Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Menyingkap Holocaust yang Terlupakan


Lukman Solihin
 
Sejarah tak hanya mencatat sesuatu yang heroik dan romantik. Sejarah (seharusnya) juga merekam dan mewartakan cerita pedih, sepedih tragedi Nanking.

Kalau bukan karena cerita memilukan yang dikisahkan orang tuanya, boleh jadi Irish Chang takkan pernah tahu riwayat salah satu tragedi terbesar di zaman modern itu. Bertahun-tahun cerita pembantaian penduduk Kota Nanking oleh balatentara Jepang berkelebat saja sebagai bagian dari imajinasi masa kecilnya. Orang tuanya yang selamat dari peristiwa itu, hidup menggelandang dari daratan China menuju Taiwan, kemudian ke Amerika Serikat—tempat Chang dibesarkan dan meniti karier sebagai jurnalis dan penulis profesional.

Tetapi, kisah tragis Nanking ternyata tak banyak dicatat sejarah. Buku-buku babon tentang sejarah PD II, seperti Memoirs of the Second World War karangan Winston Churchill, atau Second World War karangan Gerhard Weinberg sama sekali tidak memuat keterangan tentang tragedi Nanking. Memori masa kanak-kanak itu kembali mencuat saat Chang menghadiri sebuah koferensi Aliansi Global untuk Melindungi Sejarah Perang Dunia II di Asia tahun 1994, yang memamerkan foto para korban tragedi Nanking yang disebutnya “foto-foto terkejam yang pernah kulihat dalam hidupku”.

Walaupun ia telah begitu sering mendengar cerita kekejaman Nanking dari orang tuanya, toh Chang tetap syok menatap gambar-gambar seukuran poster yang memotret jelas kekejaman itu: gambar hitam putih kepala-kepala yang dipenggal, perut-perut menganga, wanita telanjang yang dipaksa berpose dengan berbagai gaya, juga gambar wanita-wanita yang tewas sehabis diperkosa dan dianiaya dengan bayonet atau tongkat yang menghujam beberapa titik pada tubuhnya.

Lantas, mengapa pembantaian yang diperkirakan menewaskan sekira 300.000 jiwa dalam waktu (hanya) enam Minggu dan 80.000 di antaranya diperkosa dengan sadis, tidak tercatat secara gamblang dalam sejarah—yang artinya tidak diketahui secara luas oleh masyarakat dunia? Dalam penyelidikannya, Chang kemudian tahu, bahwa pemerintah Jepang secara sistematis menyembunyikan tragedi itu. Negara adidaya seperti Amerika pun merasa tak memiliki kepentingan khusus untuk menguaknya, karena pasca-PD II, Jepang merupakan sekutu Amerika untuk melawan penetrasi komunisme di Asia.

Kondisi tersebut memotivasi Chang untuk mengadakan riset mendalam tentang sejarah pembantaian Nanking. Hasil riset itulah yang kemudian dipublikasikan dengan judul The Rape of Nanking: The Forgotten Holocaust of World War II (buku terjemahan yang diterbitkan Penerbit NARASI berjudul sama, dengan anak judul: Holocaust yang Terlupakan dari Perang Dunia Kedua).

Secara eksplisit Chang memang menyamakan tragedi ini dengan pembantaian Yahudi yang dilakukan NAZI di bawah Hitler. Bagi Chang, meskipun holocaust merupakan tragedi terbesar pada masyarakat modern (menewaskan sekitar 6 juta orang Yahudi), namun kekejaman itu dilakukan dalam rentang enam tahun. Bandingkan dengan kekejaman tentara Jepang yang membantai ratusan ribu penduduk Kota Nanking dalam tempo enam minggu.

Holocaust Enam Minggu

Sebelum jatuh ke tangan Jepang, Nanking atau Nanjing adalah ibukota kaum nasionalis yang diresmikan oleh Chiang Kay-shek pada 1928. Setelah tentara Jepang menundukkan Shanghai pada November 1937, tentara Jepang mulai merangsek menuju Nanking. Berbeda dengan Shanghai yang ditundukkan dengan susah payah, Nanking dapat ditaklukkan hanya dalam empat hari (pada 12 Desember 1937 malam).

Jatuhnya Kota Nanking ternyata menimbulkan dilema bagi tentara Jepang. Penaklukan dengan mudah kota ini menyisakan persoalan pelik: tawanan dengan jumlah ratusan ribu orang (melampaui berkali-lipat jumlah tentara Jepang sendiri). Pada masa perang, tawanan adalah beban, karena itu harus disingkirkan. Pangeran Asaka Yasuhiko, paman Kaisar Hirohito yang memimpin tentara Jepang di Nanking kemudian mengirim kawat perintah: “Rahasia, segera hancurkan”. Ada logika tak berperasaan dalam perintah ini. Para tawanan tak dapat diberi makan, sehingga mereka harus dilenyapkan. Di samping itu, membunuh mereka tak hanya mengeliminasi masalah pangan, tetapi juga mengurangi kemungkinan pemogokan dan pemberontakan.

Perintah ini dilaksanakan secara sistematis oleh balatentara Jepang. Puluhan ribu orang dibariskan di tepian sungai Yangtze, mereka dipenggal atau ditembak dengan senapan mesin. Seorang koresponden Jepang, Imai Masatake, menyaksikan adegan memilukan itu. Mayat-mayat yang berlumuran darah, ditimbun setinggi puluhan meter, menyerupai sebuah bukit. Tawanan yang masih hidup diperintahkan memindahkan satu per satu mayat ke tepian sungai. Mereka bekerja dalam diam, mengangkat mayat saudara sebangsa mereka sendiri, seperti pantomim. Setelah para tawanan itu menyelesaikan pekerjaannya, para serdadu Jepang menyuruh mereka berbaris di sepanjang tubir sungai. Dan... “Rat-tat-tat senapan mesin terdengar. Para kuli itu pun roboh dan tertelan arus sungai. Pertunjukan pantomim pun usai” (hlm. 57).

