Ihwal Ketamakan dalam Robohnya Surau Kami


Oleh: Lukman Solihin
 
Tamak, serakah, rakus, atau loba adalah perilaku ingin mendapatkan sesuatu dengan sebanyak-banyaknya. Termasuk dalam pengertian ini adalah soal ketamakan dalam beribadah. Rupanya perilaku tamak tidak selalu disandingkan dengan makanan, harta, atau hal-hal lain yang sifatnya “duniawi”, melainkan juga kepada praktik ibadah yang sebetulnya lebih bersifat ukhrowi.

Paradoks inilah yang dengan tajam ditonjolkan oleh A.A. Navis dalam buku kumpulan cerpennya yang terkenal: Robohnya Surau Kami. Buku ini mengetengahkan cerpen-cerpen yang secara kuat menggugat makna keimanan, praktik ibadah keseharian, serta tujuan akhir dari praktik ibadah tersebut. Dari sebelas cerpen yang terhimpun dalam buku tersebut, saya paling suka pada dua cerpen, yaitu “Robohnya Surau Kami” dan “Datangnya dan Perginya”. Dua cerpen ini mewakili kegelisahan saya mengenai benturan-benturan yang mungkin terjadi dalam konteks iman dan ibadah terhadap Tuhan.

***

Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” diceritakan mengenai seorang penjaga Surau yang biasa dipanggil Kakek. Si Kakek menghabiskan waktu bertahun-tahun menjadi penjaga surau: memukul bedug di pagi buta untuk membangunkan warga di waktu Subuh, sembahyang setiap waktu, serta bertafakur berjam-jam demi memuliakan nama Tuhan. Kakek ini bahkan tak memiliki keluarga karena pilihannya hanya mengabdi kepada Tuhan. Tak ada dalam pikirannya mengenai istri, anak, atau mencari kaya dan bikin rumah. Hati dan lakunya hanya untuk Sang Maha Pencipta.

Si Kakek hidup dari sedekah yang dipungutnya setiap hari Jumat. Sekali setiap enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam di depan surau. Dan sekali setahun ia mendapat jatah zakat firah. Sehari-harinya, selain menjadi abdi surau, Kakek dikenal sebagai pengasah pisau yang andal. Dari situ ia juga mendapatkan sekadar rokok atau uang rokok dari warga atas bantuannya itu.

Hidup tenang si kakek mulai terusik ketika seorang warga, Ajo Sidi namanya, dikenal sebagai pembual karena sering mengarang cerita, menceritakan sesuatu yang membuat hati si Kakek meradang. Betapa tidak, cerita si Ajo Sidi seolah menempelak pilihan hidupnya sebagai “abdi Tuhan” menjadi sesuatu yang tak bernilai, bahkan laknat di mata Tuhan! Ya, laknat, dan karena itu harus dijebloskan ke dalam tungku api neraka.

Dalam bualan Ajo Sidi, konon kelak di alam akhirat, manusia mengantre di hadapan Tuhan guna menerima penilaian baik dan buruk, untuk kemudian mendapat imbalan berupa surga atau neraka. Tersebutlah seorang Haji yang sudah merasa cukup amal, karena dalam kehidupannya sehari-hari di dunia tak ada lain yang diperbuatnya kecuali beribadah: menyeru, menyebut, dan mendzikirkan nama Tuhan.

Dipanggillah Haji itu ke hadapan Tuhan. Namanya Haji Saleh karena ia pernah ke Mekkah. Ditanyalah ia oleh Tuhan, apa saja yang diperbuatnya di dunia. Maka mendaraslah si Haji mengenai kesibukannya beribadah, dan tak ada jawaban lain kecuali itu. Tuhan tak puas, ditanyanya lagi. Tetapi jawabannya masih sama, dan tak ada jawaban lain kecuali sibuk beribadah. Dan Tuhan masih bertanya lagi, hingga si Haji pasrah dan tak dapat menjawab apa-apa lagi. Tetapi secara mengejutkan Tuhan memasukkannya ke neraka. Ya, neraka! Rupanya Haji yang pernah ke Mekkah ini, yang selama hidupnya hanya diperbuat untuk menyeru nama Tuhan, melaksanakan ibadah tepat waktu, tak henti-hentinya berdzikir, diganjar dengan api neraka.

Terbit rasa ketidakadilan pada diri si Haji, sehingga ia, dengan dukungan teman-temannya yang tak kalah pula dalam hal beribadah, melakukan demonstrasi di hadapan Tuhan. Ia menuntut keadilan, dan menyangka Tuhan telah silap. Di hadapan demonstran itu, Tuhan mendengarkan tuntutan si Haji. Lalu ditanyaNya si Haji tentang asal-muasalnya yang tinggal di Indonesia; negeri yang tanahnya subur, kaya tambang, tetapi diperbudak dan dikeruk hartanya oleh orang lain. Di negeri si Haji itu pula mereka saling bertengkar, dan rela melarat sehingga anak cucunya tetap juga melarat.

