pemerintah kolonial sebagai wakil gubernur jenderal di wilayah setempat), membuat anak-anak mereka turut diuntungkan karena mampu mengenyam pendidikan tinggi. Banyak kaum maramba yang saat ini menjadi pejabat publik di daerah merupakan orang-orang yang dahulu disekolahkan ke Jawa. Anak-anak mereka juga kini bersekolah di perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama di Jawa. Adapun kaum hamba umumnya hanya bersekolah dasar atau bahkan putus sekolah karena mereka cenderung tidak berminat untuk bersekolah. Apabila mereka memiliki anak, maka anak-anak mereka tetap merupakan aset tuannya dan dapat diwariskan kepada anak-cucu tuannya. Hubungan gelap di antara kaum hamba tidak begitu dipersoalkan karena anak-anak mereka tetap merupakan “aset” tuannya.

Tenun Ikat
Kabupaten Sumba Timur sendiri merupakan sentra penghasil tenun Sumba yang sudah tersohor hingga mancanegara. Kain dari daerah ini memiliki motif khas yang berbeda dengan kain dari Sumba Barat. Menurut salah seorang pengrajin, kain dari Sumba Barat umumnya tak memiliki motif atau datar-datar saja, sementara dari Sumba Timur banyak lahir motif seperti udang, kuda, dan lain-lain yang dilahirkan dan dikreasi oleh kaum maramba. Sebagian motif kain dahulu hanya dipakai oleh kaum bangsawan. Bahkan ada kain-kain tertentu yang hanya diperlihatkan pada saat tertentu pula. Hal ini untuk menghindari agar orang kebanyakan tidak meniru motif-motif tersebut.

Namun, seperti disebutkan oleh seorang Rambu (sebutan untuk keturunan bangsawan perempuan), hal itu saat ini tidak berlaku lagi karena semua orang sudah mengetahui dan dapat membuat motif yang dipakai oleh kaum maramba. Apabila mereka tidak membuat sendiri, mereka juga bisa membeli kepada kaum maramba yang juga menjadi pengrajin kain tersebut. Aturan kain-kain tertentu yang hanya dipakai oleh golongan maramba kini telah cair, sehingga perbedaan yang menyolok dari segi pakaian tradisional antara golongan maramba dan orang biasa bisa dibilang sudah tak ada lagi.

Pengrajin kain Sumba.

Kain atau dalam bahasa Sumba disebut pahikung (tinung pahikung=kain tenun) terbagi menjadi dua jenis, yaitu kain (kain panjang/selimut) (disebut hinggi) dan sarung (disebut lau). Kain panjang biasa dipakai oleh laki-laki sebagai penutup bawah, penutup atas, dan juga ikat kepala. Sedangkan sarung dipakai oleh kaum perempuan. Kain sendiri ada yang dibuat dengan teknik tenun ikat dan ada yang dibuat dengan teknik songket. Dibandingkan teknik songket, tenun ikat lebih tinggi pamornya, sehingga lebih dihargai dan lebih mahal harganya di pasaran. Tenun ikat merupakan kain yang dibuat dengan teknik rintang warna memakai ikat.
Rintang warna di sini diperlukan untuk membuat motif, sebagaimana batik menggunakan lilin (malam) untuk menghalangi warna dan menciptakan motif. Berbeda dengan batik yang motifnya ditorehkan kepada kain yang sudah jadi, tenun ikat motifnya dibuat pada saat masih berbentuk benang. Sekumpulan benang diikat kemudian dicelupkan pada cairan pewarna alam. Setelah kering, ikat dibuka dan kemudian dicelup warna lagi. Banyaknya warna pada motif mempengaruhi lamanya kain dibuat, karena setiap warna yang dihasilkan kemudian diikat lagi agar tidak tercampur dengan warna lain ketika proses pewarnaan selanjutnya. Proses inilah yang membuat kain Sumba menjadi eksklusif dan mahal.

Selain itu, pewarna alami juga memerlukan usaha keras tersendiri, karena tumbuhan tersebut diambil langsung dari alam, ditumbuk atau direbus untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Karena pewarnanya dari alam, maka tampilan warna yang dihasilkan lebih sejuk, temaram, atau tidak ngejreng. Kain-kain tua atau sudah berumur puluhan tahun biasanya semakin tinggi harganya dan paling banyak diburu kolektor. Kain-kain terbaik ini dipersembahkan sebagai mas kawin, atau sebagai persembahan kepada jenazah yakni untuk kain pelapis jenazah atau untuk bekal kubur.

Lantas, bagaimana proses upacara kubur batu dilaksanakan?
Saya tuliskan di lain kesempatan :)

