Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Pulau Sumba: Tanah Para Tuan dan Hamba


Lukman Solihin

Mentari pagi mulai menyengat saat pesawat kami mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Minggu pertama bulan Oktober tahun 2012 adalah penghujung musim kemarau yang sukses memanggang Pulau Sumba menjadi karpet padang sabana yang menguning-kerontang. Sebagian wilayah di pulau ini tanahnya mengering berwarna putih karena mengandung pasir, batu, juga kapur. Sopir yang mengantar kami menunjuk perbukitan yang tandus sebagai akibat dari kemarau. Katanya, kalau musim hujan, semua tanah dan bukit dibalut rumput dan ilalang yang hijau, kontras dengan pemandangan kami hari itu.

Bandara ini satu dari dua bandara di Pulau Sumba. Satu lagi di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Hampir setiap hari Bandara Umbu Mehang Kunda melayani rute Waingapu – Kupang atau sebaliknya. Apabila tidak ada penerbangan, bandara ditutup. Aktivitas di bandara, seperti kantin atau penjual suvenir, hanya berlangsung apabila ada kedatangan atau keberangkatan pesawat. Hanya ada dua toliet di bandara ini, yaitu di tempat kedatangan dan tempat keberangkatan. Pengambilan bagasi dilakukan secara manual tanpa mesin. Jadi, bagasi penumpang diambil dari pesawat dan diantar dengan kereta-gerobak ke bandara, lalu di bandara ada jendela kecil untuk memasukkan koper atau barang dan penumpang tinggal mengambilnya. Kantin di bandara ini hanya ada dua, yaitu kantin biasa dengan kapasitas 3 meja dan satu ruang semacam “executive lounge” (per orang dikenai 25 ribu rupiah). Di ruangan ini, Anda dapat menikmati kacang, kue, minuman kemasan di dalam kulkas, atau memesan minuman panas. Seorang kawan yang meminum kopi kotak kemasan sontak mengumpat setelah tahu ternyata tanggal kedaluwarsanya telah lewat satu bulan. Pantas agak kecut, katanya. Hehe...
Uma Mbatangu (Rumah bermenara), Rumah Tradisional Sumba.
Saya datang ke Sumba untuk mendokumentasikan upacara kubur batu yang akan dilaksanakan di Kecamata Umalulu (orang setempat menyebutnya Melolo) di Kabupaten Sumba Timur. Dua orang termasuk saya bertugas melakukan pengamatan dan wawancara untuk menyusun laporan deskripstif, tim lainnya yang terdiri dari tiga orang bertugas mendokumentasikan secara visual (melalui foto dan video). Ritual yang diyakini bersumber dari tradisi megalitik—yaitu tradisi zaman prasejarah yang ditandai dengan hasil budaya berupa batu-batu besar—ini akan dilaksanakan meriah karena akan memakamkan 4 jenazah dari kalangan maramba (bangsawan).

Di tanah ini, kasta atau strata sosial berdasarkan keturunan masih berlaku. Yang teratas adalah kaum maramba (bangsawan) yang dahulu hingga sekarang merupakan penguasa di bidang politik, tuan atas tanah (mangu tanangu) dan juga para budak. Lapis kedua ada golongan kabihu (orang bebas) yang merupakan orang kebanyakan. Lalu lapis ketiga adalah kaum “sendal jepit”, yaitu golongan ata (budak atau abdi) yang dikuasai oleh tuannya (kaum maramba). Golongan maramba dapat dikenali dari nama gelar yang mereka pakai, yaitu Umbu atau Tamu Umbu untuk laki-laki dan Rambu atau Tamu Rambu untuk perempuan.

Praktik tuan-hamba atau antara maramba dan ata ini masih berlangsung hingga sekarang. Seorang hamba bergantung hidupnya, dalam hal ini untuk makan dan penghidupan, dari tuannya. Mereka dipekerjakan sebagai pembantu rumah, pekerja kebun, pengurus hewan, atau pekerja kain tradisional dengan upah seadanya. Hidup mereka boleh dibilang seratus persen ditanggung oleh tuannya. Sementara mereka harus merelakan tenaga dan ketundukan kepada tuannya itu.

Sebaliknya, para bangsawan dan anak keturunannya juga bergantung kepada maramba dalam kehidupan keseharian mereka. Sumberdaya berupa sawah, kebun, pekarangan, hewan peliharaan, kerajinan kain, dan usaha lainnya tak akan berjalan mulus tanpa ata/hamba sebagai kaum pekerja. Kepemilikan atas golongan ata juga menaikkan status dan prestis para maramba, sebab semakin banyak hamba yang dikuasai dan ditanggung hidupnya menunjukkan kemampuannya di bidang ekonomi dan kekuasaan yang dimilikinya.