Si Haji mengelak. Meskipun mereka hidup melarat tetapi mereka semua tetap mejalankan perintah Tuhan, bahkan anak cucu mereka semua pintar mengaji. Tuhan mulai naik pitam, dihardiknya si Haji. Katanya, kalau betul engkau mengerjakan perintahKu, mengapa pula kau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua!

Kata Tuhan:

‘Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!’

Si Haji menjadi pucat pasi. Digiringlah mereka kembali ke neraka. Tapi si Haji masih sempat bertanya pada malaikat yang menggiringnya. Tapi jawaban malaikat makin membuat hatinya kecut. Kata malaikat:

Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun’.

***

Adapun cerpen “Datangnya dan Perginya” bercerita tentang seorang ayah yang dulu pernah biadab kepada anak-istrinya, yang kemudian bertobat, namun tak seluruhnya dapat terbebas dari dampak perbuatannya yang lalu-lalu. Kebejatan si Ayah dimulai saat istrinya meninggal. Ketika itu, anaknya si Masri masih berumur tiga tahun. Ia akhirnya kawin lagi, tetapi bahtera rumah tangganya tak menemui ketenangan. Ia mendambakan istri barunya berlaku seperti istrinya yang telah mati. Kehidupannya penuh cekcok dan akhirnya berujung pada perceraian. Hal itu dilakukan ketika istrinya sedang mengandung anak kedua.

Suami istri ini lalu berpisah, dan si Ayah kembali hidup berdua saja dengan anaknya, sedangkan istrinya pergi entah kemana dengan perutnya yang bunting. Konflik keluarga ternyata terus berlanjut karena anaknya, Masri, dengan mata kepalanya sendiri, memergoki Ayah-nya sedang berasyik-masyuk dengan seorang pelacur. Si anak diusir dan lalu kabur tak kembali lagi. 

Kejadian-kejadian itu lalu menginsyafkan si Ayah, sehingga ia kemudian berbalik menjadi orang baik, taat beribadah, dan memilih tidak kawin lagi. Lama si Ayah hidup dalam kesendirian, hingga akhirnya ia mendapat kabar bahwa anaknya kini telah berkeluarga. Masri, anaknya itu, mengirimnya surat dan foto seukuran poskar: foto Masri dan anak istrinya. Betapa rindunya si Ayah, dan betapa malunya ia harus bertemu dengan anak yang dulu pernah diusirnya. Tetapi perasaan kangen itu tak dapat lagi ditindihnya, sehingga ia memutuskan untuk menemui anaknya. Perjalanan jauh dengan kereta dilakoninya untuk meminta ampun kepada anaknya, dan menyaksikan langsung kebahagiaan anaknya kini.

Tapi malang, ketika di muka rumah sang anak, bukan anak yang dirindukannya yang nampak, melainkan mantan istrinya, Iyah, yang dulu diceraikannya saat hamil. Mereka lalu bertengkar tentang masa lalu mereka. Dan nyatalah kemudian, bahwa perbuataan masa lalunya punya ekor yang tak terduga: Masri anak lelakinya sudah kawin dengan anak perempuan Iyah yang dulu bercerai dengannya dalam keadaan bunting!

Terbit perasaan malu, bersalah, dan keinginan untuk menolak kenyataan itu. Di sisa usianya yang telah senja, ia tak mau mendapat tambahan dosa dengan mengetahui dosa besar itu, dosa inses yang dikutuk Tuhan. Ia tak mau menjadi bagian dari laknat Tuhan tersebut. Maka didesaknya mantan istrinya untuk mengatakan hal sebenarnya kepada Masri. Tapi Iyah berkukuh tak mau merusakkan keluarga kedua anaknya. Ia tak mampu membayangkan si Arni, anaknya, akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya dulu: dicerai oleh suaminya, bahkan lebih buruk karena sudah beranak dua dan akan tiga karena Arni sedang bunting.

Pertengkaran dua orang uzur ini patut sekali untuk disimak:

‘Ini semua dosa Iyah. Dosa besar. Dosa bagi kita. Dosa bagiku, dosa bagi kau. Juga dosa bagi mereka. Aku harus memberi tahu mereka. Kalau selama ini aku telah mendapatkan keridaan Tuhan, kenapa pula harus kukotori di akhir hidupku?’

Oh, alangkah tamaknya kau. Maumu hanya supaya kau saja bebas dari akibat perbuatanmu yang salah dulu. Sehingga kini kau juga ingin merusakkan kebahagiaan anak-anakmu sendiri. Kau pikir, dapatkah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung risiko dari kesalahan yang telah kau lakukan sendiri? Akal kau, iman kau, hanya suatu ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu.

‘Kau murtad, Iyah!’

‘Lebih baik daripada orang sepengecut kau! Memang, adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara kandung. Tapi aku dari semula sudah salah. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. Dalam hal ini mereka tidak salah. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu, aku ditindih perasaan berdosa sepajang waktu. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Sampai sekarang. Kurangkah imanku, kalau dosaku adalah dosaku. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain, apalagi kepada anak-anakku? Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami. Aku merasakan itu. Dan aku tak rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu.’