Pram Menafsir Arok dan Saya (mencoba) Menafsirkannya Lagi

Lukman S.
Dulu sebetulnya saya sudah pernah membaca Arok Dedes-Pram. Tapi waktu itu memang masanya berbeda, intensinya juga berbeda, sehingga yang saya tangkap sekadar kepiawaian Pram bercerita secara memikat dengan –tentu saja- pemanfaatan sumber sejarah yang begitu kuat.
Dan, saat sekarang saya mencoba membaca lagi buku setebal 418 halaman itu, bukan lagi di Jogja, melainkan di Jakarta, dengan suasana yang berbeda, dan waktu luang yang sangat cukup untuk “kejar target”, ternyata impresi yang saya tangkap sungguh amat mengesankan.
Ya, pembacaan kedua atas sebuah teks niscaya bakal menghasilkan kesimpulan yang tak sama, setidaknya ada tambahan-tambahan simpulan baru yang tak kalah menakjubkannya dari pembacaan yang pertama. Mungkin, suasana dan tenggat waktu membaca (di mana ketika membaca teks yang pertama dan kedua ada asupan-asupan pengetahuan lain), dan faktor-faktor lain yang entah apa saja, cukup mempengaruhi cara kita memandang dan menilai sebuah teks.
Baiklah, tiga paragraf di atas sekadar ingin bilang bahwa pembacaan saya yang pertama pada Arok Dedes dulu, ketika masih kuliah, degan sekarang yang “kebetulan” sedang menganggur, menambah beberapa kesimpulan baru yang menurut saya penting untuk saya ulas.
Secara tak sengaja, di tempat penyewaan buku di dekat rumah, yang juga menjadi tempat saya menyewa Arok Dedes itu, saya menemukan buku proyek Depdikbud berjudul Seri Penerbitan Sejarah Peradaban Manusia: Zaman Singasari. Ya, betul-betul kebetulan, sebab secara tak sengaja saya mengalihkan pencarian ke rak cerita anak-anak dan menemukan buku setebal 24 halaman itu. Penyusun utamanya (juga ditulis di dalam kurung sebagai pemegang Hak Cipta) adalah Y. Achadiati S.
Maksud saya, melalui kebetulan ini, saya mendapat beberapa hal penguat bagi kesimpulan-kesimpulan saya mengenai cerita yang dikarang Pram. Sebab versi Achadiati adalah versi ilmiah dari seorang ahli sejarah kuno (juga arkeolog), sementara versi Pram adalah versi seorang sastrawan.
Saya tidak sedang ingin bilang bahwa Achadiati lebih ilmiah, atau lebih betul, sedangkan versi Pram lebih fiktif dan sudah tentu keliru. Alih-alih demikian, saya malahan ingin menunjukkan apa yang jarang dimanfaatkan oleh para ilmuan, yaitu imajinasi dan daya keratif penafsiran. Tentu saja, kaidah-kaidah ilmiah juga turut serta menutup kemungkinan penafsiran yang terlampau “kreatif”, maksudnya melebihi kesimpulan yang dapat diajukan dari data dan fakta yang ditemukan.
Achadiati bercerita tentang Arok dan wangsa Rajasa (raja-raja keturunan Arok) karena ia membaca babad Pararaton dan babad Kertanegara, juga prasasti-prasasti kuno. Karena alasan batasan obyektivitas dan kerangka metode ilmiah, maka ia tak bisa menggunakan kemampuan lain: imajinasi dan daya kreatif penafsiran. Oleh sebab itu, detail cerita yang mampu diulas sangat terbatas, sesuai dengan pengetahuan awam kita melalui cerita rakyat mengenai sosok Arok dan Dedes. Bahwa Arok adalah seorang bandit keturunan jelata (yang konon merupakan titisan Brahma), perampok dan penjudi yang kemudian mengabdi di Tumapel, dan karena menyaksikan (maaf) selangkangan Dedes mengeluarkan sinar pertanda perbawa, ia kemudian membunuh majikannya untuk mendapatkan Dedes.
Berbeda penafsiran yang dilakukan Pram, dan ini yang biasa dilakukan oleh para prosa-wan, yaitu (meminjam perkataan Umar Kayam) menciptakan dunia alternatif sendiri dalam cerita. Dan Pram (inilah kelihaian yang saya maksud) mampu menafsirkan cerita Arok yang berbau mitos menjadi mengada dalam konteks sosial politik pada jamannya.
Bercerita melalui prosa membuat Arok begitu hidup. Dan sebagai konsekuensinya, Arok sebagai seorang tokoh pembangkang diletakkan pada sebuah konteks sosial dan politik, juga percaturan agama, serta jalan cerita yang dibuat mengalir sesuai logika khas Pram: bahwa politik ditempuh dengan jalan yang rumit. Politik adalah bagaimana cara memperoleh dan memainkan kekuasaan. Tidak dengan cara mistis memesan keris sakti lalu menggunakannya untuk membunuh.
Perebutan tahta sebagai Akuwu Tumapel oleh Arok dari Tunggul Ametung tidak ditafsirkan oleh Pram sebagaimana cerita awam: melalui pembunuhan dengan keris buatan Empu Gandring. Kematian Empu Gandring, dalam cerita karangan Pram, hanya satu bagian saja, hanya titik puncak dari sebuah rencana pemberontakan yang disusun matang oleh seorang calon pemimpin berbakat yang didukung oleh kondisi sosial dan politik pada masanya. Sungguh tidak dapat dinalar jika Arok dengan begitu saja memesan keris sakti, lalu menusukkannya ke punggung Tunggul Ametung, kemudian berhasil meraih kekuasaan dengan mengawini si cantik Dedes.
Tidak. Bagi Pram, setiap pemberontakan dimulai dengan persiapan matang. Dan keris yang dipesan kepada Empu Gandring tidak dimaknai oleh Pram sebagai memesan keris, melainkan senjata. Gaman tidak dimaknai sebagai senjata yang sakti mandraguna, melainkan alat perang yang riil: senjata berjumlah ribuan untuk berperang melawan tentara Tumapel.
Ya, Arok memesan senjata tombak tangan, tombak panjang, dan pedang yang berjumlah ribuan untuk pasukannya. Itulah mengapa sebuah pemberontakan terhadap Tunggul Ametung, kemudian seterusnya kepada kekuasaan Kertajaya di Kediri dapat berhasil, dan mampu mendaulat Arok sebagai Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, raja pertama Kerajaan Singosari yang kelak menurunkan pula raja-raja masa Majapahit.