Sekilas, praktik tuan-hamba ini nampak “cukup manusiawi” karena para hamba juga diperlakukan dengan nisbi baik. Mereka ditanggung hidupnya, juga biaya sekolah bagi anak-anaknya. Namun sebuah kasus pada tahun 2006 yang sempat disiarkan media menguak praktik perhambaan yang tak manusiawi. Ketika itu, seorang ibu dari kaum hamba dituduh membunuh anaknya sendiri. Dalam sebuah penyelidikan oleh wartawan/aktivis perempuan terungkap bahwa anak yang terbunuh penuh dengan bilur-bilur luka bekas lecutan cemeti. Aktivis itu mengatakan, tak mungkin seorang ibu yang membesarkan anaknya sendiri tega membunuh anaknya memakai cemeti hingga mati. Sang ibu sendiri mengaku memukul anaknya, lalu si anak tidur dan lalu mati. Pernyataan itu bertentangan dengan kondisi si anak dengan bilur-bilur bekas cemeti. Anak ini tentu disiksa lebih dahulu sebelum ajalnya, dan mungkin sang ibu yang budak disuruh oleh tuannya untuk mengaku sebagai pelaku, karena tak ada pilihan lain kecuali mematuhi perintah itu (baca liputan KBR 68 H).

Marapu
Ketergantungan kaum hamba kepada maramba ini membuat mereka tak mudah untuk melakukan mobilitas sosial, misalnya menjadi manusia bebas yang tak lagi berstatus hamba. Sebagian hamba bahkan cenderung “rela” dan “ikhlas” menjadi hamba karena demikianlah yang mereka pikirkan sebagai kehidupan ideal (mungkin ada kemiripan dengan para abdi dalem di Keraton Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta). “Kerelaan” ini dapat ditelusuri lebih jauh sumbernya dari kepercayaan Marapu, agama lokal masyarakat Sumba yang termasuk ke dalam agama dengan ritual pemujaan nenek moyang (ancestor worship).

Agama ini dahulu merupakan agama mayoritas penduduk setempat hingga pekabaran injil dimulai sekitar tahun 1816. Namun, seperti ditulis oleh Purwadi Soeriadiredja, dalam disertasinya tentang Agama Marapu, pekabaran injil tidak begitu berhasil hingga tahun 1990. Kristen mulai dianut dan menjadi agama mayoritas pasca-tahun 1990-an, ketika agama resmi menjadi prasyarat anak-anak Sumba untuk bersekolah formal. Saat ini, penganut kristen di Sumba Timur mencapai 75 persen, sementara penganut Marapu menduduki posisi kedua, yaitu sekitar 9,8%, kemudian Katolik 8,4%, dan Islam 6,4%. Agama resmi lainnya, seperti Hindu, Buddha, dan Konghucu pemeluknya tidak lebih dari satu persen dan umumnya dipeluk oleh para pendatang. Keterdesakan agama Marapu dapat dipahami sebagaimana terjadi pada agama-agama lokal lainnya, yaitu kombinasi antara desakan dari kaum misionaris agama-agama resmi dan perlindungan negara yang tak memadai.
Jenazah yang akan dikubur batu, dibungkus kain tradisional.

Kembali kepada konsepsi tentang tuan-hamba tadi, agama Marapu menguatkan atau menjustifikasi keyakinan bahwa alam baka tidak begitu berbeda dengan alam dunia. Seorang maramba statusnya tetap sebagai maramba dan begitu pula seorang ata akan tetap statusnya sebagai kaum hamba di alam sana. Oleh sebab itu, pada zaman dulu seorang maramba yang mati akan diupacarai dengan cara menyembelih kuda sebagai kendaraan di alam akhirat nanti. Kaum maramba ini juga dibalut kain tradisional terbaik, kain mahal yang harganya bisa puluhan juta, sebagai pakaian di alam akhirat. Mereka juga didampingi oleh hambanya yang paling setia dengan cara dipenggal atau dikuburkan dengan cara hidup-hidup. Seorang golongan maramba yang saya temui menegaskan, bahwa dahulu (artinya sekarang tidak lagi terjadi) karena begitu setia kepada tuannya, seorang hamba dengan kerelaannya sendiri bahkan meminta untuk mati bersama tuannya.

Kesaksian Soeriadiredja yang ditulis dalam disertasinya, pada tahun 1982 ketika dia mengamati langsung prosesi kubur batu dari raja setempat, banyak polisi dan tentara berjaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti bunuh diri dari hamba yang ingin menyertai tuannya. Nama-nama hamba ini dicatat dan lubang kubur batu dijaga ketat supaya tak seorang pun meloloskan diri untuk ikut terkubur. Kesaksian saya sendiri dalam upacara kubur batu yang dilaksanakan awal Oktober ini, tak satu kepala pun dipenggal, kecuali kuda, kerbau, dan babi.

Kompleks kubur batu.

Kaum maramba ini adalah penguasa di bidang politik dan ekonomi di tingkat lokal. Para keturunan maramba, seperti telah saya sebutkan adalah tuan tanah hingga sekarang. Mereka juga mewarisi usaha perkebunan, perladangan, peternakan, juga semacam industri kain tradisional. Dengan sumber daya dan kedekatan dengan penguasa (pada zaman kolonial mereka juga diakui oleh pemerintah kolonial sebagai wakil gubernur jenderal di wilayah setempat), membuat anak-anak mereka turut diuntungkan karena mampu mengenyam pendidikan tinggi. Banyak kaum maramba yang saat ini menjadi pejabat publik di daerah merupakan orang-orang yang dahulu disekolahkan ke Jawa. Anak-anak mereka juga kini bersekolah di perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama di Jawa. Adapun kaum hamba umumnya hanya bersekolah dasar atau bahkan putus sekolah karena mereka cenderung tidak berminat untuk bersekolah. Apabila mereka memiliki anak, maka anak-anak mereka tetap merupakan aset tuannya dan dapat diwariskan kepada anak-cucu tuannya. Hubungan gelap di antara kaum hamba tidak begitu dipersoalkan karena anak-anak mereka tetap merupakan “aset” tuannya.