***

Kedua cerpen yang saya nukilkan ini menyiratkan satu hal yang sama: ketamakan untuk meraih surga sebagai pelampiasan kegagalan menjalani hidup di dunia. Surga adalah langkah eskapis yang paling mungkin dan janji yang paling menjanjikan, sehingga untuk mencapainya manusia kerap berlaku serakah dan lupa akan kehidupan sosial yang mengitarinya. 
Contoh ekstrim perilaku tamak juga dapat ditemui dalam praktik “syahid” yang dipilih oleh para pengebom bunuh diri. Seorang “pengantin” (sebutan untuk pembom bunuh diri) misalnya, dengan egoisnya ingin mencapai surga dengan cara yang konyol. Ia tak ambil pusing dengan dampak yang bakal ditimbulkannya: orang-orang yang meninggal tanpa tahu kesalahannya apa, anak-anak yang ditinggal bapak/ibunya, juga anak-istrinya sendiri yang bakal “merana” karena ditinggal bapaknya yang egois ingin mencapai surga sendirian. Ya, sendirian! Sebab di sana ia berharap akan bertemu dengan bidadari, yang tentu jauh lebih cantik daripada istrinya sendiri.

Saya sepakat dengan pemahaman bahwa ibadah tidak harus selalu berorientasi kepada pahala dan/atau surga. Sebab, ibadah sejatinya adalah jalan untuk meraih keridaan Tuhan. Setiap orientasi yang sifatnya balasan kenikmatan di akhirat (seperti surga, bidadari, maupun sungai-sungai susu yang mengitarinya), saya kira seperti sikap pedagang yang selalu ingin untung. Sama halnya dengan tren sedekah yang diiming-imingi akan melipatgandakan rezeki, bukan lagi ditujukan untuk mengharap keridaan Tuhan. Keridaan Tuhan ini seharusnya menjadi tujuan yang transenden, sehingga ia mengatasi tujuan lain yang sifatnya untung-rugi.

Dua cerpen ini saya kira masih cukup relevan untuk direnungkan hingga hari ini. Sebab, masih banyak kita temukan orang-orang yang dengan gelojoh mencari dan mengumpulkan remah pahala hanya untuk dirinya sendiri. Juga orang-orang yang enggan mengakui perbuatan dosanya di masa lalu, yang berakibat fatal bagi orang lain hingga masa kini. Dua cerpen ini juga mengajak kita untuk berkaca: apakah ibadah yang kita lakukan lebih karena takut terpanggang panasnya api neraka dan ingin mendapat balasan surga, atau betul-betul sebagai laku makhluk yang hanya ingin mendapat rida sang Khalik?

Wallahua’lam...

3 KEBETULAN


Syahdan, seperti dikatakan Ayu Utami, “Jika kebetulan terjadi begitu banyak, maka seorang ilmuwan [akan] mencari pola, dan seorang beriman mencari rencana Tuhan”. Kalimat cantik nan kena ini saya kutip dari novel Manjali dan Chakrabirawa, yang mengisahkan cerita cinta “terlarang” karena berkelindan dengan kelam masa lalu: sejarah tentang pembantaian PKI.

Tapi sayangnya, saya bukan seorang ilmuwan, atau setidaknya belum menjadi ilmuwan. Begitu pun, saya belum berani mendaku diri sebagai seorang beriman, sebab saya rasa predikat itu terlampau tingginya. Saya masih seperti awam kebanyakan dalam menghadapi berkah atau musibah: kalau tidak mengumpat, ya mendaras hamdalah. 

Misalkan, pas tidak bawa duit, kena musibah ban sepeda motor bocor. Pas mau telepon, operator dengan merdunya berkumandang: sisa pulsa Anda tidak cukup... tut-tut-tut. Mengutip @sudjiwotedjo, tak bisa tidak saya katakan #Janjuk untuk kondisi ini. Ini sebuah kebetulan yang dapat diringkus ke dalam satu kata saja: sial! Atau padanannya: nahas! Atau: malang! Atau: musibah!

Tapi puji Tuhan, sejauh ini saya masih dijauhkan dari musibah yang demikian. Malahan, akhir minggu kemarin, Tuhan dan alam rupanya berkonspirasi menyuguhkan kebetulan yang membahagiakan buat saya.

Pertama, anak semata wayang kami, Chiya Maruya habis terima raport. Kata si bunda, setelah dijelaskan mengenai nilai-nilai dan perkembangannya selama di TK-A yang alhamdulillah baik, maka semua wali murid dan murid dikumpulkan. Katanya bakal ada murid yang akan mendapatkan piala, setelah diadakan penilaian (secara keseluruhan) oleh guru sebagai murid terbaik.
Murid terbaik ini dipilih dari kelas TK-A maupun B. Pas diumumkan, si bunda bisa dibilang tak punya feeling apalagi ekspektasi anaknya bakal mendapat piala. Malahan, kata si bunda, dia berpikir bagaimana nanti kalau Chiya Maruya “agak kecewa” karena tidak dapat piala. Sehingga harus dipikirkan langkah-langkah yang tepat untuk tetap menjaga motivasinya.