Tetapi, praktik membunuh dengan “cara biasa“ juga memiliki titik kebosanan. Sebab itu, metode baru yang lebih “menyenangkan” pun diterapkan: perlombaan memenggal kepala terbanyak! Seperti diberitakan oleh Japan Advertiser, dua letnan muda Jepang berlomba memenggal seratus kepala tawanan Cina. Kontes itu diberitakan dengan bersemangat, seolah-olah perlombaan menjadi pembunuh tercepat adalah hiburan.

Para perempuan, dari anak-anak hingga nenek-nenek, adalah tawanan yang paling mengenaskan. Tentara-tentara Jepang tidak sekadar memerkosa mereka, tetapi juga mengiris perut, memotong payudaranya, atau memakunya di dinding. Bahkan yang menyedihkan, para tentara memaksa bapak-bapak memerkosa anak mereka, atau anak-anak memerkosa ibu mereka.

Membaca The Rape of Nanking, kita memang dihadapkan pada potret horor perilaku manusia. Chang mencoba menjawab pertanyaan mengapa tentara Jepang begitu brutal dengan menelusuri jejak ideologi yang ditanamkan pada mereka. Jawabannya mengerucut pada etika bushido, yakni prinsip setia dan berani mati ala kesatia Jepang (samurai). Prinsip ini ditetapkan sebagai prinsip moral bagi seluruh warga negara, di samping prinsip mengabdi untuk sang kaisar. Prinsip inilah yang menggetarkan militer lawan karena tentara Jepang dikenal sebagai tentara berani mati (kamikaze).

Sebagaimana NAZI yang mengembangkan ideologi ras unggul, Jepang pun membangun ideologi sebagai ras super yang “ditakdirkan menguasai Asia”. Paham ini rupanya menistakan ras-ras lain untuk membangun rasa percaya diri bangsanya. Ada tiga tingkat pemahaman yang diutarakan oleh Chang berkaitan dengan hal ini. Menurutnya, etika bushido telah memosisikan kaisar sebagai satu-satunya manusia teristimewa, dan orang Jepang sebagai manusia unggul di bawahnya. Sedangkan orang Cina, yang menjadi pesaing dalam satu kawasan, dianggap sebagai bukan manusia. Pemahaman ini rupanya terpatri betul dalam benak tentara Jepang. Seorang tentara Jepang, Azuma Shiro menulis dalam diary-nya: “Sekarang seekor babi lebih berharga daripada nyawa seorang Cina. Itu karena babi dapat dimakan” (hlm. 267).

Tentara Jepang pun dilatih untuk terbiasa berbuat kejam. Membunuh dengan obyek tawanan yang masih hidup merupakan latihan biasa. Latihan membunuh ini merupakan metode untuk menghilangkan rasa takut dan kasihan (rasa kemanusiaan yang paling asasi). Dengan begitu, mereka diproyeksikan sebagai mesin pembunuh, sehingga kekejaman-kekejaman yang dilakukan tak lagi terasa “istimewa”, tetapi banal.

Banalitas kejahatan, meminjam konsep Hannah Arendt, berlangsung dengan pola instruksi yang tak dapat dibantah. Para pelakunya tak dapat menalar apakah perbuatan yang diperintahkan itu layak demi kemanusiaan atau tidak. Sebab, dalam kasus tragedi Nanking, para tentara memang dilatih untuk “mati rasa dan mati nalar”. Mereka melakukan kejahatan bukan karena mereka “monster”, melainkan karena dorongan dan perintah dari luar dirinya. Itulah salah satu manifestasi dari kekuasaan totaliter, yang mana kekuasaan dikendalikan memusat dengan pembenaran-pembenaran ideologis, seperti etika bushido dan ras unggul ala Jepang.

Kita dapat belajar dari tragedi Nangking. Upaya membongkar dan mengakui sejarah kelam merupakan salah satu cara mengambil hikmah dari masa lalu. Seperti ungkapan abadi filsuf George Santayana: “Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalunya akan cenderung mengulanginya.” []

* Diterbitkan oleh Media Indonesia, 26 September 2009
_________________________
Judul               : The Rape of Nanking: Holocaust yang Terlupakan dari Sejarah Perang Dunia Kedua
Penulis            : Irish Chang
Penerjemah    : Febiola Reza Wijayani
Penerbit          : Narasi, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, 2009
Tebal                : xii + 404 halaman