Agama dan Agamawan
Selain menyusun kekuatan tentara yang terpercaya dari kalangan masyarakat bawah, Arok juga memperoleh dukungan dari kaum agamawan, yakni kaum Brahmana yang notabene merupakan kasta tertinggi dalam agama Hindu. Lantas mengapa kaum Brahmana mendukung tokoh muda yang tak jelas asal usulnya ini? Bukankah dalam kepercayaan Hindu klasik di Jawa, kasta adalah suatu lingkaran yang sulit ditembus?
Menjawab ini, Pram secara khusus mengistilahkan Arok sebagai Satria yang berasal dari kaum Sudra, dan berhati Brahmana (itu karena pengetahuan keagamaannya telah mumpuni setelah berguru kepada Dang Hyang Lohgawe). Ya, dalam satu sosok pemimpin masa depan itu bersatu tiga representasi golongan, yang memungkinkan keberadannya diterima dan didukung oleh lingkungan sosial politik pada masanya.
Selain itu, kaum agamawan memiliki alasan khusus mengapa mendukung Arok. Arok adalah jawaban atas perjuangan bawah tanah kaum Brahmana yang selama ratusan tahun peranannya telah diminimalkan. Ya, sejak Sri Baginda Erlangga (pendiri Wangsa Isyana)  munggah tahta, hingga masa Kertajaya di Kediri pada masa Arok, pemujaan terhadap leluhur yang dianggap titisan dewa (diperdewakan) kian marak, sehingga mulai menggusur pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa (dewa tertinggi menurut kaum Brahmana). Selain pemujaan kepada leluhur, pemujaan terhadap Wisnu, dewa pujaan kaum tani dan para Satria, menggantikan pemujaan terhadap Siwa dan syaktinya (istri), Dewi Durga. Arca Erlangga dapat kita lihat sebagai titisan Wisnu berupa burung Garuda (saat ini digunakan sebagai lambang UNAIR). Arca ini konon dahulu juga disembah oleh keturunan dan rakyatnya sebagai dewa.
Kaum Brahmana melihat pergeseran kepercayaan ini sebagai “pemurtadan” dari ajaran Hindu, sehingga harus diluruskan. Dan pelurusan ajaran tak dapat tidak harus dengan merebut kekuasaan. Nah, di sinilah agama dan agamawan tidak berdiri di dalam ruang kedap suara. Agama dan agmawan adalah pendukung dan pembangkang langsung dalam kancah politik.
Selain agama dalam kancah politik, cerita Arok Dedes juga menyajikan sesuatu yang menyadarkan saya betapa kesimpulan ilmiah kadang menggelapkan mata kita tentang sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Maksud saya, ini soal kerukunan agama yang oleh para ahli sejarah kuno, juga arkeolog, ketika menafsirkan prasasti-prasasti serta menafsirkan keberadaan dan posisi candi-candi baik Hindu, Buddha, atau antara pemuja Siwa dan Wisnu yang saling bersinggungan dan berdekatan dianggap sebagai representasi kerukunan antar-agama. Kita lupa, dan mungkin tak pernah terbersit lagi dalam pikiran kita, bahwa permusuhan antar-agama, atau antar sekte di dalam satu agama juga sangat mungkin terjadi pada masa lalu.
Ini kesimpulan kreatif yang (sejauh ini) tidak saya peroleh dari analisis ilmiah. Pram menunjukkan, bahwa antara Buddha dan Hindu, bahkan antara penganut Siwa dan Wisnu di dalam satu agama Hindu sendiri terjadi pertentangan yang sangat serius. Tunggul Ametung dan Kertajaya (Raja kediri) menganut Hindu, tetapi aliran Wisnuisme. Sementara Arok dan kaum Brahmana yang mendukungnya bermaksud ingin mengembalikan kejayaan Siwaisme.
Ya, sejak agama-agama belum sampai di Nusantara, setiap suku hampir pasti mengembangkan kepercayaan lokal masing-masing. Dan setelah agama-agama datang (meminjam istilah Achadiyati), kebudayaan yang makin halus mulai muncul. Begitu juga tatanan sosial makin mantap, dengan garis demarkasi yang jelas dengan kebudayaan sebelumnya: agama membedakan antara manusia beradab dan tidak.
Tetapi melalui cerita-cerita yang dirajut Pram kita tahu, agama-agama juga berkait-kelindan dengan politik: agama turut serta dalam mengukuhkan kekuasaan atau menolaknya.
Di sini nampak apa yang terakhir ingin saya sampaikan : bahwa mengarang ala Pram, adalah menafsirkan sejarah untuk kepentingan bangsanya. Proses kepengarangan tidak dilakukan sesuka hati: mengarang untuk kepuasan pengarang. Mengarang adalah kerja literer untuk membangun jiwa bangsanya. []

Tukang Becak : Yang Bebas dan Yang Terpaksa Memilih

Lukman S. 