Lah, ndilalah ternyata Chiya Maruya dipanggil sebagai peserta terbaik ketiga. Sementara peserta terbaik pertama dan kedua diraih oleh anak-anak kelas TK-B yang akan melanjutkan ke SD. Tentu kami kaget bercampur senang. Sampai-sampai, setelah pulang kerja, kami menyempatkan diri “menyelinap” ke toko mainan untuk membelikan semacam hadiah.

Bersama Frans Padak Demon, Direktur VOA-Indonesia
Kebetulan kedua, terjadi ketika kami sedang mencari mainan untuk hadiah si Chiya. Waktu itu saya ditelpon oleh seseorang yang mengkonfirmasi nama saya, sekaligus menanyakan apakah benar saya telah mengirimkan tulisan untuk kontes nge-blog VOA-Indonesia. Ya, jawab saya. Saya sudah mendeteksi arah pembicaraan telepon itu. Melalui percakapan itu saya tahu saya menjadi pemenang ke-2, dan memperoleh I-Pod touch karena tulisan saya tentang perbandingan tukang becak di Indonesia dan di New York (Tukang Becak: Yang Bebas dan Terpaksa Memilih). Hampir saja saya memekik. Saya senang bukan kepalang (meskipun saya masih berpikir juga, I-Pod itu yang kayak apa, hehe...). Ini seperti meniru tajuk iklan: apapun hadiahnya, yang penting jadi salah satu pemenang.

Kebahagiaan saya rupanya dianggap belum cukup, sehingga Tuhan menganugerahkan lagi kejutan ketiga. Seorang kawan di sebuah lembaga kajian dan pengembangan, yang menerbitkan sebuah Jurnal Kajian Pariwisata, memberi kabar bahwa tulisan saya diterbitkan oleh jurnal tersebut. Wow...

Ini betul-betul anugerah bagi saya. Kebetulan yang berkah. Melalui ketiga kebetulan itu saya menjadi lebih bersemangat lagi: bersemangat untuk turut belajar bersama anak kami, bersemangat kembali menyelami buku-buku, juga menulis hal-hal yang serius dan tak serius.

Saya kira, ini merupakan salah satu hal termanis yang dianugerahkan Tuhan kepada saya, selain hal-hal yang mungkin sudah saya lupa... Astaghfirullahaladzim dan Alhamdulillah...

Menyingkap Holocaust yang Terlupakan


Lukman Solihin
 
Sejarah tak hanya mencatat sesuatu yang heroik dan romantik. Sejarah (seharusnya) juga merekam dan mewartakan cerita pedih, sepedih tragedi Nanking.

Kalau bukan karena cerita memilukan yang dikisahkan orang tuanya, boleh jadi Irish Chang takkan pernah tahu riwayat salah satu tragedi terbesar di zaman modern itu. Bertahun-tahun cerita pembantaian penduduk Kota Nanking oleh balatentara Jepang berkelebat saja sebagai bagian dari imajinasi masa kecilnya. Orang tuanya yang selamat dari peristiwa itu, hidup menggelandang dari daratan China menuju Taiwan, kemudian ke Amerika Serikat—tempat Chang dibesarkan dan meniti karier sebagai jurnalis dan penulis profesional.

Tetapi, kisah tragis Nanking ternyata tak banyak dicatat sejarah. Buku-buku babon tentang sejarah PD II, seperti Memoirs of the Second World War karangan Winston Churchill, atau Second World War karangan Gerhard Weinberg sama sekali tidak memuat keterangan tentang tragedi Nanking. Memori masa kanak-kanak itu kembali mencuat saat Chang menghadiri sebuah koferensi Aliansi Global untuk Melindungi Sejarah Perang Dunia II di Asia tahun 1994, yang memamerkan foto para korban tragedi Nanking yang disebutnya “foto-foto terkejam yang pernah kulihat dalam hidupku”.

Walaupun ia telah begitu sering mendengar cerita kekejaman Nanking dari orang tuanya, toh Chang tetap syok menatap gambar-gambar seukuran poster yang memotret jelas kekejaman itu: gambar hitam putih kepala-kepala yang dipenggal, perut-perut menganga, wanita telanjang yang dipaksa berpose dengan berbagai gaya, juga gambar wanita-wanita yang tewas sehabis diperkosa dan dianiaya dengan bayonet atau tongkat yang menghujam beberapa titik pada tubuhnya.

Lantas, mengapa pembantaian yang diperkirakan menewaskan sekira 300.000 jiwa dalam waktu (hanya) enam Minggu dan 80.000 di antaranya diperkosa dengan sadis, tidak tercatat secara gamblang dalam sejarah—yang artinya tidak diketahui secara luas oleh masyarakat dunia? Dalam penyelidikannya, Chang kemudian tahu, bahwa pemerintah Jepang secara sistematis menyembunyikan tragedi itu. Negara adidaya seperti Amerika pun merasa tak memiliki kepentingan khusus untuk menguaknya, karena pasca-PD II, Jepang merupakan sekutu Amerika untuk melawan penetrasi komunisme di Asia.

Kondisi tersebut memotivasi Chang untuk mengadakan riset mendalam tentang sejarah pembantaian Nanking. Hasil riset itulah yang kemudian dipublikasikan dengan judul The Rape of Nanking: The Forgotten Holocaust of World War II (buku terjemahan yang diterbitkan Penerbit NARASI berjudul sama, dengan anak judul: Holocaust yang Terlupakan dari Perang Dunia Kedua).