Pram Menafsir Arok dan Saya (mencoba) Menafsirkannya Lagi

Lukman S.
Dulu sebetulnya saya sudah pernah membaca Arok Dedes-Pram. Tapi waktu itu memang masanya berbeda, intensinya juga berbeda, sehingga yang saya tangkap sekadar kepiawaian Pram bercerita secara memikat dengan –tentu saja- pemanfaatan sumber sejarah yang begitu kuat.
Dan, saat sekarang saya mencoba membaca lagi buku setebal 418 halaman itu, bukan lagi di Jogja, melainkan di Jakarta, dengan suasana yang berbeda, dan waktu luang yang sangat cukup untuk “kejar target”, ternyata impresi yang saya tangkap sungguh amat mengesankan.
Ya, pembacaan kedua atas sebuah teks niscaya bakal menghasilkan kesimpulan yang tak sama, setidaknya ada tambahan-tambahan simpulan baru yang tak kalah menakjubkannya dari pembacaan yang pertama. Mungkin, suasana dan tenggat waktu membaca (di mana ketika membaca teks yang pertama dan kedua ada asupan-asupan pengetahuan lain), dan faktor-faktor lain yang entah apa saja, cukup mempengaruhi cara kita memandang dan menilai sebuah teks.
Baiklah, tiga paragraf di atas sekadar ingin bilang bahwa pembacaan saya yang pertama pada Arok Dedes dulu, ketika masih kuliah, degan sekarang yang “kebetulan” sedang menganggur, menambah beberapa kesimpulan baru yang menurut saya penting untuk saya ulas.
Secara tak sengaja, di tempat penyewaan buku di dekat rumah, yang juga menjadi tempat saya menyewa Arok Dedes itu, saya menemukan buku proyek Depdikbud berjudul Seri Penerbitan Sejarah Peradaban Manusia: Zaman Singasari. Ya, betul-betul kebetulan, sebab secara tak sengaja saya mengalihkan pencarian ke rak cerita anak-anak dan menemukan buku setebal 24 halaman itu. Penyusun utamanya (juga ditulis di dalam kurung sebagai pemegang Hak Cipta) adalah Y. Achadiati S.
Maksud saya, melalui kebetulan ini, saya mendapat beberapa hal penguat bagi kesimpulan-kesimpulan saya mengenai cerita yang dikarang Pram. Sebab versi Achadiati adalah versi ilmiah dari seorang ahli sejarah kuno (juga arkeolog), sementara versi Pram adalah versi seorang sastrawan.
Saya tidak sedang ingin bilang bahwa Achadiati lebih ilmiah, atau lebih betul, sedangkan versi Pram lebih fiktif dan sudah tentu keliru. Alih-alih demikian, saya malahan ingin menunjukkan apa yang jarang dimanfaatkan oleh para ilmuan, yaitu imajinasi dan daya keratif penafsiran. Tentu saja, kaidah-kaidah ilmiah juga turut serta menutup kemungkinan penafsiran yang terlampau “kreatif”, maksudnya melebihi kesimpulan yang dapat diajukan dari data dan fakta yang ditemukan.
Achadiati bercerita tentang Arok dan wangsa Rajasa (raja-raja keturunan Arok) karena ia membaca babad Pararaton dan babad Kertanegara, juga prasasti-prasasti kuno. Karena alasan batasan obyektivitas dan kerangka metode ilmiah, maka ia tak bisa menggunakan kemampuan lain: imajinasi dan daya kreatif penafsiran. Oleh sebab itu, detail cerita yang mampu diulas sangat terbatas, sesuai dengan pengetahuan awam kita melalui cerita rakyat mengenai sosok Arok dan Dedes. Bahwa Arok adalah seorang bandit keturunan jelata (yang konon merupakan titisan Brahma), perampok dan penjudi yang kemudian mengabdi di Tumapel, dan karena menyaksikan (maaf) selangkangan Dedes mengeluarkan sinar pertanda perbawa, ia kemudian membunuh majikannya untuk mendapatkan Dedes.
Berbeda penafsiran yang dilakukan Pram, dan ini yang biasa dilakukan oleh para prosa-wan, yaitu (meminjam perkataan Umar Kayam) menciptakan dunia alternatif sendiri dalam cerita. Dan Pram (inilah kelihaian yang saya maksud) mampu menafsirkan cerita Arok yang berbau mitos menjadi mengada dalam konteks sosial politik pada jamannya.
Bercerita melalui prosa membuat Arok begitu hidup. Dan sebagai konsekuensinya, Arok sebagai seorang tokoh pembangkang diletakkan pada sebuah konteks sosial dan politik, juga percaturan agama, serta jalan cerita yang dibuat mengalir sesuai logika khas Pram: bahwa politik ditempuh dengan jalan yang rumit. Politik adalah bagaimana cara memperoleh dan memainkan kekuasaan. Tidak dengan cara mistis memesan keris sakti lalu menggunakannya untuk membunuh.
Perebutan tahta sebagai Akuwu Tumapel oleh Arok dari Tunggul Ametung tidak ditafsirkan oleh Pram sebagaimana cerita awam: melalui pembunuhan dengan keris buatan Empu Gandring. Kematian Empu Gandring, dalam cerita karangan Pram, hanya satu bagian saja, hanya titik puncak dari sebuah rencana pemberontakan yang disusun matang oleh seorang calon pemimpin berbakat yang didukung oleh kondisi sosial dan politik pada masanya. Sungguh tidak dapat dinalar jika Arok dengan begitu saja memesan keris sakti, lalu menusukkannya ke punggung Tunggul Ametung, kemudian berhasil meraih kekuasaan dengan mengawini si cantik Dedes.
Tidak. Bagi Pram, setiap pemberontakan dimulai dengan persiapan matang. Dan keris yang dipesan kepada Empu Gandring tidak dimaknai oleh Pram sebagai memesan keris, melainkan senjata. Gaman tidak dimaknai sebagai senjata yang sakti mandraguna, melainkan alat perang yang riil: senjata berjumlah ribuan untuk berperang melawan tentara Tumapel.
Ya, Arok memesan senjata tombak tangan, tombak panjang, dan pedang yang berjumlah ribuan untuk pasukannya. Itulah mengapa sebuah pemberontakan terhadap Tunggul Ametung, kemudian seterusnya kepada kekuasaan Kertajaya di Kediri dapat berhasil, dan mampu mendaulat Arok sebagai Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, raja pertama Kerajaan Singosari yang kelak menurunkan pula raja-raja masa Majapahit.

