
Secara pribadi saya kenal penulisnya, kakak angkatan dulu
ketika di Pers Mahasiswa UGM. Saya baru dapat menyempatkan membaca novel ini, padahal
sebelumnya saya sudah menghatamkan karya kedua dari penulis yang sama, judulnya
Kambing dan Hujan, yang mendapat
penghargaan Dewan Kesenian Jakarta.
Kesan saya, dari dua novel yang saya baca, penulis dua roman
ini, Mahfud Ikhwan namanya, berkeras menghadirkan desa sebagai latar (setting) utama cerita. Bagi saya, yang
pernah gandrung dengan roman karya Kuntowijoyo, Umar Kayam, Ahmad Tohari, atau Romo
Mangunwijaya, seperti menemukan kembali setting
cerita yang pernah saya sukai itu. Kampung, desa, udik, seperti menghadirkan
nostalgia, di mana petak-petak sawah, ladang, bukti dan gunung, dan orang-orang
kampung yang sederhana hadir dengan utuh dengan gaya tutur yang enak dibaca.
Tetapi ini bukan sekadar soal nostalgia, di mana saya
kebetulan juga berasal dari kampung, pernah bersentuhan dengan dunia pesantren
dan sebagainya, seperti digambarkan dalam cerita karangan Mahfud ini. Lebih
dari itu, Kambing dan Hujan, dan
terutama Ulid Tak Ingin ke Malaysia,
bagi saya yang awam mengenai perkembangan sastra ini, merasa ada ruang kosong
yang coba diisi oleh karya-karya macam ini. Setting
desa, kampung, menjadi penting karena tak banyak pengarang, terutama penulis-penulis
kekinian, mencoba menceburkan diri dengan menulis cerita berlatar udik ini.
Hal ini boleh jadi karena dua hal. Pertama, penulisnya tak lagi punya keterkaitan langsung dengan
dunia kampung: dia adalah orang kota, atau anak perantau yang besar di kota. Kedua, penulisnya sangat boleh jadi merasa
lebih yakin pembacanya adalah mereka yang berminat dengan isu-isu kekinian yang
kemudian disederhanakan sebagai isu orang kota, modernitas, dunia konsumsi,
pendek kata yang populer saat ini. Meski dia berasal dari desa, penulisnya tak
yakin untuk menulis kehidupan desanya, sebab pembaca mungkin tak suka dengan
itu.
Saya sendiri melihat hal kedua cukup banyak berperan dalam
membentuk karya-karya yang terbit di warsa ini. Itu bisa diringkus sebagai “selera
pasar”. Dan tak banyak yang berupaya keluar dari “selera pasar” itu, karena
tantangannya jelas: tidak laku! Maka jika anggapan ini benar, dapat dikatakan
bahwa pembaca lebih suka membaca cerita tentang orang kota, atau bahkan cerita
tentang orang Indonesia dengan latar di
luar negeri. Pembaca sekarang (terkesan atau dikesankan) lebih suka membaca cerita
dengan tema dan setting kekinian itu.
Jika diselisik lebih jauh, menurut saya, tentu ini ada
kaitannya dengan perkembangan masyarakat yang kian mengkota, makin modern.
Orientasi, gaya hidup, dan segala hal tentang kota adalah hidup sehari-hari
masyarakat sekarang. Masyarakat kampung, seudik apapun hidupnya, jika masih
mampu menyalakan televisi atau sesekali menumpang menontonnya di rumah
tetangga, sedikit banyak mengalami pendaran kehidupan kota melalui berita dan terutama
sinetron. Teknologi siar ini kemudian “mendekatkan” cerita tentang kehidupan
kota itu di kesadaran mereka.
Belum lagi jika membayangkan remaja dan generasi muda yang
bersekolah dengan kurikulum Jakarta, serta pergaulan yang tak jauh dari
televisi, cara mengobrol dan bertukar guyon ala ibu kota, serta sedikit bacaan
tentang kisah-kisah cinta yang meye-meye, maka tentu tak ada tempat bagi mereka
untuk membaca novel-novel dengan latar desa ini. Ngapain membaca cerita yang sehari-hari mereka temukan sebagai
kebiasaan? Ladang, sawah, sungai, kebun, masalah kemelaratan, dan sebagainya,
tak perlu mereka baca, sebab mereka sendiri mengalaminya. Itu jika anak
kampung. Sebaliknya, jika anak kota, maka kehidupan desa adalah kehidupan bapak-ibu
atau kakek nenek mereka yang terkesan jauh, tidak kekinian, tidak dialami langsung
sehingga tak penting bagi mereka, dan itu cukup mereka lihat dan dengar ketika
mereka mudik lebaran atau sedang liburan.