Secara eksplisit Chang memang menyamakan tragedi ini dengan pembantaian Yahudi yang dilakukan NAZI di bawah Hitler. Bagi Chang, meskipun holocaust merupakan tragedi terbesar pada masyarakat modern (menewaskan sekitar 6 juta orang Yahudi), namun kekejaman itu dilakukan dalam rentang enam tahun. Bandingkan dengan kekejaman tentara Jepang yang membantai ratusan ribu penduduk Kota Nanking dalam tempo enam minggu.

Holocaust Enam Minggu

Sebelum jatuh ke tangan Jepang, Nanking atau Nanjing adalah ibukota kaum nasionalis yang diresmikan oleh Chiang Kay-shek pada 1928. Setelah tentara Jepang menundukkan Shanghai pada November 1937, tentara Jepang mulai merangsek menuju Nanking. Berbeda dengan Shanghai yang ditundukkan dengan susah payah, Nanking dapat ditaklukkan hanya dalam empat hari (pada 12 Desember 1937 malam).

Jatuhnya Kota Nanking ternyata menimbulkan dilema bagi tentara Jepang. Penaklukan dengan mudah kota ini menyisakan persoalan pelik: tawanan dengan jumlah ratusan ribu orang (melampaui berkali-lipat jumlah tentara Jepang sendiri). Pada masa perang, tawanan adalah beban, karena itu harus disingkirkan. Pangeran Asaka Yasuhiko, paman Kaisar Hirohito yang memimpin tentara Jepang di Nanking kemudian mengirim kawat perintah: “Rahasia, segera hancurkan”. Ada logika tak berperasaan dalam perintah ini. Para tawanan tak dapat diberi makan, sehingga mereka harus dilenyapkan. Di samping itu, membunuh mereka tak hanya mengeliminasi masalah pangan, tetapi juga mengurangi kemungkinan pemogokan dan pemberontakan.

Perintah ini dilaksanakan secara sistematis oleh balatentara Jepang. Puluhan ribu orang dibariskan di tepian sungai Yangtze, mereka dipenggal atau ditembak dengan senapan mesin. Seorang koresponden Jepang, Imai Masatake, menyaksikan adegan memilukan itu. Mayat-mayat yang berlumuran darah, ditimbun setinggi puluhan meter, menyerupai sebuah bukit. Tawanan yang masih hidup diperintahkan memindahkan satu per satu mayat ke tepian sungai. Mereka bekerja dalam diam, mengangkat mayat saudara sebangsa mereka sendiri, seperti pantomim. Setelah para tawanan itu menyelesaikan pekerjaannya, para serdadu Jepang menyuruh mereka berbaris di sepanjang tubir sungai. Dan... “Rat-tat-tat senapan mesin terdengar. Para kuli itu pun roboh dan tertelan arus sungai. Pertunjukan pantomim pun usai” (hlm. 57).

Tetapi, praktik membunuh dengan “cara biasa“ juga memiliki titik kebosanan. Sebab itu, metode baru yang lebih “menyenangkan” pun diterapkan: perlombaan memenggal kepala terbanyak! Seperti diberitakan oleh Japan Advertiser, dua letnan muda Jepang berlomba memenggal seratus kepala tawanan Cina. Kontes itu diberitakan dengan bersemangat, seolah-olah perlombaan menjadi pembunuh tercepat adalah hiburan.

Para perempuan, dari anak-anak hingga nenek-nenek, adalah tawanan yang paling mengenaskan. Tentara-tentara Jepang tidak sekadar memerkosa mereka, tetapi juga mengiris perut, memotong payudaranya, atau memakunya di dinding. Bahkan yang menyedihkan, para tentara memaksa bapak-bapak memerkosa anak mereka, atau anak-anak memerkosa ibu mereka.

Membaca The Rape of Nanking, kita memang dihadapkan pada potret horor perilaku manusia. Chang mencoba menjawab pertanyaan mengapa tentara Jepang begitu brutal dengan menelusuri jejak ideologi yang ditanamkan pada mereka. Jawabannya mengerucut pada etika bushido, yakni prinsip setia dan berani mati ala kesatia Jepang (samurai). Prinsip ini ditetapkan sebagai prinsip moral bagi seluruh warga negara, di samping prinsip mengabdi untuk sang kaisar. Prinsip inilah yang menggetarkan militer lawan karena tentara Jepang dikenal sebagai tentara berani mati (kamikaze).

Sebagaimana NAZI yang mengembangkan ideologi ras unggul, Jepang pun membangun ideologi sebagai ras super yang “ditakdirkan menguasai Asia”. Paham ini rupanya menistakan ras-ras lain untuk membangun rasa percaya diri bangsanya. Ada tiga tingkat pemahaman yang diutarakan oleh Chang berkaitan dengan hal ini. Menurutnya, etika bushido telah memosisikan kaisar sebagai satu-satunya manusia teristimewa, dan orang Jepang sebagai manusia unggul di bawahnya. Sedangkan orang Cina, yang menjadi pesaing dalam satu kawasan, dianggap sebagai bukan manusia. Pemahaman ini rupanya terpatri betul dalam benak tentara Jepang. Seorang tentara Jepang, Azuma Shiro menulis dalam diary-nya: “Sekarang seekor babi lebih berharga daripada nyawa seorang Cina. Itu karena babi dapat dimakan” (hlm. 267).