Agama dan Agamawan
Selain menyusun kekuatan tentara yang terpercaya dari kalangan masyarakat bawah, Arok juga memperoleh dukungan dari kaum agamawan, yakni kaum Brahmana yang notabene merupakan kasta tertinggi dalam agama Hindu. Lantas mengapa kaum Brahmana mendukung tokoh muda yang tak jelas asal usulnya ini? Bukankah dalam kepercayaan Hindu klasik di Jawa, kasta adalah suatu lingkaran yang sulit ditembus?
Menjawab ini, Pram secara khusus mengistilahkan Arok sebagai Satria yang berasal dari kaum Sudra, dan berhati Brahmana (itu karena pengetahuan keagamaannya telah mumpuni setelah berguru kepada Dang Hyang Lohgawe). Ya, dalam satu sosok pemimpin masa depan itu bersatu tiga representasi golongan, yang memungkinkan keberadannya diterima dan didukung oleh lingkungan sosial politik pada masanya.
Selain itu, kaum agamawan memiliki alasan khusus mengapa mendukung Arok. Arok adalah jawaban atas perjuangan bawah tanah kaum Brahmana yang selama ratusan tahun peranannya telah diminimalkan. Ya, sejak Sri Baginda Erlangga (pendiri Wangsa Isyana)  munggah tahta, hingga masa Kertajaya di Kediri pada masa Arok, pemujaan terhadap leluhur yang dianggap titisan dewa (diperdewakan) kian marak, sehingga mulai menggusur pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa (dewa tertinggi menurut kaum Brahmana). Selain pemujaan kepada leluhur, pemujaan terhadap Wisnu, dewa pujaan kaum tani dan para Satria, menggantikan pemujaan terhadap Siwa dan syaktinya (istri), Dewi Durga. Arca Erlangga dapat kita lihat sebagai titisan Wisnu berupa burung Garuda (saat ini digunakan sebagai lambang UNAIR). Arca ini konon dahulu juga disembah oleh keturunan dan rakyatnya sebagai dewa.
Kaum Brahmana melihat pergeseran kepercayaan ini sebagai “pemurtadan” dari ajaran Hindu, sehingga harus diluruskan. Dan pelurusan ajaran tak dapat tidak harus dengan merebut kekuasaan. Nah, di sinilah agama dan agamawan tidak berdiri di dalam ruang kedap suara. Agama dan agmawan adalah pendukung dan pembangkang langsung dalam kancah politik.
Selain agama dalam kancah politik, cerita Arok Dedes juga menyajikan sesuatu yang menyadarkan saya betapa kesimpulan ilmiah kadang menggelapkan mata kita tentang sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Maksud saya, ini soal kerukunan agama yang oleh para ahli sejarah kuno, juga arkeolog, ketika menafsirkan prasasti-prasasti serta menafsirkan keberadaan dan posisi candi-candi baik Hindu, Buddha, atau antara pemuja Siwa dan Wisnu yang saling bersinggungan dan berdekatan dianggap sebagai representasi kerukunan antar-agama. Kita lupa, dan mungkin tak pernah terbersit lagi dalam pikiran kita, bahwa permusuhan antar-agama, atau antar sekte di dalam satu agama juga sangat mungkin terjadi pada masa lalu.
Ini kesimpulan kreatif yang (sejauh ini) tidak saya peroleh dari analisis ilmiah. Pram menunjukkan, bahwa antara Buddha dan Hindu, bahkan antara penganut Siwa dan Wisnu di dalam satu agama Hindu sendiri terjadi pertentangan yang sangat serius. Tunggul Ametung dan Kertajaya (Raja kediri) menganut Hindu, tetapi aliran Wisnuisme. Sementara Arok dan kaum Brahmana yang mendukungnya bermaksud ingin mengembalikan kejayaan Siwaisme.
Ya, sejak agama-agama belum sampai di Nusantara, setiap suku hampir pasti mengembangkan kepercayaan lokal masing-masing. Dan setelah agama-agama datang (meminjam istilah Achadiyati), kebudayaan yang makin halus mulai muncul. Begitu juga tatanan sosial makin mantap, dengan garis demarkasi yang jelas dengan kebudayaan sebelumnya: agama membedakan antara manusia beradab dan tidak.
Tetapi melalui cerita-cerita yang dirajut Pram kita tahu, agama-agama juga berkait-kelindan dengan politik: agama turut serta dalam mengukuhkan kekuasaan atau menolaknya.
Di sini nampak apa yang terakhir ingin saya sampaikan : bahwa mengarang ala Pram, adalah menafsirkan sejarah untuk kepentingan bangsanya. Proses kepengarangan tidak dilakukan sesuka hati: mengarang untuk kepuasan pengarang. Mengarang adalah kerja literer untuk membangun jiwa bangsanya. []

Tukang Becak : Yang Bebas dan Yang Terpaksa Memilih

Lukman S. 

Pertengahan Februari lalu kami liburan ke Jogja. Sampai di Stasiun Tugu, kami sengaja tidak memilih taksi untuk pergi ke hotel, melainkan mencoba bernostalgia dengan menumpang becak. Si Chiya, anak kami, girang bukan main karena setelah sekian lama, baru kali itu dia merasakan kembali pengalaman naik becak. Dulu waktu kami masih bermukim di Jogja, di akhir pekan, sering kami menyewa becak mini yang disewakan di Alun-Alun Kidul. Rasanya asyik berkeliling alun-alun dengan becak mini itu.

Belum lama ini, teman saya berkesempatan pergi ke New York dalam rangka memenuhi tanggungan kerjanya. Dia sempat berfoto saat naik becak di sana. Saya akhirnya tahu, di New York ada becak (pedicab) juga. Lalu kira-kira, apa bedanya ya para penarik becak di New York dengan di Indonesia?

Kalau merujuk kepada peribahasa mungkin salah satu jawabannya adalah TEMPAT. Katanya: Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya. Meskipun profesinya sama, tetapi karena berada dan dilakukan di tempat yang berbeda, maka berbeda pula nilanya, berbeda pula cara kita melihatnya.

Frankie Legarreta. Sumber: http://www.voaindonesian.com
Mari kita bandingkan cerita “bosan jadi pegawai” sebagaimana judul acara di salah satu televisi di Indonesia ini. Seorang pekerja kantoran merasa bosan bekerja di dalam ruangan berpenyejuk udara, dibatasi geraknya oleh ruang, dan tak memiliki banyak waktu luang. Membosankan. Ia lalu membebaskan diri dengan cara yang menurut sebagian besar rakyat Indonesia tidak lazim: menjadi tukang becak.

Tapi tunggu dulu. Ini adalah pilihan yang dilakukan oleh Frankie Legarreta, seorang warga Manhattan yang telah mengayuh becak selama enam tahun ini di seputar Central Park, New York. Pilihan pekerjaannya cukup unik, terkesan “out of the box”, sehingga  ia layak diberitakan oleh VOA dengan tajuk “Kisah Seorang Penarik Becak di Kota New York” (3 April 2012).

Tentu saja, ini bukan keputusan tergesa karena tanpa pilihan seperti dilakukan oleh banyak penarik becak di negeri ini, sebut saja Kastini (seorang Ibu penarik becak di kd ota Tuban), atau Mbah Pon atau Ponirah (ibu penarik becak di Bantul, Yogyakarta), Dewi Rapika (ibu penarik becak motor di Medan), atau bahkan Suharto (mantan atlet balap sepeda yang pernah menyumbangkan medali emas pada SEA Games 1979 yang juga membecak).