Pertengahan Februari lalu kami liburan ke Jogja. Sampai di Stasiun Tugu, kami sengaja tidak memilih taksi untuk pergi ke hotel, melainkan mencoba bernostalgia dengan menumpang becak. Si Chiya, anak kami, girang bukan main karena setelah sekian lama, baru kali itu dia merasakan kembali pengalaman naik becak. Dulu waktu kami masih bermukim di Jogja, di akhir pekan, sering kami menyewa becak mini yang disewakan di Alun-Alun Kidul. Rasanya asyik berkeliling alun-alun dengan becak mini itu.

Belum lama ini, teman saya berkesempatan pergi ke New York dalam rangka memenuhi tanggungan kerjanya. Dia sempat berfoto saat naik becak di sana. Saya akhirnya tahu, di New York ada becak (pedicab) juga. Lalu kira-kira, apa bedanya ya para penarik becak di New York dengan di Indonesia?

Kalau merujuk kepada peribahasa mungkin salah satu jawabannya adalah TEMPAT. Katanya: Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya. Meskipun profesinya sama, tetapi karena berada dan dilakukan di tempat yang berbeda, maka berbeda pula nilanya, berbeda pula cara kita melihatnya.

Frankie Legarreta. Sumber: http://www.voaindonesian.com
Mari kita bandingkan cerita “bosan jadi pegawai” sebagaimana judul acara di salah satu televisi di Indonesia ini. Seorang pekerja kantoran merasa bosan bekerja di dalam ruangan berpenyejuk udara, dibatasi geraknya oleh ruang, dan tak memiliki banyak waktu luang. Membosankan. Ia lalu membebaskan diri dengan cara yang menurut sebagian besar rakyat Indonesia tidak lazim: menjadi tukang becak.

Tapi tunggu dulu. Ini adalah pilihan yang dilakukan oleh Frankie Legarreta, seorang warga Manhattan yang telah mengayuh becak selama enam tahun ini di seputar Central Park, New York. Pilihan pekerjaannya cukup unik, terkesan “out of the box”, sehingga  ia layak diberitakan oleh VOA dengan tajuk “Kisah Seorang Penarik Becak di Kota New York” (3 April 2012).

Tentu saja, ini bukan keputusan tergesa karena tanpa pilihan seperti dilakukan oleh banyak penarik becak di negeri ini, sebut saja Kastini (seorang Ibu penarik becak di kd ota Tuban), atau Mbah Pon atau Ponirah (ibu penarik becak di Bantul, Yogyakarta), Dewi Rapika (ibu penarik becak motor di Medan), atau bahkan Suharto (mantan atlet balap sepeda yang pernah menyumbangkan medali emas pada SEA Games 1979 yang juga membecak).

Pekerjaan Frankie menjadi menarik karena profesi yang dilakukannya dianggap “lain” tapi dalam makna yang positif. Pekerjaan ini bukan profesi seperti sopir taksi yang mengendari kendaraan beroda empat dengan ruangan tertutup dan berpenyejuk udara seperti banyak berseliweran di pusat keramaian di New York. Pekerjaan ini menguras tenaga, keringat, dan semangat untuk menembus kebuntuan dan kemacetan kota New York dengan cara yang mengasyikkan.

Frankie merasa bahwa inilah pilihan yang tepat untuk dirinya: kebahagiaan yang didapat dengan cara berolahraga, memperoleh imbalan, bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, dan berbagi cerita tentang New York kepada para wisatawan yang menggunakan jasanya. Ia mampu memilih dan lalu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ia menikmati pekerjaan itu karena itulah yang diinginkannya.

Tidak demikian dengan Kastini, Mbah Pon, Dewi Rapika, atau Suharto. Mereka semua menarik becak karena keterpaksaan: pilihan yang dilakukan karena tak ada pilihan lain. Misalnya saja Kastini (45 th), ibu dari 7 anak, dan sudah lebih dari 15 tahun mengayuh becak untuk memperoleh nafkah. Ia kerap kali mangkal di Terminal Wisata Makam Sunan Bonang, Tuban (http://metrotvnews.com).

Mbah Ponirah. Sumber: http://rezco.wordpress.com
Pun demikian dengan Mbah Pon atau Ponirah (57 th) yang sudah lebih 22 tahun menarik becak di daerah Bantul, Yogyakarta. Perempuan yang satu ini dianggap sebagai “Perempuan Perkasa”, pernah menjadi bintang iklan minuman berenergi yang juga dibintangi almarhum Mbah Maridjan, dan tetap bertahan bahkan bangkit dari musibah gempa bumi yang merontokkan rumah dan memusnahkan ternak bebeknya (http://rezco.wordpress.com).

Agak berbeda dengan Kastini dan Mbah Pon, Dewi Rapika tidak mengayuh pedal becak, melainkan menggunakan becak motor (bentor/bemor) (http://berita.liputan6.com). Becak jenis ini memang salah satu kendaraan khas di Medan. Tidak perlu mengayuh dengan capek, atau mendorong becak saat tanjakan, cukup menginjak persneling dan memutar gas. Wuzzz... becak bisa meluncur kencang.