Tenun Ikat
Kabupaten Sumba Timur sendiri merupakan sentra penghasil tenun Sumba yang sudah tersohor hingga mancanegara. Kain dari daerah ini memiliki motif khas yang berbeda dengan kain dari Sumba Barat. Menurut salah seorang pengrajin, kain dari Sumba Barat umumnya tak memiliki motif atau datar-datar saja, sementara dari Sumba Timur banyak lahir motif seperti udang, kuda, dan lain-lain yang dilahirkan dan dikreasi oleh kaum maramba. Sebagian motif kain dahulu hanya dipakai oleh kaum bangsawan. Bahkan ada kain-kain tertentu yang hanya diperlihatkan pada saat tertentu pula. Hal ini untuk menghindari agar orang kebanyakan tidak meniru motif-motif tersebut.

Namun, seperti disebutkan oleh seorang Rambu (sebutan untuk keturunan bangsawan perempuan), hal itu saat ini tidak berlaku lagi karena semua orang sudah mengetahui dan dapat membuat motif yang dipakai oleh kaum maramba. Apabila mereka tidak membuat sendiri, mereka juga bisa membeli kepada kaum maramba yang juga menjadi pengrajin kain tersebut. Aturan kain-kain tertentu yang hanya dipakai oleh golongan maramba kini telah cair, sehingga perbedaan yang menyolok dari segi pakaian tradisional antara golongan maramba dan orang biasa bisa dibilang sudah tak ada lagi.

Pengrajin kain Sumba.

Kain atau dalam bahasa Sumba disebut pahikung (tinung pahikung=kain tenun) terbagi menjadi dua jenis, yaitu kain (kain panjang/selimut) (disebut hinggi) dan sarung (disebut lau). Kain panjang biasa dipakai oleh laki-laki sebagai penutup bawah, penutup atas, dan juga ikat kepala. Sedangkan sarung dipakai oleh kaum perempuan. Kain sendiri ada yang dibuat dengan teknik tenun ikat dan ada yang dibuat dengan teknik songket. Dibandingkan teknik songket, tenun ikat lebih tinggi pamornya, sehingga lebih dihargai dan lebih mahal harganya di pasaran. Tenun ikat merupakan kain yang dibuat dengan teknik rintang warna memakai ikat.
Rintang warna di sini diperlukan untuk membuat motif, sebagaimana batik menggunakan lilin (malam) untuk menghalangi warna dan menciptakan motif. Berbeda dengan batik yang motifnya ditorehkan kepada kain yang sudah jadi, tenun ikat motifnya dibuat pada saat masih berbentuk benang. Sekumpulan benang diikat kemudian dicelupkan pada cairan pewarna alam. Setelah kering, ikat dibuka dan kemudian dicelup warna lagi. Banyaknya warna pada motif mempengaruhi lamanya kain dibuat, karena setiap warna yang dihasilkan kemudian diikat lagi agar tidak tercampur dengan warna lain ketika proses pewarnaan selanjutnya. Proses inilah yang membuat kain Sumba menjadi eksklusif dan mahal.

Selain itu, pewarna alami juga memerlukan usaha keras tersendiri, karena tumbuhan tersebut diambil langsung dari alam, ditumbuk atau direbus untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Karena pewarnanya dari alam, maka tampilan warna yang dihasilkan lebih sejuk, temaram, atau tidak ngejreng. Kain-kain tua atau sudah berumur puluhan tahun biasanya semakin tinggi harganya dan paling banyak diburu kolektor. Kain-kain terbaik ini dipersembahkan sebagai mas kawin, atau sebagai persembahan kepada jenazah yakni untuk kain pelapis jenazah atau untuk bekal kubur.

Lantas, bagaimana proses upacara kubur batu dilaksanakan?
Saya tuliskan di lain kesempatan :)

Pelesir Sejarah Bersama (Karya) Romo Mangun

Lukman S.