Pekerjaan Frankie menjadi menarik karena profesi yang dilakukannya dianggap “lain” tapi dalam makna yang positif. Pekerjaan ini bukan profesi seperti sopir taksi yang mengendari kendaraan beroda empat dengan ruangan tertutup dan berpenyejuk udara seperti banyak berseliweran di pusat keramaian di New York. Pekerjaan ini menguras tenaga, keringat, dan semangat untuk menembus kebuntuan dan kemacetan kota New York dengan cara yang mengasyikkan.

Frankie merasa bahwa inilah pilihan yang tepat untuk dirinya: kebahagiaan yang didapat dengan cara berolahraga, memperoleh imbalan, bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, dan berbagi cerita tentang New York kepada para wisatawan yang menggunakan jasanya. Ia mampu memilih dan lalu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ia menikmati pekerjaan itu karena itulah yang diinginkannya.

Tidak demikian dengan Kastini, Mbah Pon, Dewi Rapika, atau Suharto. Mereka semua menarik becak karena keterpaksaan: pilihan yang dilakukan karena tak ada pilihan lain. Misalnya saja Kastini (45 th), ibu dari 7 anak, dan sudah lebih dari 15 tahun mengayuh becak untuk memperoleh nafkah. Ia kerap kali mangkal di Terminal Wisata Makam Sunan Bonang, Tuban (http://metrotvnews.com).

Mbah Ponirah. Sumber: http://rezco.wordpress.com
Pun demikian dengan Mbah Pon atau Ponirah (57 th) yang sudah lebih 22 tahun menarik becak di daerah Bantul, Yogyakarta. Perempuan yang satu ini dianggap sebagai “Perempuan Perkasa”, pernah menjadi bintang iklan minuman berenergi yang juga dibintangi almarhum Mbah Maridjan, dan tetap bertahan bahkan bangkit dari musibah gempa bumi yang merontokkan rumah dan memusnahkan ternak bebeknya (http://rezco.wordpress.com).

Agak berbeda dengan Kastini dan Mbah Pon, Dewi Rapika tidak mengayuh pedal becak, melainkan menggunakan becak motor (bentor/bemor) (http://berita.liputan6.com). Becak jenis ini memang salah satu kendaraan khas di Medan. Tidak perlu mengayuh dengan capek, atau mendorong becak saat tanjakan, cukup menginjak persneling dan memutar gas. Wuzzz... becak bisa meluncur kencang.

Tiga perempuan yang saya sebut tadi melakoni pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap tidak lumrah: pekerjaan “kasar” dan “berat” yang biasanya hanya dilakukan oleh laki-laki. Perempuan bukan hanya dianggap tidak wajar apabila berprofesi di bidang ini, tetapi bahkan dalam beberapa kondisi dianggap sebagai aib. Tetapi negeri ini memang tak memberikan banyak pilihan. Pendidikan yang rendah, keterampilan yang terbatas, serta sumberdaya ekonomi yang lemah, tak mampu mengangkat harkat masyarakatnya. Apalagi untuk perempuan.

Bahkan untuk beberapa waktu dalam proses adaptasi mereka, para perempuan ini mengalami penghinaan baik nampak maupun tidak. Tapi manisnya, akhirnya mereka memperoleh penerimaan, bahkan dianggap sebagai “pahlawan” karena mampu mendobrak asumsi dan persepsi negatif di lingkungannya.

Begitu pula Suharto. Mantan atlet balap sepeda yang mengandalkan kekuatan kayuhan paha-betis-kaki ini akhirnya hanya mampu memanfaatkan potensinya itu, tidak sebagai pelatih, melainkan pengayuh becak. Hidup nomaden dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain, dan lalu harus istirahat total dari pekerjaannya karena menderita hernia. (http://www.smartnewz.info).

Perbandingan dalam pepatah “lain ladang lain belalang” juga muncul dan ramai dibicarakan pada awal tahun ini: tukang sampah dari inggris menjajal pekerjaan tukang sampah di Jakarta. Dalam sebuah tayangan bertajuk “Toughest Place to be a Binman” (Tempat Tersulit untuk Menjadi Tukang Sampah) yang disiarkan oleh BBC London telah menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama yang bermukim di Inggris. Ada yang berkomentar, ini contoh yang “memalukan” bagi para pejabat di Jakarta. Tapi tak jarang juga yang merasa terharu.

Wilbur dan Imam. Sumber: http://www.bbc.co.uk
Tersebutlah Wilbur Ramirez yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah di Inggris menjajal pekerjaan sejawatnya, Imam yang menjadi tukang sampah di Jakarta. Selama 10 hari Wilbur mengikuti kegiatan sehari-hari Imam, bahkan beberapa kali mencoba menggantikan pekerjaan Imam. Hasilnya, Wilbur tak kuasa menahan haru. Bagaimana mungkin Imam mampu mengerjakan pekerjaan semaha-berat itu: berkeliling menarik gerobak dengan tubuhnya dari rumah ke rumah, dibayar dengan gaji rendah, dan tanpa jaminan kesehatan? (http://oase.kompas.com

Hidup seperti Sisifus

Cerita tentang tukang becak dan tukang sampah ini menyadarkan saya bahwa hidup memang tak selalu menyediakan pilihan. Atau mungkin lebih tepatnya, hidup tak menyediakan pilihan yang sama bagi setiap orang. Seseorang, karena dilahirkan dan hidup di suatu tempat, dapat lebih berdaya untuk memilih kehidupan yang diinginkannya. Sementara sebagian yang lain tak berdaya dengan pilihan-pilihan terbatas yang ditawarkan.

Menjadi apapun kita, bekerja di bidang apapun kita, bagi saya, selalu saja kita seperti sisifus yang “dikutuk” Dewa untuk selalu menggotong batu ke atas bukit, kemudian menjatuhkannya kembali. Sisifus melakukannya berkali-kali, dan kita menyaksikan itu sebagai “kutukan” yang paling menyakitkan: Dewa menghukum Sisifus dengan keterbatasan pilihan.

Tapi Albert Camus dalam Mite Sisifus melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Mungkin bagi sebagian dari kita, Sisifus nampak sangat tersiksa dengan pekerjaan yang sia-sia itu, pekerjaan yang absurd. Tetapi bagi Camus, Sisifus sebetulnya bahagia. Ia melakukan konsekuensi yang telah ia pilih: menentang para dewa meskipun diganjar hukuman yang paling muskil. 