Tiga perempuan yang saya sebut tadi melakoni pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap tidak lumrah: pekerjaan “kasar” dan “berat” yang biasanya hanya dilakukan oleh laki-laki. Perempuan bukan hanya dianggap tidak wajar apabila berprofesi di bidang ini, tetapi bahkan dalam beberapa kondisi dianggap sebagai aib. Tetapi negeri ini memang tak memberikan banyak pilihan. Pendidikan yang rendah, keterampilan yang terbatas, serta sumberdaya ekonomi yang lemah, tak mampu mengangkat harkat masyarakatnya. Apalagi untuk perempuan.

Bahkan untuk beberapa waktu dalam proses adaptasi mereka, para perempuan ini mengalami penghinaan baik nampak maupun tidak. Tapi manisnya, akhirnya mereka memperoleh penerimaan, bahkan dianggap sebagai “pahlawan” karena mampu mendobrak asumsi dan persepsi negatif di lingkungannya.

Begitu pula Suharto. Mantan atlet balap sepeda yang mengandalkan kekuatan kayuhan paha-betis-kaki ini akhirnya hanya mampu memanfaatkan potensinya itu, tidak sebagai pelatih, melainkan pengayuh becak. Hidup nomaden dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain, dan lalu harus istirahat total dari pekerjaannya karena menderita hernia. (http://www.smartnewz.info).

Perbandingan dalam pepatah “lain ladang lain belalang” juga muncul dan ramai dibicarakan pada awal tahun ini: tukang sampah dari inggris menjajal pekerjaan tukang sampah di Jakarta. Dalam sebuah tayangan bertajuk “Toughest Place to be a Binman” (Tempat Tersulit untuk Menjadi Tukang Sampah) yang disiarkan oleh BBC London telah menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama yang bermukim di Inggris. Ada yang berkomentar, ini contoh yang “memalukan” bagi para pejabat di Jakarta. Tapi tak jarang juga yang merasa terharu.

Wilbur dan Imam. Sumber: http://www.bbc.co.uk
Tersebutlah Wilbur Ramirez yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah di Inggris menjajal pekerjaan sejawatnya, Imam yang menjadi tukang sampah di Jakarta. Selama 10 hari Wilbur mengikuti kegiatan sehari-hari Imam, bahkan beberapa kali mencoba menggantikan pekerjaan Imam. Hasilnya, Wilbur tak kuasa menahan haru. Bagaimana mungkin Imam mampu mengerjakan pekerjaan semaha-berat itu: berkeliling menarik gerobak dengan tubuhnya dari rumah ke rumah, dibayar dengan gaji rendah, dan tanpa jaminan kesehatan? (http://oase.kompas.com

Hidup seperti Sisifus

Cerita tentang tukang becak dan tukang sampah ini menyadarkan saya bahwa hidup memang tak selalu menyediakan pilihan. Atau mungkin lebih tepatnya, hidup tak menyediakan pilihan yang sama bagi setiap orang. Seseorang, karena dilahirkan dan hidup di suatu tempat, dapat lebih berdaya untuk memilih kehidupan yang diinginkannya. Sementara sebagian yang lain tak berdaya dengan pilihan-pilihan terbatas yang ditawarkan.

Menjadi apapun kita, bekerja di bidang apapun kita, bagi saya, selalu saja kita seperti sisifus yang “dikutuk” Dewa untuk selalu menggotong batu ke atas bukit, kemudian menjatuhkannya kembali. Sisifus melakukannya berkali-kali, dan kita menyaksikan itu sebagai “kutukan” yang paling menyakitkan: Dewa menghukum Sisifus dengan keterbatasan pilihan.

Tapi Albert Camus dalam Mite Sisifus melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Mungkin bagi sebagian dari kita, Sisifus nampak sangat tersiksa dengan pekerjaan yang sia-sia itu, pekerjaan yang absurd. Tetapi bagi Camus, Sisifus sebetulnya bahagia. Ia melakukan konsekuensi yang telah ia pilih: menentang para dewa meskipun diganjar hukuman yang paling muskil. 

Perjuangan yang yang dilakukan oleh Sisifus itu sendiri, untuk mengangkat bongkahan batu ke atas bukit meskipun ketika di puncak ia jatuhkan lagi, sudah cukup untuk mengisi hati kita bahwa begitulah makna perjuangan hidup. Bukankah dengan tetap bertahan dan berjuang mempertahankan hidup jauh lebih mulia daripada bunuh diri?

Hari ini kita menyaksikan banyak orang telah menjelma “Sisifus Jam 7 Pagi” sebagaimana sajak Ook Nugroho. Mereka berangkat pagi-pagi, memenuhi panggilan para “Dewa” yang telah menjelma menjadi bos-bos berdasi. Mereka mungkin tak nampak menggotong bongkahan batu, tetapi wajah kusut dan kuyu tak mampu menyembunyikan bongkahan masalah yang mereka bawa, bahkan hingga larut malam menjadi pekerjaan rumah. Mereka seolah terbelenggu. Seperti kata Ook Nugroho dalam sajaknya: “Sampai tua. Sampai lupa buat apa ini semua” (Ook Nugroho, dalam http://syairsyiar.blogspot.com).