Maka tak ada tempat untuk cerita seperti karangan Mahfud ini
di hati mereka.
Tapi beruntung Mahfud menang Sayembara Dewan Kesenian
Jakarta, sehingga Kambing dan Hujan,
menjadi perbincangan, diliput dan dibedah di mana-mana. Ada saja anak SMA atau
mahasiswa yang membaca, membicarakan, mendiskusikan, atau memuji-mujinya.
Mereka turut dalam lalu-lintas tren penerbitan: novel apa saja yang sedang in, maka mereka akan turut membacanya.
Tapi, lebih dari itu, saya kira tak ada. Mereka mungkin akan kembali kepada
bacaan yang kekinian tadi—sebab utamanya tak banyak novel (apalagi yang ditulis
dengan cara bagus) yang terbit dengan latar cerita desa tadi.
Sayangnya, kepopuleran Kambing
dan hujan tak terjadi pada novel pertama Mahfud, Ulid Tak Ingin ke Malaysia. Menurut saya, melihat covernya saja
pembaca enggan menjamahnya. Gambar perempuan murung dengan tas koper besar di
depannya, dengan jilbab kuning model ibu-ibu pengajian, tentu bukan cover novel
yang baik. Ada sederet kesalahan di bagian sampul buku ini yang tak termaafkan.
Salah satunya yang penting, sampul itu sama sekali tak menggambarkan, atau
hanya menggambarkan sebagian saja tetapi tidak tepat, atas cerita yang
sebetulnya menarik. Ketika mertua saya pertama melihat buku ini, dia bilang,
ini buku tentang TKI? Saya jawab, iya. Memang betul ini novel yang bercerita
tentang TKI, tapi hanya sebagian saja soal itu.
Dari sampulnya, novel ini gagal, terutama karena pada judulnya
tertulis ‘Ulid’, tetapi gambarnya perempuan berkerudung. Coba judulnya Kaswati,
ibunya Ulid, mungkin lebih pas. Alih-alih tampil kenes, sampul buku ini seperti
mengiba-iba. Belum lagi ketika membalik sampulnya, di bagian belakang, tak ada
satupun kalimat pemantik yang lugas dan bernas untuk menggambarkan keistimewaan
novel ini. Sepertinya editor alpa untuk menyejajarkannya dengan karya-karya
Ahmad Tohari atau Umar Kayam, misalnya, perihal tekanan cerita pada novel ini
yang mengangkat masalah perubahan sosial di sebuah kampung. Akhirnya, secara
tampilan, novel ini tak mampu menjadi karya Andrea Hirata (dan memang mungkin tak
dimaksudkan demikian), lantas juga gagal menggambarkan dirinya sebagai novel
yang serius, yang tak meye-meye, yang menggambarkan perubahan sosial dengan
tegas di dalam cerita. Tapi sudahlah, kabarnya nanti akan diterbitkan ulang, kok, dengan tampilan yang lebih layak.
Semoga.
Novel Ulid ini,
akhirnya harus dipahami sebagai novel dengan sasaran pembaca dengan minat
khusus. Bagi saya yang mantan mahasiswa antropologi, misalnya, merasa tak
lengkap jika mengikuti mata kuliah Antropologi Perdesaan tanpa membaca dan
mendiskusikan buku ini. Desa adalah entitas yang terhubung dengan jejaring
nasional dan global. Maka perubahan sosial sebuah desa, tak dapat dijelaskan dengan
lengkap tanpa melihat hubungannya dengan hal-hal di luar dirinya.
Tawakkal, Usaha, Hijrah,
Lalu Tawakkal Lagi
Desa Lerok adalah desa yang dikenal oleh tiga hal: pohon
jati, batu gamping, dan bengkuang. Tak ada anak lerok yang tak mengenal tiga
hal itu: ketakutan terhadap sinder atau mandor hutan yang selalu memeriksa
penduduk desa karena dianggap selalu mencuri pohon jati, proses membakar
gamping di jubung dan tak boleh mengencingi batu gamping karena nanti tak bisa
kencing, juga panen bengkuang yang selalu semarak.