Romo Mangun. Sumber: http://id.wikipedia.org
Mengenang 80 tahun kelahiran mendiang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau biasa disapa Romo Mangun yang jatuh pada 06 Mei lalu, membuat saya teringat trilogi novel Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri yang diterbitkan ulang ke dalam satu bundel buku oleh Gramedia (2008). Lewat tiga novel karya Romo Mangun tersebut, saya ingin mengatakan bahwa tokoh besar ini tak hanya meninggalkan jejak dalam memperjuangkan kemanusiaan melalui karya sastra atau tindakan nyata, maupun seni arsitektur khas yang dipraktekkan ke dalam banyak karya bangunannya, tetapi beliau juga menghasilkan karya fiksi sejarah yang dapat dinikmati dan ditelusuri melalui pelesir sejarah situs-situs Kerajaan Mataram Islam.
Ketika booming novel Rahasia Meede karta ES Ito yang terbit 2007 lalu, para penggemar novel ini mengadakan jelajah jejak sejarah Rahasia Meede. Cukup menarik memang, mencoba menghayati fiksi sejarah dengan turun langsung melihat situs-situs yang menjadi setting dalam novel tersebut. Situs sejarah yang diulas dalam Rahasia Meede sebagian besar berada di Jakarta, seperti Museum Fatahillah (Stadhuisplein), Monumen Pieter Erberveld, Dasaad Musin Building, Gereja Sion, Monumen Nasional (Monas), hingga Pulau Onrust yang merupakan pulau kecil dalam gugusan Kepulauan Seribu.
 Hal yang sama sebetulnya dapat dilakukan setelah membaca karya Romo Mangun. Dalam trilogi Rara Mendut yang melukiskan masa kejayaan Sultan Agung dan kemunduran Amangkurat I yang penuh intrik, kisah asmara, dan pembantaian, kita dapat menghayati situs-situs peninggalan Mataram Islam yang hampir semuanya berada di DI Yogyakarta. Melalui novel itu, kita seolah diajak untuk mengenang sejarah Mataram Islam yang lahir dan dibesarkan tidak dengan jalan mulus, melainkan meliuk-berliku, dan tak jarang terperosok ke dalam jurang percintaan terlarang.
Pelesir situs sejarah ini dapat dimulai di Kotagede, bekas pusat pemerintahan Mataram Islam pada masa Panembahan Senopati (raja pertama), Panembahan Hanyakrawati (raja kedua), hingga awal pemerintahan Panembahan Hanyakrakusuma (Sultan Agung, raja ketiga) yang kemudian membangun keraton baru di Kerta, sekitar 7 km arah Selatan Kotagede. Hingga kini, Kotagede masih menunjukkan nuansa sebagai kota kuno dengan keberadaan Pasar Legi, Masjid Agung Mataram, serta Makam Raja-raja Mataram Kotagede.
Memang, di tempat ini wujud bangunan keraton dan alun-alun sebagai penanda pusat kerajaan khas Jawa tidak ditemukan lagi, karena telah menjelma menjadi pemukiman penduduk. Namun, mengunjungi masjid dan kompleks makam, kita serasa diajak untuk membayangkan kebesaran kerajaan Mataram Islam di masa lalu: sebuah kerajaan yang memadukan peninggalan lama ajaran Hindu-Buddha dan kerajaan model baru bercorak Islam. Garis silsilah yang dirunut sampai pendiri Kerajaan Singasari, Ken Arok, yang tertera di tempat abdi dalem di kompleks makam ini, menandakan imaji tentang keberlanjutan kerajaan Jawa yang besar dan masyhur pada masa lalu, sebelum kedatangan Islam.
Dikisahkan dalam trilogi Romo Mangun, Makam Kotagede ini merupakan lokasi pertemuan rahasia antara Putri Arumardi (selir Tumenggung Wiraguna) dan Encik Khudori (pedagang Emas di Pasar Kotagede) untuk menyelamatkan Putri Tejarukmi (selir muda Wiraguna) yang dikejar-kejar Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Agung yang kelak bergelar Amangkurat I. Tejarukmi inilah yang menjadi sumber pertikaian Amangkurat I dan Tumenggung Wiraguna, di mana akhirnya Wiraguna diracun dalam perjalanan tugas menaklukkan negeri Blambangan di ujung Timur Pulau Jawa.