Perjuangan yang yang dilakukan oleh Sisifus itu sendiri, untuk mengangkat bongkahan batu ke atas bukit meskipun ketika di puncak ia jatuhkan lagi, sudah cukup untuk mengisi hati kita bahwa begitulah makna perjuangan hidup. Bukankah dengan tetap bertahan dan berjuang mempertahankan hidup jauh lebih mulia daripada bunuh diri?

Hari ini kita menyaksikan banyak orang telah menjelma “Sisifus Jam 7 Pagi” sebagaimana sajak Ook Nugroho. Mereka berangkat pagi-pagi, memenuhi panggilan para “Dewa” yang telah menjelma menjadi bos-bos berdasi. Mereka mungkin tak nampak menggotong bongkahan batu, tetapi wajah kusut dan kuyu tak mampu menyembunyikan bongkahan masalah yang mereka bawa, bahkan hingga larut malam menjadi pekerjaan rumah. Mereka seolah terbelenggu. Seperti kata Ook Nugroho dalam sajaknya: “Sampai tua. Sampai lupa buat apa ini semua” (Ook Nugroho, dalam http://syairsyiar.blogspot.com).

Kalau boleh mengamini Camus, mungkin memang sebaiknya kita tak melulu melihat Kastini, Mbah Pon, Dewi Rapika, atau Suharto sebagai Sisifus yang (hanya) tersiksa jika kita membandingkannya dengan kisah Frankie Legarreta atau Wilbur Ramirez. Adakalanya mereka memang menggotong batu masalah yang maha berat, tetapi dari perjuangannya itu kita tahu: mereka sedang berjuang mengisi hidup. Tidak dengan berdiam diri atau mengulurkan tangan di perempatan jalan, melainkan dengan bekerja. Begitulah mungkin sebaiknya kita memaknainya. Meskipun itu tidak berarti kita bersepakat atau mengamini keadaan yang ada.[]

Jejak Cerita Wisata Matatita

Lukman S.
 
Mengambil foto jejak kaki di Keraton Solo:)
“Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.”

Begitulah semboyan para pelancong dunia, yang mengajarkan moral menikmati tamasya tanpa harus merusak tempat-tempat yang dikunjunginya. Tetapi, ada satu hal yang luput dari semboyan ini, yakni “jangan lupa menulis setelah berwisata”. Usai mengunjungi tempat-tempat eksotis, menyelami sejarah dan budaya masyarakat yang ramah dan mengesankan, pengalaman tersebut tentu patut untuk diceritakan. Semboyan itulah yang mendasari terbitnya buku Tales From the Road karya Matatita, seorang traveller dari Yogyakarta, juga penulis blog yang aktif, yang mencoba merekam jejak wisatanya dengan menulis catatan perjalanan.

Membaca buku ini, kita disuguhkan perspektif berwisata yang luas. Penulisnya tidak hanya membatasi cerita liburan yang lazim dianggap sebagai aktivitas berwisata, tetapi juga kegiatan lain yang sifatnya “biasa-biasa” saja, misalnya kegiatan penelitian dari kampus, Kuliah Kerja Nyata (KKN), kunjungan kerja ke daerah-daerah, hingga undangan mantenan. Berwisata tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas liburan atau perjalanan khusus untuk bersenang-senang. Berwisata adalah upaya menghibur diri dengan menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan alam, benda, dan masyarakatnya.

Interaksi, itulah kata kunci dalam buku ini. Melalui interaksi dengan alam, benda-benda, dan masyarakat, penulis buku ini menangkap berbagai kesan yang sifatnya subjektif, tetapi jujur. Perjumpaan tersebut kemudian mengendap, diresapi sebagai pengalaman individu sekaligus sosial, karena setiap tempat, benda, dan masyarakat berada dalam lingkup dunia sosial. Di sini, pariwisata tidak hanya bernilai karena segi ekonomi dan hiburan semata, tetapi juga berharga karena dilambari interaksi sosial para pelakunya.

Tidak mengherankan jika Kees Bertens menggarisbawahi bahwa dunia pariwisata, selain memiliki dimensi ekonomi, juga dilekati dimensi moral karena memungkinkan komunikasi antar-bangsa. Berbeda dengan komunikasi politik internasional, komunikasi yang terjalin melalui dunia pariwisata berjalan lebih luwes, rileks, dan nyaman, serta berlangsung dalam skala yang besar dan masif. Pendek kata, melalui komunikasi tersebut, dunia pariwisata mampu berperan menyusutkan purbasangka serta membuka pemahaman mengenai keberagaman kehidupan sosial-budaya di daerah lain.

Perjumpaan dengan “Yang Lain”
Ada beberapa catatan Matatita mengenai perjumpaan dengan masyarakat dan budaya lain. Salah satunya ketika ia diangkat anak oleh keluarga Dayak di pedalaman Kalimantan Timur. Saat itu, ia tinggal bersama orang-orang Dayak di rumah Lamin, rumah khas orang Dayak. Suatu ketika “penyakit” bulanannya kambuh, yaitu sakit tak tertahankan menjelang datang bulan yang membuatnya jatuh pingsan. Peristiwa tersebut ternyata dimaknai sebagai gangguan wok bengkar (roh halus penghuni hutan), sehingga untuk menangkalnya harus dilakukan ritual khusus.

Namun, karena Matatita menolak dengan alasan penyakitnya adalah penyakit biasa, akhirnya keluarga Dayak tersebut menawarkan solusi bijak: mengangkatnya sebagai anak. Ini supaya roh halus tidak mengganggunya lagi. Setelah dilakukan upacara sederhana, dibacakan mantra-mantra khusus, dan wajahnya diolesi tepung, maka resmilah ia menjadi wong ndayak. Peristiwa ini membuat Matatita sadar, bahwa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Perjumpaan dengan masyarakat di luar negeri, membuat penulis buku ini maklum bahwa menjadi orang Indonesia belum tentu dikenal di negeri orang. Pangkal salah paham itu bermula dari wajah, yang membuatnya “dituduh” sebagai bukan orang Indonesia. Saat berkunjung ke Hongkong ia dikira warga Filipina, di Thailand dipersepsi orang Thai, dan di Nepal dianggap orang Malaysia. Itulah mengapa ketika berbelanja suvenir atau bertemu dengan masyarakat setempat, Matatita seringkali harus mengeja nama I-n-d-o-n-e-s-i-a, meskipun nama itu tidak dikenal juga. Identitas diri, dalam hal ini wajah dan kebangsaan ternyata tak selalu diketahui secara jelas oleh orang-orang di negara lain.