Kalau boleh mengamini Camus, mungkin memang sebaiknya kita tak melulu melihat Kastini, Mbah Pon, Dewi Rapika, atau Suharto sebagai Sisifus yang (hanya) tersiksa jika kita membandingkannya dengan kisah Frankie Legarreta atau Wilbur Ramirez. Adakalanya mereka memang menggotong batu masalah yang maha berat, tetapi dari perjuangannya itu kita tahu: mereka sedang berjuang mengisi hidup. Tidak dengan berdiam diri atau mengulurkan tangan di perempatan jalan, melainkan dengan bekerja. Begitulah mungkin sebaiknya kita memaknainya. Meskipun itu tidak berarti kita bersepakat atau mengamini keadaan yang ada.[]

Karnaval Pengetahuan Remy Sylado

Lukman S.

Sumber: http://aklahat.wordpress.com
Saya merasa perlu menulis semacam ulasan setelah membaca beberapa roman karya Remy Sylado sekurang-kurangnya karena dua hal. Pertama, karangannya selalu menarik (setidaknya dari 4 karya yang saya baca), baik dari segi tema maupun caranya bercerita. Kedua, pengarang yang satu ini (menurut pribadi saya) merupakan salah satu pengarang jenius, atau setidaknya mendekati jenius karena muatan pengetahuan yang diembankan dalam karya-karyanya begitu kuat (rodo lebay ki... hehe...). Artinya, ia tak hanya piawai mengarang jalannya cerita, juga persentuhan antar-tokohnya. Terlebih lagi, Remy amat pandai menyelipkan berbagai pengetahuan mulai dari sejarah, musik, kata dan muasal kata, atau puisi ke dalam jalan ceritanya.

Sebetulnya saya sudah pernah membaca karya Remy sebelum ini, yaitu Ca Bau Kan. Tapi terus terang saya sudah lupa detailnya. Ketika saya mencoba menghatamkan Kerudung Merah Kirmizi tempo hari, prosa yang diganjar Khatulistiwa Literary Award itu, saya lalu tertarik untuk membaca novel-novel lainnya. Jadilah saya kemudian membaca pula Parijs van Java, Kembang Jepun, dan terakhir kemarin Menunggu Matahari Melbourne.

Sebelum saya kemukakan beberapa hal yang saya anggap menarik dalam karya-karya Remy itu, saya harus katakan bahwa sebelumnya saya membaca novel lain dari pengarang yang lain juga, antara lain Perahu Kertas karya Dewi Lestari/Dee, kemudian Arok Dedes karya Pramoedya, dan Desersi karya MTH. Paralaer. Kenapa hal ini saya utarakan, karena ada beberapa simpulan yang saya peroleh dengan membandingkan antara karya-karya Remy itu dengan novel-novel lain yang saya baca dalam jeda yang tak berapa lama. Selain itu, mau tak mau harus saya akui, penilaian saya ini sedikit banyak terkontaminasi pula oleh bacaan novel-novel yang lain itu.

Baiklah, hal pertama yang ingin saya kemukakan adalah, bahwa dalam karya-karyanya, Remy menunjukkan kelasnya sebagai pengarang yang ulung, juga pengarang yang telah matang akan ilmu dan pengetahuan. Sangkaan ini dapat saya kemukakan melihat caranya yang berhasil dalam mengeksplorasi kisah cinta dengan berbagai alur cerita, tokoh, dan konteks sejarah, sosial, dan budaya para pelakunya yang begitu kaya. Sehingga dengan membacanya, kita tak hanya disuguhkan kisah menarik, njlimet, dan kadang sok misterius dari perjalanan cinta sang tokoh, tetapi yang tak kalah penting juga adalah sisipan dan selipan pengetahuan mengenai hal ihwal yang melatari kisah cinta tersebut.

Dalam empat novel yang saya baca, setidaknya ada beberapa karnaval pengetahuan yang coba disisipkan oleh Remy, yaitu pengetahuan mengenai sejarah (terutama sejarah kota), karnaval puisi dan lagu (terutama puisi dan lagu-lagu klasik), peribahasa (baik lokal/daerah, nasional, maupun mancanegara), serta tentu saja pemilihan diksi-diksi klasik.

Saya katakan “karnaval” karena tidak banyak pengarang yang menyengaja menyisipkan hal-hal semacam itu, dan sebab itu membaca karya Remy terkadang terasa ganjil. Misalnya, saya mulanya kurang sreg dengan tebaran cuplikan-cuplikan puisi Timur Tengah dalam percakapan antar-tokoh dalam Kerudung Merah Kirmizi. Begitu juga pameran judul dan bait-bait lagu klasik (yang tentu saja dari Barat) yang saya tidak kenal karena minimnya minat dan pengetahuan musik saya.

Tetapi sebaliknya, saya merasa sangat senang jika ada sisipan pengetahuan sejarah yang ia sematkan pada nama-nama bangunan (asal muasalnya), asal muasal sebuah bangsa, asal muasal bahasa dan diksi, dan lain-lain.

Dari karnaval pengetahuannya itu, saya menangkap kesan bahwa Remy adalah salah satu pengarang yang mencoba “memaksakan” kehendaknya (baca: pengetahuan) kepada khalayak pembacanya.

(Atau jangan-jangan memang setiap pengarang memiliki ciri demikian? Ah, sepertinya tidak, sebab ada juga pengarang yang tipenya nyelebritas, alias mengikuti maunya pembaca).