Situs lainnya yang letaknya berdekatan adalah Keraton Kerta dan Keraton Plered, keduanya kini terletak dalam satu kecamatan di Kabupaten Bantul, yaitu Kecamatan Plered (sekitar 11 km arah Selatan Kota Jogja). Tidak seperti Kotagede yang sampai sekarang masih menjadi kawasan penting, terutama karena situs sejarah dan kerajinan peraknya, Plered dan Kerta kini hanya sebuah perkampungan yang sepi. Pada masa Sultan Agung, sekitar 1625, Kerta mulai dibangun sebagai pusat pemerintahan baru. Keraton Kerta digunakan hingga masa awal Amangkurat I, Susuhunan Mataram yang konon enggan memakai gelar Sultan sebagaimana ayahnya, karena begitu benci kepada kaum santri.
Amangkurat I membangun istana baru di Plered dengan konsep yang sama sekali baru, yaitu kompleks keraton yang dikelilingi parit-parit raksasa, sehingga istananya nampak mengapung di atas danau buatan. Dalam tafsiran Romo Mangun (hlm. 739), setelah berbagai tindakan keji atas kaum santri (membantai sekitar 6.000 kaum santri dan keluarganya) dan ancaman pemberontakan dari kalangan kerabat istana, jiwa Amangkurat makin terancam. Ia lantas membangun parit pertahanan yang ditiru dari bangsa Belanda di Betawi yang gemar membuat kanal.
Sumber: http://kumpulanfiksi.wordpress.com
Istana Kerta dan Plered berada di sisi timur Jalan Yogya-Imogiri. Kini, dua bekas istana tersebut hanya menyisakan bekas alas-alas tiang (umpak) istana. Di bekas Istana Plered yang kini berada di Desa Ndaton (Keraton), masih bisa dijumpai sebuah pohon beringin besar yang mungkin dahulu merupakan halaman istana dengan hamparan fondasi bata merah seluas + 15 meter persegi. Seperti diberitakan oleh Kompas (Senin, 04/05/09), kompleks Keraton Plered saat ini sedang diteliti dan rencananya akan dibangun sebagai kompleks Museum Situs (Site Museum) yang menceritakan perjalanan Mataram di bawah Amangkurat I.
Pemerintahan Amangkurat I memang menyimpan kisah-kisah kontroversial. Selain pembunuhan ribuan kaum santri dan percintaan terlarang dengan Puteri Tejarukmi, Romo Mangun juga menggambarkan Amangkurat I sebagai raja yang “sakit”. Puncak “kesakitan” Amangkurat I digambarkan dengan amat mendebarkan dalam novel Romo Mangun (hlm. 757), ketika Sang Susuhunan “meniduri” mayat selir kesayangannya, Ratu Malang, yang telah dikubur selama tiga hari di Gunung Kelir, sebuah bukit di Selatan Keraton Plered.
Ratu Malang adalah selir kesayangan Amangkurat I. Semula ia adalah istri dalang Ki Dalem Panjang Mas, yang dibunuh dan kemudian direbut istrinya untuk diboyong ke istana. Ia dijuluki Ratu Malang, karena setiap malam konon sang selir kerap menangis meratapi kemalangannya. Seolah melengkapi kisah kemalangannya itu, sang ratu akhirnya meninggal akibat diracun. Amangkurat marah besar dan membunuh para dayang sang ratu karena dianggap bersekongkol, dan membangun sebuah makam khusus di Gunung Kelir. Makam ini masih sering dikunjungi para peziarah untuk ngalap berkah.
Makam Ratu Malang. Sumber: http://arkeologijawa.com
Situs lainnya yang memiliki benang merah dengan kisah Ratu Malang adalah Makam Banyusumurup, letaknya sekitar 2 kilometer dari Makam Raja-raja Imogiri. Berbeda dengan Makam Imogiri, Makam Banyusumurup khusus dibuat bagi mereka yang dianggap membangkang pada Susuhunan. Pangeran Selarong, misalnya, paman Amangkurat I yang dikenal ahli membuat racun dituduh memberikan racun paling mematikan untuk membunuh Ratu Malang. Akibatnya, sang pangeran dibunuh dan dikebumikan di Makam Banyusumurup.
Selain Pangeran Selarong, di kompleks Makam Banyusumurup juga ada makam Pangeran Pekik dan keluarganya, yang dituduh melindungi perselingkuhan Adipati Anom (putera mahkota) dengan calon selir Susuhunan Amangkurat I yang masih belia, Rara Oyi. Pangeran Pekik merupakan mertua Susuhunan dan kakek dari sang Adipati Anom (kelak Amangkurat II). Perselisihan karena cinta terlarang ini kelak berujung pada perebutan tahta secara diam-diam oleh Adipati Anom, dengan cara bersekongkol dengan Trunajaya dari Madura untuk melakukan pemberontakan. Pemberontakan Trunajaya inilah yang mampu memporak-porandakan keraton dan memaksa Amangkurat I mengungsi, hingga meninggal di Tegalarum (di dekat Kab. Tegal).