Tentara Jepang pun dilatih untuk terbiasa berbuat kejam. Membunuh dengan obyek tawanan yang masih hidup merupakan latihan biasa. Latihan membunuh ini merupakan metode untuk menghilangkan rasa takut dan kasihan (rasa kemanusiaan yang paling asasi). Dengan begitu, mereka diproyeksikan sebagai mesin pembunuh, sehingga kekejaman-kekejaman yang dilakukan tak lagi terasa “istimewa”, tetapi banal.

Banalitas kejahatan, meminjam konsep Hannah Arendt, berlangsung dengan pola instruksi yang tak dapat dibantah. Para pelakunya tak dapat menalar apakah perbuatan yang diperintahkan itu layak demi kemanusiaan atau tidak. Sebab, dalam kasus tragedi Nanking, para tentara memang dilatih untuk “mati rasa dan mati nalar”. Mereka melakukan kejahatan bukan karena mereka “monster”, melainkan karena dorongan dan perintah dari luar dirinya. Itulah salah satu manifestasi dari kekuasaan totaliter, yang mana kekuasaan dikendalikan memusat dengan pembenaran-pembenaran ideologis, seperti etika bushido dan ras unggul ala Jepang.

Kita dapat belajar dari tragedi Nangking. Upaya membongkar dan mengakui sejarah kelam merupakan salah satu cara mengambil hikmah dari masa lalu. Seperti ungkapan abadi filsuf George Santayana: “Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalunya akan cenderung mengulanginya.” []

* Diterbitkan oleh Media Indonesia, 26 September 2009
_________________________
Judul               : The Rape of Nanking: Holocaust yang Terlupakan dari Sejarah Perang Dunia Kedua
Penulis            : Irish Chang
Penerjemah    : Febiola Reza Wijayani
Penerbit          : Narasi, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, 2009
Tebal                : xii + 404 halaman