Ulid, yang menjadi tokoh utama, digambarkan sebagai anak lelaki
yang punya rasa segala ingin tahu, kerap kali dengan cara memaksa, dan sering
kali berkelakuan bandel. Tapi begitulah tipikal anak cerdas.
Di bagian-bagian awal cerita, kehidupan Lerok seolah tak
terjamah perubahan: dari zaman buyut dan kakek nenek mereka, begitulah adanya.
Tak bertambah makmur dan hanya sesekali menikmati hasil, terutama ketika jubung
menghasilkan gamping yang lumayan, ditambah lagi panen bengkuang yang juga
lumayan.
Bagi penduduk Lerok, pada masa itu, ayat Tuhan yang paling
diingat adalah perihal tawakkal alias berserah diri. Sementara ayat yang membahas
soal perubahan nasib yang bisa diupayakan dengan usaha, sebagaimana janji Tuhan
untuk mengubah nasib suatu kaum, lebih banyak tenggelam karena pada
kenyataannya, sekuat apa mereka berpeluh, hasilnya tak banyak. Dan Tuhan, sebagaimana
diyakini oleh umatnya, selalu memiliki jawaban, salah satunya melalui tawakkal
tadi. Jika tak menemukan “kebenaran” di satu ayat, atau lebih tepatnya susah
membuktikan kebenaran ayat itu, maka beralihlah kepada ayat yang lain. Bukankah
sudah cukup penduduk Lerok berusaha dengan membakar gamping dan bertani
bengkuang? Jika hasilnya begitu-begitu saja, ya sudah, tawakkal.
Tapi kehidupan yang semenjana itu tak berlangsung lama.
Ketika harga gamping jatuh ke titik nadir dan hasil bengkuang harus bersaing
dengan bengkuang lain yang lebih murah, terkaparlah perekonomian orang Lerok.
Maka entah dari mana asalnya, satu dua orang kemudian berangkat ke Malaysia.
Sebagian kembali sebagai orang gagal, sementara sebagian yang lain seperti
menyadarkan ada ayat Tuhan yang lain yang seharusnya mereka juga yakini: hijrah
dan usaha. Ya, hijrah dapat dimaknai sebagai laku fisik sabagi merantau. Dan merantau
adalah alternatif terbaik sebagai ejawantah dari usaha untuk mengubah nasib.
Bukankah sudah jelas bahwa Tuhan tak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum
itu hanya diam saja? Maka jika hanya tawakkal, mereka tak dapat meningkatkan
taraf hidup mereka.
Maka berangkatlah satu satu orang Lerok ke Malaysia. Laku
merantau, uang ringgit, tape deck, slowrock melayu, rumah-rumah baru, sepeda,
televisi, sepeda motor, masjid baru, jalan beraspal, dan masuknya listrik
adalah rangkaian perubahan yang seperti bergegas mengubah tampilan dan
kehidupan penduduk desa ini. Temaram lampu teplok segera diganti lampu neon
dengan sumber listrik dari diesel. Jika televisi semula hanya ada 4, maka
segera bertambah, bahkan bekali-kali lipat setelah listrik masuk menerangi
kampung-kampung ini.
Percakapan Antara Cak Kusnan, veteran masjid di kampung itu,
dengan Ulid, perihal jarangnya remaja yang berdiam di masjid menggambarkan
dengan utuh bagaimana perubahan itu terjadi. Dari semula masjidnya yang kecil
beralas semen seadanya tetapi selalu ramai oleh anak-anak dan orang dewasa,
menjadi besar dan megah tetapi kerap kali sepi dari jamaah. Televisi, sepeda,
jalan beraspal, kemudian sepeda motor, menyita banyak waktu para pemuda kampung
untuk bergaul di luar masjid. Masjid sama sekali tak menarik, karena mereka
kemudian menemukan kesenangan pada televisi dan menjelajah dengan sepeda atau
sepeda motor.