Yang amat tampak dan paling menarik bagi saya adalah pemilihan diksi-diksi klasik yang digalinya dan dituturkannya kembali ke dalam narasi kontemporer prosa-nya. Diksi-diksi klasik itu (semula saya mencatatnya, tetapi setelah lebih dari 50 kata saya jadi malas, hehe...) sebagian besar berasal dari bahasa Arab (bahasa yang semula banyak menginfiltrasi bahasa Melayu), selain juga dari bahasa Jawa serta bahasa daerah lainnya.

Ambil contoh misalnya “mustahak”, “azmat”, “nudub”, “misbah”, “mudigah”, dan lain-lain. Selain dari bahasa Arab, ada juga dari bahasa Jawa, misalnya “yuwana”, “nugraha”, “driya”, dan “prayojana”. Kata yang terakhir ini (saya tak tahu pasti apakah benar dari bahasa Jawa/Sansekerta) diusulkan dan dipraktekkan langsung ke dalam prosa-nya oleh Remy untuk mengganti kata berbahasa Inggris trend setter. (Untuk arti dari kata-kata yang lain mohon maaf saya tidak paham secara pasti, hehe).

Nah, pertanyaannya, ada apa gerangan kok Remy (dalam karya-karyanya itu) secara sengaja mengampanyekan diksi-diksi klasik tersebut?

Mungkin saja ini bagian dari eksplorasinya sebagai pengarang. Dan, tentu saja mungkin juga untuk menunjukkan kepiawaiannya memilih kemudian menyisipkan kata-kata klasik itu tanpa mengurangi kenyamanan menarasikan dialog atau jalan ceritanya. Dan memang, berbeda dengan kesan saya mengenai karnaval pengetahuan ihwal musik atau puisi, saya merasa kemunculan diksi-diksi “aneh” tersebut terasa lebih pas, meskipun itu tadi, saya juga tak mengetahui secara pasti, kecuali mereka-reka dari konteks kalimatnya.

Tetapi alasan yang lebih tepat menurut saya adalah visi kepengarangan Remy yang mengantarkan ia pada keyakinan untuk mengeksplorasi kata-kata klasik itu ke dalam karyanya. Maksud saya, ada dorongan untuk memaksakan kepada pembaca supaya memamah atau setidaknya membaui kata-kata yang saat ini sudah tak lazim lagi digunakan.

Sebagai seorang penafsir bahasa, dan juga praktikus (lawan dari kritikus) dalam mengarang puisi dan prosa, Remy nampak intens sekali memperjuangkan apa yang ia sebut sebagai estetika bahasa. Keindahan dalam cara menuturkan dan melafalkan bahasa. Dan ia, sebagai praktikus, memilih media puisi dan prosa dalam menerapkannya. Terasa benar dalam prosa-prosa yang saya sebut di muka tadi, caranya menyisipkan kata-kata klasik itu dalam tuturan yang kontemporer, menggelitik para pembacanya untuk mencari apa maknanya.

Tapi sayangnya, bukannya mempermudah, Remy malah membiarkan pembaca kebingungan sendiri. Ia tak menyajikan arti harfiah sebagai keterangan pelengkap. Coba saja ada semacam glosarium, mungkin itu akan mempermudah pembaca mengetahui secara pasti apa makna kata-kata klasik itu. Tapi sudah saya katakan tadi, Remy mungkin pengarang yang masuk tipe memaksakan kehendak, hehe... (jadi, jarke wae... hahahaha).

Di Antara Novel-novel (dari Pengarang) Lain

Sudah saya katakan bahwa sebelum membaca karya-karya Remy, saya telah membaca beberapa novel lain. “Telah membaca” di sini maksudnya jeda antara membaca novel-novel lain dengan novel-novel Remy tak begitu lama, sehingga kesan masing-masing novel masih cukup kuat membekas. Dan apa yang telah saya kemukakan, sedikit banyak merupakan perbandingan juga dengan novel-novel dari pengarang lain itu. Namun demikian, ada beberapa perbandingan kecil antara karya Remy dengan novel lainnya yang dapat saya tambahkan di bawah ini.

Pertama dengan Perahu Kertas. Novel ini juga bercerita tentang “cinta sejati”, dan sama-sama dibuat dengan alur agak njlimet. Tetapi, tentu saja, karena konteks cerita yang dibuat Dee adalah kekinian (sekitar tahun 2000an), maka pengetahuan sejarah yang disisipkannya amat minim. Begitu juga dengan pilihan-pilihan diksinya, tidak banyak (atau malahan mungkin tidak ada) diksi klasik yang dituturkan kembali di dalam Perahu Kertas.

Kendati dua hal ringkas ini seolah-olah menyurukkan penilaian saya atas Perahu Kertas, namun sejatinya novel yang satu ini tetap memiliki kesan tersendiri bagi saya : Dee memang penulis handal! Caranya bercerita, selain bagus dan kadang kocak, juga makin meneguhkan apa yang pernah ditulis oleh Goenawan Mohamad dalam pengantar Filosofi Kopi, bahwa Dee adalah tangkisan, tangkisan atas anggapan sastrawangi (sastra yang mengumbar selangkangan belaka). Ya, kesimpulan ini menutup pembacaan saya atas Perahu Kertas, bahwa Dee dengan cantik menghindari pengumbaran seks di dalam karyanya (bandingkan misalnya dengan pengarang perempuan lainnya).