Karya Romo Mangun ini memang nampak sebagai upaya kreatif pengarangnya untuk memberikan gambaran yang jitu tentang penegakan kekuasaan yang kerap meminta tumbal. Memang, sebuah fiksi sejarah acap kali melampaui tafsiran ilmiah atas peristiwa sejarah itu sendiri. Namun, membaca novel ini, lalu berpelesir mengunjungi bekas-bekas peninggalan Sultan Agung dan Amangkurat I, membuat kita merenung: kekuasaan yang dibangun atas dasar nafsu dan angkara murka, hanya akan segera menemui kekalahannya. []
  _____________________
* Pernah diterbitkan oleh Kompas Jogja, 28 Mei 2009
** Sekali lagi, terima kasih untuk Khidir Iid  Marsanto yang bermurah hati meminjamkan buku ini waktu proses khataman di tahun 2009 itu.

Ngleremke Ati di Alkid (Alun-Alun Kidul, Jogja)


Lukman S.

Sebagai sebuah kompleks kota khas Jawa, Yogyakarta ditandai dengan keberadaan bangunan keraton, masjid agung, serta alun-alun, yaitu lapangan rumput yang pada bagian tengahnya dihiasi oleh pohon beringin. Konon, konsep Kutaraja seperti ini telah dikenal sejak jaman Majapahit. Di Yogyakarta, sebagaimana juga di Keraton Surakarta, terdapat dua Alun-alun yang memiliki konsep berbeda, Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan atau Alkid (Alun-alun Kidul).
Alun-alun Utara disimbolkan oleh harimau yang berwatak keras dan berangasan, sementara Alkid disimbolkan oleh gajah yang memiliki watak tenang. Secara filosofis, Alkid merupakan daya penyeimbang bagi Alun-alun Utara yang memiliki watak keras. Alkid juga dianggap tempat palereman (tempat istirahat) bagi para dewa, serta tempat hiburan bagi raja dan para tamunya.
Dulu, Alkid pernah menjadi tempat adu harimau melawan kerbau (Rampog Macan). Dalam pertarungan seru itu, harimau biasanya menjadi pihak yang kalah. Harimau melambangkan orang Belanda, sementara Kerbau adalah orang Jawa. Pada masa Sultan HB VII, Alkid kerap menjadi tempat untuk lomba memanah para prajurit keraton. Selain memiliki sifat sebagai tempat ngleremke ati, Alkid juga menjadi jalur untuk mengantarkan jenazah raja menuju Makam Imogiri melewati Plengkung Gading (Nirbaya). Sebab itu, adalah hal tabu bagi raja yang masih memerintah melewati jalur ini.
Hingga masa Sultan HB IX, Alkid yang berada dalam kawasan Jeron Beteng ini tidak bisa sembarangan dimasuki pengunjung. Karena akses utama menuju Alkid, yaitu Plengkung Gading dijaga oleh prajurit keraton. Plengkung Gading hanya dibuka pada pukul 6 hingga 10 malam, di mana setiap pergantian penjaga diadakan satu upacara kecil. Setelah Sultan HB X naik tahta, Plengkung Gading tidak pernah ditutup lagi. Ini mungkin menjadi salah satu penanda mulai dibukanya ruang-ruang “sakral” di Keraton Yogyakarta.
Perkembangan baru ini ternyata direspon secara “kebablasan”. Hingga awal tahun 2000-an Alkid dikenal sebagai surga orang berpacaran bahkan menjadi tempat mangkal para pekerja seks komersial (PSK). Tentu, bagi sebagian orang, pemandangan ini kurang sedap dipandang. Kondisi ini mulai berubah saat Pemkot Yogya mulai menambah lampu penerangan di kawasan Alkid, sehingga Alkid menjelma sebagai ruang publik yang bebas dari kesan mesum. Sejak medio 2008, mulai bermunculan para penjaja jasa permainan anak-anak, mulai dari andong mini, becak mini, odong-odong, komidi putar mini, hingga arena mandi bola. 
Kini, setiap sore Alkid diramaikan para keluarga yang ingin menghibur (ngleremke ati) putra-putrinya dengan ongkos yang relatif murah. Selain keluarga, para muda-mudi juga cukup senang menikmati wisata kuliner, atau mencoba peruntungan melewati Masangin (masuk di antara dua pohon beringin). Tetapi, perkembangan Alkid sebagai ruang publik rupanya tidak diikuti oleh pemahaman masyarakat tentang makna budaya Alkid dalam kosmologi Jawa seperti diberitakan oleh Kompas (Sabtu, 06/06/09). 
Mungkin saat ini eranya telah berubah. Dulu, penyematan makna budaya dikukuhkan oleh keraton (baca: Sultan), sementara sekarang masyarakat Yogya memiliki cara pandang tersendiri mengenai ruang publik yang ada, termasuk Alkid. Menghapuskan sama sekali makna Alkid sebagaimana kosmologi Keraton Yogya tentu bukan tindakan arif. Di sinilah kiranya pemerintah, pihak keraton, serta penjual jasa di Alkid dapat bertemu untuk merumuskan konsep yang dapat menjembatani antara “kesakralan” Alkid dan “keprofanannya” sebagai ruang publik. []
________________________
* Catatan ketika dulu (2007-2009) setiap Sabtu/Minggu sore nemenin Chiya di Alkid.