Tapi sayang, Malaysia tidak selalu menjadi surga bagi orang
Lerok. Ringgit tak selalu mudah didapat, apalagi mereka selalu diintai oleh migreisyen dan polis, karena tak semua TKI memiliki permit untuk bekerja di negeri
jiran ini. Jika tertangkap, mereka akan dipenjara, lalu dibuang kembali ke
Indonesia. Musibah tertangkap adalah malapetaka terburuk bagi orang Lerok.
Dan Tarmidi, ayah Ulid, yang juga menjadi TKI, akhirnya
tertangkap dan dibuang ke Indonesia. Usahanya untuk kembali ke Malaysia juga gagal
karena lagi-lagi tertangkap di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Tarmidi
seperti kehilangan semangat. Maka laku merantau itu kemudian diteruskan oleh Kaswati,
istri Tarmidi, yang terpaksa merantau untuk menutup hutang yang dipinjam untuk
menebus suaminya di penjara Malaysia.
Lalu, Ulid?
Ulid adalah anak paling cerdas dan disiplin di desanya.
Dahaganya terhadap ilmu, usahanya untuk menggapai cita-cita, upayanya untuk
keluar dari rasa sakit dan iba, tak dimiliki oleh anak lain di desanya. Dia
bercita-cita menjadi pemulia tanaman, karena itu dia berpikir akan kuliah di
universitas negeri mengambil jurusan pertanian. Pernah terbersit pula dia ingin
menjadi sejarawan, yang akan meneliti perkembangan pertanian bengkuang di desanya,
menjelaskan mengapa pertanian bengkuang pernah jaya lantas mati sama sekali.
Tapi apakah hanya dengan cita-cita dan usaha manusia bisa
mencapai yang dia ingin?
Novel ini, seperti pukulan telak bagi novel-novel lain yang
seolah ingin bercerita dengan nada “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang
kemudian”, bahwa apapun cita-citanya, dapat dicapai dengan usaha, dan tentu
doa. Pasti ada jalan. Pasti ada kemungkinan. Jika bersungguh-sungguh, cita-cita
pasti tercapai. Man Jadda Wajada...
Maka pembaca novel ini lantas ditunjukkan pada realitas yang
sering kali terjadi tetapi kerap kali diabaikan, atau lebih tepatnya tidak
ingin dibaca dan temui (bukankah happy
ending adalah rumus cerita yang sudah baku?). Tapi nyatanya, seberusaha sekuat
apapun seseorang, dia tetap menemukan tembok tebal tak tertembus. Membaca novel
ini, kita kemudian menemukan, dan juga terpaksa mengakuinya meski getir, bahwa
kehidupan tidak selalu berjalan menanjak, sekuat apapun seseorang berupaya.
Ulid, yang telah mendaftar PMDK, akhirnya juga harus
mengurus paspor untuk ke Malaysia. Sebab dia tak hidup sendirian. Tanggung
jawabnya sebagai anak, baktinya sebagai kakak, harus diwujudkan dengan cara
itu: kerja untuk menutup hutang, dan terus bekerja agar adik-adiknya dapat sekolah
lebih baik dari dirinya.
Pembaca novel ini boleh kecewa, jika tak menemukan
“keberhasilan” sebagaimana dia harapkan seperti dalam novel-novel
“berakit-rakit ke hulu”. Sebab, Ulid, jagoan di novel ini, gagal menjalankan
tugas inspirasionalnya, menjadi pembaharu pendidikan di kampungnya: dia anak
tercerdas di kampungnya seharusnya mampu menamatkan kuliah di universitas
negeri ternama. Himpitan ekonomi, utang, dan perubahan di tempat yang jauh
(Malaysia) yang berakibat langsung ke jantung perekonomian Desa Lerok, akhirnya
memaksa anak ini untuk turut menjadi TKI—sesuatu yang tidak saja bukan cita-citanya,
melainkan juga hal yang dulu pernah paling dibencinya.
Bagi saya, selain poin penting setting desanya yang menawan, novel ini jauh lebih jujur
menggambarkan realitas, bahwa gagal itu biasa dan sudah lumrah. Bahwa tak
selamanya manjadda itu wajada. Saya kira, hal terakhir ini
mewakili sikap “skeptis” penulis novel ini. Hehe...
Wallahua’lam...
0 komentar:
Posting Komentar