(Apakah karena ia seorang penganut Buddha dan pelaku olah Yoga yang niscaya memiliki ketenangan batin sehingga mendorongnya melahirkan tulisan yang “resik”? entahlah...).

Kedua dengan Desersi. Desersi ini oleh Paralaer, pengarangnya, disebut sebagai ethnograpische roman, maksudnya roman berlatar etnografis. Dan benar, latar cerita di Pulau Kalimantan dipenuhi dengan berbagai macam informasi mengenai alam, sejarah, dan budaya masyarakat lokal Kalimantan (terutama Dayak dan kemudian juga Melayu). Kesamaannya dengan Remy, menurut saya, caranya merangkum apa yang diketahui dan ingin ditularkan kepada pembacanya sama-sama piawai. Tentu saja informasi tersebut didapat dengan jalan riset; Remy mungkin riset pustaka, sementara Paralaer riset lapangan karena ia bekas tentara Belanda.

Dengan imbuhan berbagai pengetahuan itu, lagi-lagi dapat dikampanyekan bahwa dengan membaca novel kita tidak hanya dapat meresapi alur cerita dan karakter tiap-tiap tokohnya, melainkan juga memperoleh pengetahuan tambahan berdasarkan konteks cerita. Dalam hal ini, saya mencoba membandingkan apa yang pernah saya anggap sangat membosankan dalam pelajaran Sejarah semasa sekolah menengah, yaitu menghafal. Sebagai anak dengan bakat pelupa, tentu saja menghafal adalah momok. Jangankan tahun-tahun penting, nama-nama tokoh dan pelaku sejarah lokal, nasional, atau bahkan dunia saya sering lupa.

Tetapi dengan membaca novel, kita dapat menyisipkan pengetahuan sejarah tertentu dengan mudah dalam ingatan kita, sebab ada kesan khusus yang mampu memperkuat ingatan tersebut. Ambil misal, setelah membaca trilogi Rara Mendut-nya Romo Mangun, selain tentu saja dapat meresapi keganasan Sultan Agung dan kebiadaban Amangkurat, kita dapat segera tahu (meskipun sedikit) tentang sejarah Mataram Islam.

Dan jika ingin menyelidiki lebih jauh (ini biasanya langkah berikutnya dari seorang korban penasaran karena membaca novel), si pembaca dapat mencari info lebih jauh tentang sejarah (misalnya dari buku lain atau dengan mengunduh harta karun mbah Google), atau bisa juga berkunjung ke situs-situs yang diulas dalam cerita (kebetulan saya pernah ke kompleks Plered bersama Iid dan Arya untuk napak tilas, meskipun hanya menjumpai puing-puing masjid dan makam Ratu Malang yang mengenaskan, hehe...). Sumpah! Dengan cara macam ini, pelajaran sejarah jadi tak membosankan, hehe...

Nah, terakhir antara Pram dan Remy... Hal pertama yang membedakan karya-karya yang dihasilkan oleh dua pengarang ini adalah tema cerita. Pram, menurut saya, selalu mengetengahkan kisah-kisah yang bertitik tolak pada persoalan kemanusiaan. Sementara Remy, dari beberapa novel yang saya sebut tadi selalu ingin mengolah cerita mengenai relasi percintaan. Ujung-ujungnya adalah menemukan cinta sejati!

Lantas, apakah cinta bukan persoalan kemanusiaan? Memang, cinta juga merupakan persoalan kemanusiaan, dan sebaliknya dalam banyak persoalan kemanusiaan yang dikisahkan Pram tak jarang juga menampilkan kisah percintaan. Tetapi, menurut saya pribadi, ada titik tekan atau pelatuk yang berbeda antara visi kepengarangan Pram dan Remy, bahwa Pram kentara berpihak kepada kemanusiaan, apapun dan bagaimanapun caranya (baik melalui cerita tentang relasi percintaan, relasi anak-bapak, relasi tuan-gundik, dan lain-lain), sementara Remy kebanyakan berkutat pada ihwal menemukan cinta sejati (meskipun di dalamnya juga diketengahkan persoalan-persoalan kemanusiaan yang lain).

Nah, sebagai sesama kampiun, tidak usah disebutkanlah jika keduanya juga piawai memanfaatkan dan menafsirkan sumber sejarah, serta memaksimalkan pengetahuan bahasa mereka ke dalam cara bertutur prosanya.

Kesimpulan tentang perbedaan titik tolak cerita Pram dan Remy tersebut turut mempengaruhi jawaban saya jika ada pertanyaan apakah lebih bagus Pram atau Remy. Tentu pribadi saya menjawab Pram. Tetapi itulah, jawaban Pram yang mendahului Remy tidak membuat gugur penilaian saya bahwa Remy juga amat sangat piawai. Artinya, saya akan tetap tertarik membaca karya Remy yang lain, hehe...

Demikianlah, tulisan ini mungkin lebih banyak promosinya ketimbang telaah kritis atas karya. Supaya jika ada yang belum membaca karya Remy, monggo dipun diwoco... hehe... Maaf... Namanya juga pembaca biasa yang tidak pernah belajar analisis sastra. Namanya juga iseng... hehe...

Akhirul kalam... wallahua’lam...

[membaca-menulis apa saja dalam masa menunggu kepastian:]