Meresapi Keganasan Merapi

Lukman S.
Sejak buku The Geology of Indonesia karangan van Bemmelen terbit pada 1943, Gunung Merapi mulai kondang di mata dunia. Sembilan belas tahun sebelum Bemmelen menerbitkan bukunya, yaitu tahun 1924, berbagai organisasi volkanologi tercatat telah memonitor aktivitas gunung yang terletak sekitar 30 km arah Utara Kota Yogyakarta ini.
Merapi dikenal luas bukan saja karena bentuknya indah laksana kerucut dengan asap sulfatara yang selalu mengepul di ujungnya, melainkan juga karena keganasannya saat terjadi erupsi. Salah satunya wedus gembel, istilah lokal untuk menyebut awan panas yang meluncur pada saat erupsi. Istilah ini menggambarkan gumpalan asap tebal yang dibayangkan mirip wedus (kambing).
Menurut asumsi Bemmelen, Merapi pernah mengalami letusan hebat tahun 1006. Letusan inilah yang menimbun candi-candi di sekitar Merapi, seperti Borobudur dan Prambanan yang berjarak puluhan kilometer. Akibat letusan dahsyat itu, kerajaan Mataram di Jawa Tengah lambat laun berpindah ke Jawa Timur. Asumsi ini mengundang banyak tanggapan dan penyangkalan. Kendati begitu, banyak juga yang meyakini kebenaran asumsi tersebut. Terlepas dari benar tidaknya perkiraan Bemmelen, kami tertarik untuk menyaksikan langsung jejak-jejak keganasan Merapi.
Pagi hari di awal Juni yang mendung, bersama seorang teman saya berangkat menuju obyek wisata Telogo Putri. Kebetulan hari itu ada janji dengan 23 orang peserta Bhakti Pemuda Antar-Propinsi (BPAP) untuk melakukan trekking, berjalan kaki menyusuri Taman Nasional Merapi menuju Lava Tour Kaliadem. Jaraknya sekitar 5 kilometer. “Tidak jauh, kok,” ujar Christian Awuy, pemandu kami yang setiap hari menyambangi lereng dan puncak Merapi.
Telogo Putri terletak sekitar 1 km utara Taman Bermain Kaliurang. Obyek wisata ini menyediakan kolam renang, taman, dan warung-warung kuliner yang berjejer dengan latar belakang pepohonan yang menjulang tinggi. Kawasan Kaliurang memang dikenal sebagai tempat yang sejuk, cocok untuk pelesir dan tempat peristirahatan. Tak heran jika di Kaliurang terdapat banyak vila, hotel, juga bungalo.
Sejak awal abad ke-19, orang Belanda telah membangun beberapa tempat peristirahatan di kawasan ini. Salah satu yang cukup bersejarah adalah Wisma Kaliurang. Wisma ini pernah menjadi tempat perundingan antara Pemerintah RI dan Komisi Tiga Negara, antara lain Belgia, Australia, dan Amerika pada 13 Januari 1948. Kesepakatan dalam perundingan ini dikenal sebagai Notulen Kaliurang.
Usai berkoordinasi dan di-briefing sejenak oleh Pak Awuy, kami segera menenteng ransel untuk memulai penjelajahan. “Di dalam hutan, kita adalah pendatang. Hormatilah makhluk di dalamnya, dan jangan berteriak agar tak mengagetkan penghuni hutan,” pesan Pak Awuy.
Kami lalu memulai perjalanan. Rute yang ditempuh adalah rute penjelajahan yang terbilang ringan. Dengan jarak 5 km dan jalur trekking yang tak terlalu menanjak cukup pas bagi kami yang baru pertama kali munggah gunung. Jalan yang kami lalui adalah jalan makadam, jalan bebatuan yang tersusun dari batu-batu kali. Namun, baru setengah kilometer saja, beberapa peserta sudah ngos-ngosan. “Capek juga ya,” kata Yeni, peserta BPAP dari Bangka Belitung.
Temperatur udara yang lembap dan dingin ternyata tak mampu mengusir peluh yang menetes di dahi. Kawasan Hutan Merapi memang termasuk hutan hujan (rain forest) dengan kelembapan cukup tinggi. Oleh sebab itu, di hutan ini tidak terdapat pohon jati. Di sepanjang jalur trekking, kami mendapati pohon-pohon seperti cemara, puspa, rasamala, salak, juga rotan. Tapi sayang, di jalur ini kami tidak dapat menyaksikan hewan liar, seperti kera atau elang jawa yang terkenal itu.
Melihat kami mulai letih, Pak Awuy mempersilakan untuk istirahat sejenak. Berkali-kali Pak Awuy menekankan agar peserta tidak terpisah jauh dari tim. “Jangan sampai ketinggalan jauh,” katanya. Sebab, dalam menjelajah hutan, kekompakan tim adalah kunci keberhasilan. Jika salah satu anggota tertinggal, atau bahkan hilang, tentu akan menggangu penjelajahan.
Jumlah tim untuk menjelajah gunung juga harus dibatasi, maksimal 12 orang. Hal itu untuk melindungi daya dukung hutan agar tetap terjaga dan tetap alami. Trekking kali ini adalah pengecualian, sebab tim BPAP yang berasal dari Sulawesi Utara, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau tak bisa dipecah ke dalam tim-tim kecil.
Untuk pakaian, sebaiknya mengenakan warna yang senada dengan alam, agar tak terlalu mencolok. Juga, jangan membuang sampah! Ya, dalam setiap penjelajahan, etika menghormati alam senantiasa harus kita jaga. Seperti ungkapan etis para penjelajah di dunia: “Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.”
Setelah sekitar satu jam perjalanan menyusuri jalan setapak berpasir, akhirnya kami sampai di Kali Kuning, salah satu jalur aliran lahar panas dan lahar dingin saat terjadi letusan Merapi. Di tempat ini, aliran kecil air jernih menyeruak dari bebatuan berwarna kelabu yang diselimuti lumut. Bongkahan-bongkahan batu licin yang dahulu bekas aliran lahar panas itu dinamai Watu Kemloso.