Pram Menafsir Arok dan Saya (mencoba) Menafsirkannya Lagi

Lukman S.
Dulu sebetulnya saya sudah pernah membaca Arok Dedes-Pram. Tapi waktu itu memang masanya berbeda, intensinya juga berbeda, sehingga yang saya tangkap sekadar kepiawaian Pram bercerita secara memikat dengan –tentu saja- pemanfaatan sumber sejarah yang begitu kuat.
Dan, saat sekarang saya mencoba membaca lagi buku setebal 418 halaman itu, bukan lagi di Jogja, melainkan di Jakarta, dengan suasana yang berbeda, dan waktu luang yang sangat cukup untuk “kejar target”, ternyata impresi yang saya tangkap sungguh amat mengesankan.
Ya, pembacaan kedua atas sebuah teks niscaya bakal menghasilkan kesimpulan yang tak sama, setidaknya ada tambahan-tambahan simpulan baru yang tak kalah menakjubkannya dari pembacaan yang pertama. Mungkin, suasana dan tenggat waktu membaca (di mana ketika membaca teks yang pertama dan kedua ada asupan-asupan pengetahuan lain), dan faktor-faktor lain yang entah apa saja, cukup mempengaruhi cara kita memandang dan menilai sebuah teks.
Baiklah, tiga paragraf di atas sekadar ingin bilang bahwa pembacaan saya yang pertama pada Arok Dedes dulu, ketika masih kuliah, degan sekarang yang “kebetulan” sedang menganggur, menambah beberapa kesimpulan baru yang menurut saya penting untuk saya ulas.
Secara tak sengaja, di tempat penyewaan buku di dekat rumah, yang juga menjadi tempat saya menyewa Arok Dedes itu, saya menemukan buku proyek Depdikbud berjudul Seri Penerbitan Sejarah Peradaban Manusia: Zaman Singasari. Ya, betul-betul kebetulan, sebab secara tak sengaja saya mengalihkan pencarian ke rak cerita anak-anak dan menemukan buku setebal 24 halaman itu. Penyusun utamanya (juga ditulis di dalam kurung sebagai pemegang Hak Cipta) adalah Y. Achadiati S.
Maksud saya, melalui kebetulan ini, saya mendapat beberapa hal penguat bagi kesimpulan-kesimpulan saya mengenai cerita yang dikarang Pram. Sebab versi Achadiati adalah versi ilmiah dari seorang ahli sejarah kuno (juga arkeolog), sementara versi Pram adalah versi seorang sastrawan.
Saya tidak sedang ingin bilang bahwa Achadiati lebih ilmiah, atau lebih betul, sedangkan versi Pram lebih fiktif dan sudah tentu keliru. Alih-alih demikian, saya malahan ingin menunjukkan apa yang jarang dimanfaatkan oleh para ilmuan, yaitu imajinasi dan daya keratif penafsiran. Tentu saja, kaidah-kaidah ilmiah juga turut serta menutup kemungkinan penafsiran yang terlampau “kreatif”, maksudnya melebihi kesimpulan yang dapat diajukan dari data dan fakta yang ditemukan.
Achadiati bercerita tentang Arok dan wangsa Rajasa (raja-raja keturunan Arok) karena ia membaca babad Pararaton dan babad Kertanegara, juga prasasti-prasasti kuno. Karena alasan batasan obyektivitas dan kerangka metode ilmiah, maka ia tak bisa menggunakan kemampuan lain: imajinasi dan daya kreatif penafsiran. Oleh sebab itu, detail cerita yang mampu diulas sangat terbatas, sesuai dengan pengetahuan awam kita melalui cerita rakyat mengenai sosok Arok dan Dedes. Bahwa Arok adalah seorang bandit keturunan jelata (yang konon merupakan titisan Brahma), perampok dan penjudi yang kemudian mengabdi di Tumapel, dan karena menyaksikan (maaf) selangkangan Dedes mengeluarkan sinar pertanda perbawa, ia kemudian membunuh majikannya untuk mendapatkan Dedes.
Berbeda penafsiran yang dilakukan Pram, dan ini yang biasa dilakukan oleh para prosa-wan, yaitu (meminjam perkataan Umar Kayam) menciptakan dunia alternatif sendiri dalam cerita. Dan Pram (inilah kelihaian yang saya maksud) mampu menafsirkan cerita Arok yang berbau mitos menjadi mengada dalam konteks sosial politik pada jamannya.
Bercerita melalui prosa membuat Arok begitu hidup. Dan sebagai konsekuensinya, Arok sebagai seorang tokoh pembangkang diletakkan pada sebuah konteks sosial dan politik, juga percaturan agama, serta jalan cerita yang dibuat mengalir sesuai logika khas Pram: bahwa politik ditempuh dengan jalan yang rumit. Politik adalah bagaimana cara memperoleh dan memainkan kekuasaan. Tidak dengan cara mistis memesan keris sakti lalu menggunakannya untuk membunuh.
Perebutan tahta sebagai Akuwu Tumapel oleh Arok dari Tunggul Ametung tidak ditafsirkan oleh Pram sebagaimana cerita awam: melalui pembunuhan dengan keris buatan Empu Gandring. Kematian Empu Gandring, dalam cerita karangan Pram, hanya satu bagian saja, hanya titik puncak dari sebuah rencana pemberontakan yang disusun matang oleh seorang calon pemimpin berbakat yang didukung oleh kondisi sosial dan politik pada masanya. Sungguh tidak dapat dinalar jika Arok dengan begitu saja memesan keris sakti, lalu menusukkannya ke punggung Tunggul Ametung, kemudian berhasil meraih kekuasaan dengan mengawini si cantik Dedes.
Tidak. Bagi Pram, setiap pemberontakan dimulai dengan persiapan matang. Dan keris yang dipesan kepada Empu Gandring tidak dimaknai oleh Pram sebagai memesan keris, melainkan senjata. Gaman tidak dimaknai sebagai senjata yang sakti mandraguna, melainkan alat perang yang riil: senjata berjumlah ribuan untuk berperang melawan tentara Tumapel.
Ya, Arok memesan senjata tombak tangan, tombak panjang, dan pedang yang berjumlah ribuan untuk pasukannya. Itulah mengapa sebuah pemberontakan terhadap Tunggul Ametung, kemudian seterusnya kepada kekuasaan Kertajaya di Kediri dapat berhasil, dan mampu mendaulat Arok sebagai Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, raja pertama Kerajaan Singosari yang kelak menurunkan pula raja-raja masa Majapahit.