Pengalaman lain yang juga menarik adalah kunjungannya ke Kota Agats, kota suku Asmat yang dibangun di atas rawa. Jalan penghubung kota ini adalah jalan papan selebar 1,5 meter. Dari dermaga menuju kantor-kantor pelayanan publik, ditempuh dengan berjalan kaki menelusuri jalan papan tersebut. Kendati jauh dari gambaran sebagai kota modern, jalan-jalan di Kota Agats tetap menggunakan nama pahlawan selayaknya kota-kota lain di Indonesia, seperti Jalan Yos Sudarso, Ahmad Yani, dan Sultan Hasanuddin. Melalui tulisan ini kita tahu, pembangunan dan otonomi daerah belum mampu menjangkau kemakmuran hingga pelosok-pelosok Indonesia.

Berpelesir ke berbagai tempat juga memberi pengetahuan mengenai berbagai moda transportasi yang digunakan serta perilaku para pengendaranya. Contohnya di kawasan Indonesia Timur yang memiliki angkot unik, karena dilengkapi dengan pemutar musik dan layar monitor. Para pengendara angkot ini berlomba menjadikan kendaraannya hingar bingar untuk menarik minat penumpang. Ada juga soal becak di Kota Ambon yang membuat jalanan menjadi padat dan macet. Sementara pengendara becak di Yogyakarta dan Tuktuk di Bangkok, umumnya merangkap sebagai calo. Mereka mengantarkan wisatawan ke toko-toko suvenir dengan imbalan dari pemilik toko jika wisatawan jadi berbelanja.

Selain rekaman mengenai berbagai kesan dan pengalaman bersentuhan dengan tempat-tempat dan budaya lain, buku ini juga menyajikan beberapa petunjuk (tips) untuk mempersiapkan perjalanan wisata. Beberapa yang sangat urgen adalah menentukan tempat tujuan wisata, memesan tiket pesawat dan penginapan, mengontak teman atau calon teman yang bersedia menyediakan tumpangan, serta mempelajari kebiasaan dan event budaya di tempat yang akan dikunjungi.

Langkah praktisnya adalah membuka jaringan melalui dunia maya (travel online). Informasi mengenai destinasi serta berbagai akomodasi dan transportasi gratis atau dengan biaya murah dapat ditemukan melalui internet. Selain menginap di hotel, pilihan yang tak kalah seru adalah menginap di rumah para traveller lokal yang bersedia menjadi tuan rumah (host). Penelusuran ini dapat dilakukan melalui situs-situs komunitas traveller dunia. Di samping memperoleh tumpangan gratis, dengan menginap di rumah penduduk lokal tentu dapat mendalami kebiasaan serta cara hidup mereka. Jika beruntung, mereka juga bisa menjadi pemandu ke berbagai tempat atau event wisata di daerah tersebut.

Menikmati buku ini, kita akan memperoleh pengertian bahwa seorang pelancong adalah juga penikmat keunikan dan keberagaman. Selain mampu menyimpulkan perbedaan eksotisme alam, sejarah, dan budaya, seorang pelancong selayaknya juga mampu menarik garis pemahaman bahwa berwisata adalah aktivitas mengunjungi untuk “mengalami” keberagaman, juga menghormati perbedaan.[]

_______________________
Judul     : Tales From the Road: Mencicip Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal
Penulis     : Matatita
Penerbit    : B-first (PT Bentang Pustaka), Juni 2009
Halaman   : xii + 234 hlm

Membangun "Ruang Baca" ala John Wood

Lukman S.

Ada semacam kepercayaan umum para penderma dewasa ini, bahwa memberikan “kail” adalah tindakan lebih tepat lagi bijak ketimbang memberikan “ikan”. “Ikan” hanya akan mengenyangkan penerimanya dalam satu waktu, mungkin sehari, dua hari, atau satu bulan. Dan itu artinya akan menciptakan ketergantungan. Berbeda jika yang diulurkan adalah “kail”, yakni alat atau perangkat yang berfungsi untuk menangkap “ikan-ikan”, sehingga dapat memenuhi kebutuhan penerimanya dalam jangka panjang.

Analogi ini mungkin tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh John Wood, eksekutif di salah satu perusahaan nomor wahid dunia, Microsoft. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam edisi Indonesia dengan judul Leaving Microsoft to Change the World oleh Bentang Pustaka pada Agustus 2007. Terbitan edisi baru, April 2009, oleh penerbit yang sama diganti judulnya menjadi Room to Read, merujuk pada nama organisasi nirlaba yang dibangun John untuk mendirikan sekitar 7.000 perpustakaan. Judul ini lebih mewakili semangat John, yakni membuka cakrawala pengetahuan anak-anak usia sekolah di dunia ketiga. Judul tersebut juga ditegaskan melalui gambar sampul yang tepat, di mana John dikerubuti anak-anak yang berebut menggapai buku.

John Wood memutuskan hengkang dari Microsoft untuk memulai babak baru dalam hidupnya demi mengobati luka lama dunia: minimnya keterbacaan atas pengetahuan. Ya, di tengah pesatnya globalisasi melalui media elektronik, ada kelompok-kelompok masyarakat yang ternyata belum tersentuh peradaban Guttenberg. Ada sekitar 850 juta penduduk bumi yang belum melek literasi, alias buta baca-tulis sederhana, dan sekitar dua pertiga di antaranya adalah kaum perempuan. Bagi seorang berkebangsaan Amerika, berpendidikan tinggi, dan mencapai jenjang karier sebagai eksekutif pemasaran Microsoft di Sydney dan Cina, angka-angka itu sungguh membuatnya pusing (hlm.33).