Tak jelas benar mengapa dinamai demikian. Yang jelas, menurut penuturan Pak Awuy, bebatuan ini terbentuk dari lahar panas Gunung Merapi tahun 1006, sebagaimana perkiraaan Bemmelen. “Selama enam bulan, sungai ini dialiri lava pijar yang panas, baru kemudian mengeras dan menjadi batu,” tuturnya. Bergidik juga membayangkan lokasi tempat kami berdiri adalah bekas lava pijar. 
 Watu Kemloso
Saya jadi teringat film Volcano yang dibintangi Tommy Lee Jones. Dalam film itu digambarkan bagaimana lava pijar meledak di tengah Kota Los Angeles. Hampir seluruh kota terbakar akibat diterjang lava. Besi-baja meleleh, gedung-gedung seperti melepuh dan rontok. Setelah dibendung dan disiram air berkubik-kubik, akhirnya aliran lava membeku, jadi batu. Los Angeles memang bukan lereng Merapi. Tetapi, dengan penduduk sekitar 1 juta jiwa yang mendiami lereng-lerengnya, ancaman selalu membayang saat Merapi meradang.
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Dusun Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan, juru kunci Merapi yang terkenal lewat jingle iklan minuman penambah energi, “Rosa! Rosa!”. Di rumah Mbah Maridjan kami melepas penat sambil minum air kemasan. Dengan mengenakan kaos, celana pendek, dan kopiah hitam Mbah Maridjan menyambut kami. Gambaran Maridjan sebagai bintang iklan yang berbaju batik halus dengan pakaiannya siang itu sangat kontras sekali. “Meskipun jadi bintang iklan, Mbah Maridjan tetap hidup sederhana,” ujar Pak Awuy yang menjadi perantara pertemuan siang itu.
Sebelum memasuki kediaman Mbah Maridjan, berkali-kali Pak Awuy memperingatkan kami untuk mematikan kamera, juga memasukkannya ke dalam tas. “Aku ora diphoto, lho!” tukas Mbah Maridjan yang membuat kami melongo. Lho, memangnya kenapa? Ternyata, seperti dijelaskan Pak Awuy kemudian, mungkin dalam kontrak iklan, perusahaan minuman berenergi itu melarang Maridjan untuk diekspos.
Kedatangan kami sebetulnya sekedar mampir. Tidak seperti para pendaki lain yang meminta ijin untuk mendaki Merapi. Tujuan kami adalah melihat secara langsung Lava Tour Kaliadem, obyek wisata bekas letusan Merapi yang berada sekitar setengah kilometer di atas Dusun Kinahrejo.
Usai mengobrol singkat dan bersalaman, kami melanjutkan perjalanan menuju Lava Tour Kaliadem. Lava Tour Kaliadem adalah obyek wisata yang relatif baru. Bagi yang pernah berkunjung ke Kaliadem sebelum musibah letusan Merapi tentu akan kaget dengan kondisinya saat ini. Sejauh mata memandang, kawasan ini telah menjelma menjadi hamparan pasir-batu. Hanya sayang, siang itu mendung menyelimuti Kaliadem. Pemandangan Puncak Merapi yang hanya berjarak sekitar 2 km tertutup awan tebal.
Sebelum erupsi tahun 2006, kawasan ini semula merupakan bumi perkemahan. Warung-warung permanen dan toilet umum yang dulu digunakan oleh para pelancong untuk menikmati kawasan ini telah sirna diterjang pasir, bebatuan, dan awan panas pada 14 Juni 2006 silam. Kaliadem merupakan titik terjauh dari jangkauan semburan material panas Merapi ketika itu, sehingga tidak mencapai permukiman warga.
Meski demikian, dua orang relawan menjadi korban dalam letusan tersebut. Mereka terpanggang di dalam bungker yang tertimbun material panas. Kini wisatawan dapat menyaksikan langsung kondisi bungker. Sementara di pinggir jalan, berjejer kios-kios yang menjual foto dan VCD bergambar erupsi Merapi dan evakuasi kedua korban tersebut.
Dengan duduk mengelilingi bungker, kami mendengarkan cerita Pak Awuy. Menurutnya, menjelang erupsi, tim evakuasi sebetulnya telah memperingatkan dua relawan tersebut untuk turun mengungsi. Namun, mereka enggan dan akan bersembunyi di dalam bungker jika ancaman wedus gembel menerjang kawasan itu.
Tetapi nahas, ternyata Geger Boyo, lereng Merapi di sisi Selatan yang selama ini menjadi penahan guguran lava dan awan panas ambrol. Secepat kilat, muntahan material dan awan panas menerjang kawasan ini. Material sekitar 950 meter kubik menimbun Kaliadem. Tak hanya itu, suhunya yang diperkirakan mencapai 1.000 derajat celcius memanggang kawasan ini. “Esok hari, ketika Tim SAR mencoba menggali bungker, suhunya masih sekitar 300 derajat celcius,” kata Pak Awuy.

Kami lantas memasuki bungker, menyaksikan bekas keganasan Gunung Merapi. Dalam ruang beton setebal 25 cm dengan pintu besi itu, kami tak dapat melukiskan ketakutan kami. “Ngeri banget,” ujar Denny Riswanto, pendamping BPAP asal Sleman.
Genap dua tahun sudah murka alam itu berlalu. Dan kita akan selalu ingat, di balik keindahannya, Merapi selalu menyimpan ancaman untuk menyemburkan lava dan awan panas! []
___________________
* Semacam catatan perjalanan setelah mengikuti FamTrip Pemkab Sleman, Jogja, pada 1 Juni 2009. Dan waktu itu masih bertatap muka dg Mbah Maridjan.