Tetapi, kepusingan atas ketersediaan sekolah dan perpustakaan yang tak memadai tidak muncul begitu saja. John semula menemukan realitas menyedihkan itu di Nepal, dalam pelancongannya selama 21 hari menuju Pegunungan Himalaya. Ketika di Nepal itu, secara tak sengaja ia bertemu pengurus pendidikan bernama Pasupathi. Orang ini begitu gigih, berjalan kaki bermil-mil jauhnya setiap hari untuk mengunjungi sekolah-sekolah, memantaunya, dan memberikan bantuan sekedarnya. John tertarik untuk mengunjungi salah satu sekolah di Desa Bahundanda. Bersama Pasupathi, ia melihat bagaimana kondisi bangunan yang disebut “sekolah” itu. Kondisinya tak lebih baik sebagaimana penggambaran Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi.

John pun menyaksikan salah satu ruangan dengan papan bertulis “Perpustakaan” di depannya. Papan itu nyatanya hanya sebuah petunjuk “sesat”, sebab di dalamnya tak ada meja, kursi, atau rak-rak berisi penuh buku-buku. Hanya ruang kosong dengan dinding dilapisi peta dunia. Di akhir perjumpaannya dengan kepala sekolah dan guru-guru, ia berjanji: tahun depan ia akan kembali dengan membawa buku-buku. Entah seratus, seribu, atau puluhan ribu untuk memenuhi kebutuhan siswa-siswa yang malang itu. Dan John tak hanya kembali dengan buku-buku, melainkan keputusan penuh untuk memberdayakan sektor pendidikan di Nepal (kelak proyeknya berkembang menjangkau Vietnam, Kamboja, India, Sri Lanka dan negara berkembang lainnya).

Dalam perjalanan pulang ke Sydney, ia sempatkan mampir di warung internet untuk menuliskan email kepada kerabat dan relasinya, meminta bantuan mereka untuk menyumbangkan buku. Tanpa dinyana, gayung surat elektronik itu bersambut. Relasi-relasinya bukan hanya menyumbang buku dan uang, tetapi juga menyebarkan email permintaan bantuan itu kepada relasi-relasi mereka. Dalam tempo sebulanan, ribuan buku terkumpul, sehingga pengiriman buku pertama pun dapat dilakukan.

Tak lama berselang setelah pengiriman buku-buku tersebut, John dipindahkan ke Beijing, Cina. Posisinya sebagai salah satu eksekutif senior ternyata tak mampu membuatnya nyaman. Pesan moral Dalai Lama dalam The Art of Happiness, bahwa manusia cenderung mencari kebahagiaan dan akan memperolehnya jika membagi apa yang dimilikinya, begitu membayanginya. Dalai Lama mengajarkan moral sebagaimana dipahami olah umat Islam, bahwa manusia harus mensyukuri karunia Tuhan dengan membantu kaum miskin untuk keluar dari siklus kemiskinan. Salah satu caranya melalui pendidikan (hlm.18).

Keputusan John untuk keluar dari Microsoft dan menjadi pekerja sosial tidak dilalui dengan jalan mulus. Atasannya protes atas keputusan “sepihak” itu, dan terlebih kekasihnya (perempuan cantik dengan lompatan karier yang menawan pula) harus ia tinggalkan. John memang sempat kehilangan arah, sebelum akhirnya memberikan makna mendalam atas keputusannya itu: apa yang selama ini ia raih tak ada artinya dibanding jutaan anak usia sekolah yang tak mampu mengecap pendidikan layak.

John seperti membenarkan kritik Pierre Bourdieu, bahwa kesenjangan global bermula dari habitus, modal, dan ranah yang berbeda-beda. John merangkumnya dalam kata-kata: “Berapa juta anak tak akan mempunyai kesempatan yang saya miliki dalam hidup, hanya karena mereka ditolak oleh pendidikan pada usia muda? Seakan-akan di sana ada ‘lotere kehidupan’. Pada usia muda, anak-anak secara sewenang-wenang dianggap pemenang atau pecundang, berdasarkan tempat lahir mereka. Anda lahir di Scarsdale, Anda menang. Anda lahir di Bogota, Anda kalah” (hlm.49).

Catatan itu begitu menarik dan menusuk jantung realitas kita hari ini. Seseorang yang lahir di Jakarta atau di Jawa (dan tentu saja dari keluarga berkecukupan), dapat memperoleh pendidikan yang berkualitas, dan karena itu masa depannya bisa lebih cerah dan pasti. Sementara mereka yang lahir di luar Jawa, atau mereka yang berasal dari keluarga miskin di mana pun di pelosok negeri ini, harus puas dengan sekolah-sekolah ala Laskar Pelangi, atau bahkan tidak bersekolah sama sekali. Bagaimana mereka dapat turut dalam roda pembangunan, jika “membaca saja, sulit”?

Nepal memang bukan Indonesia. Tetapi, banyak sekolah-sekolah dasar di negeri ini yang tak layak disebut sekolah. Alih-alih memiliki gedung perpustakaan yang lengkap koleksi dan jejaring elektronisnya (internet), sebagian besar kondisi sekolah-sekolah di pelosok negeri ini masih jauh dari layak. Belum lagi soal kuantitasnya, yang mana gambaran idealnya tiap desa atau kampung minimal memiliki satu sekolah dasar sebagai pemenuhan kebutuhan dasar warga negara.

Sudah saatnya kita pertimbangkan: mungkin bukan lagi hanya sodaqoh uang untuk fakir miskin, tetapi juga sodaqoh sekolah atau sodaqoh buku, supaya pendidikan dan keterbacaan akan pengetahuan tak hanya dimiliki kaum yang cukup. Karena kita percaya, pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu jalur mobilitas sosial vertikal, yang artinya untuk kesejahteraan umat manusia.[]
____________________________
Judul Buku     : Room to Read: Tinggalkan Karier di Microsoft Demi Membangun 7.000 Perpustakaan di Pelosok Dunia
Penulis          : John Wood
Penerjemah   : Widi Nugroho
Penerbit         : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetak             : April 2009
Tebal              : x + 386 halaman