Agama dan Agamawan
Selain menyusun kekuatan tentara yang terpercaya dari kalangan masyarakat bawah, Arok juga memperoleh dukungan dari kaum agamawan, yakni kaum Brahmana yang notabene merupakan kasta tertinggi dalam agama Hindu. Lantas mengapa kaum Brahmana mendukung tokoh muda yang tak jelas asal usulnya ini? Bukankah dalam kepercayaan Hindu klasik di Jawa, kasta adalah suatu lingkaran yang sulit ditembus?
Menjawab ini, Pram secara khusus mengistilahkan Arok sebagai Satria yang berasal dari kaum Sudra, dan berhati Brahmana (itu karena pengetahuan keagamaannya telah mumpuni setelah berguru kepada Dang Hyang Lohgawe). Ya, dalam satu sosok pemimpin masa depan itu bersatu tiga representasi golongan, yang memungkinkan keberadannya diterima dan didukung oleh lingkungan sosial politik pada masanya.
Selain itu, kaum agamawan memiliki alasan khusus mengapa mendukung Arok. Arok adalah jawaban atas perjuangan bawah tanah kaum Brahmana yang selama ratusan tahun peranannya telah diminimalkan. Ya, sejak Sri Baginda Erlangga (pendiri Wangsa Isyana)  munggah tahta, hingga masa Kertajaya di Kediri pada masa Arok, pemujaan terhadap leluhur yang dianggap titisan dewa (diperdewakan) kian marak, sehingga mulai menggusur pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa (dewa tertinggi menurut kaum Brahmana). Selain pemujaan kepada leluhur, pemujaan terhadap Wisnu, dewa pujaan kaum tani dan para Satria, menggantikan pemujaan terhadap Siwa dan syaktinya (istri), Dewi Durga. Arca Erlangga dapat kita lihat sebagai titisan Wisnu berupa burung Garuda (saat ini digunakan sebagai lambang UNAIR). Arca ini konon dahulu juga disembah oleh keturunan dan rakyatnya sebagai dewa.
Kaum Brahmana melihat pergeseran kepercayaan ini sebagai “pemurtadan” dari ajaran Hindu, sehingga harus diluruskan. Dan pelurusan ajaran tak dapat tidak harus dengan merebut kekuasaan. Nah, di sinilah agama dan agamawan tidak berdiri di dalam ruang kedap suara. Agama dan agmawan adalah pendukung dan pembangkang langsung dalam kancah politik.
Selain agama dalam kancah politik, cerita Arok Dedes juga menyajikan sesuatu yang menyadarkan saya betapa kesimpulan ilmiah kadang menggelapkan mata kita tentang sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Maksud saya, ini soal kerukunan agama yang oleh para ahli sejarah kuno, juga arkeolog, ketika menafsirkan prasasti-prasasti serta menafsirkan keberadaan dan posisi candi-candi baik Hindu, Buddha, atau antara pemuja Siwa dan Wisnu yang saling bersinggungan dan berdekatan dianggap sebagai representasi kerukunan antar-agama. Kita lupa, dan mungkin tak pernah terbersit lagi dalam pikiran kita, bahwa permusuhan antar-agama, atau antar sekte di dalam satu agama juga sangat mungkin terjadi pada masa lalu.
Ini kesimpulan kreatif yang (sejauh ini) tidak saya peroleh dari analisis ilmiah. Pram menunjukkan, bahwa antara Buddha dan Hindu, bahkan antara penganut Siwa dan Wisnu di dalam satu agama Hindu sendiri terjadi pertentangan yang sangat serius. Tunggul Ametung dan Kertajaya (Raja kediri) menganut Hindu, tetapi aliran Wisnuisme. Sementara Arok dan kaum Brahmana yang mendukungnya bermaksud ingin mengembalikan kejayaan Siwaisme.
Ya, sejak agama-agama belum sampai di Nusantara, setiap suku hampir pasti mengembangkan kepercayaan lokal masing-masing. Dan setelah agama-agama datang (meminjam istilah Achadiyati), kebudayaan yang makin halus mulai muncul. Begitu juga tatanan sosial makin mantap, dengan garis demarkasi yang jelas dengan kebudayaan sebelumnya: agama membedakan antara manusia beradab dan tidak.
Tetapi melalui cerita-cerita yang dirajut Pram kita tahu, agama-agama juga berkait-kelindan dengan politik: agama turut serta dalam mengukuhkan kekuasaan atau menolaknya.
Di sini nampak apa yang terakhir ingin saya sampaikan : bahwa mengarang ala Pram, adalah menafsirkan sejarah untuk kepentingan bangsanya. Proses kepengarangan tidak dilakukan sesuka hati: mengarang untuk kepuasan pengarang. Mengarang adalah kerja literer untuk membangun jiwa bangsanya. []

Tukang Becak : Yang Bebas dan Yang Terpaksa Memilih

Lukman S. 

Pertengahan Februari lalu kami liburan ke Jogja. Sampai di Stasiun Tugu, kami sengaja tidak memilih taksi untuk pergi ke hotel, melainkan mencoba bernostalgia dengan menumpang becak. Si Chiya, anak kami, girang bukan main karena setelah sekian lama, baru kali itu dia merasakan kembali pengalaman naik becak. Dulu waktu kami masih bermukim di Jogja, di akhir pekan, sering kami menyewa becak mini yang disewakan di Alun-Alun Kidul. Rasanya asyik berkeliling alun-alun dengan becak mini itu.

Belum lama ini, teman saya berkesempatan pergi ke New York dalam rangka memenuhi tanggungan kerjanya. Dia sempat berfoto saat naik becak di sana. Saya akhirnya tahu, di New York ada becak (pedicab) juga. Lalu kira-kira, apa bedanya ya para penarik becak di New York dengan di Indonesia?

Kalau merujuk kepada peribahasa mungkin salah satu jawabannya adalah TEMPAT. Katanya: Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya. Meskipun profesinya sama, tetapi karena berada dan dilakukan di tempat yang berbeda, maka berbeda pula nilanya, berbeda pula cara kita melihatnya.

Frankie Legarreta. Sumber: http://www.voaindonesian.com
Mari kita bandingkan cerita “bosan jadi pegawai” sebagaimana judul acara di salah satu televisi di Indonesia ini. Seorang pekerja kantoran merasa bosan bekerja di dalam ruangan berpenyejuk udara, dibatasi geraknya oleh ruang, dan tak memiliki banyak waktu luang. Membosankan. Ia lalu membebaskan diri dengan cara yang menurut sebagian besar rakyat Indonesia tidak lazim: menjadi tukang becak.

Tapi tunggu dulu. Ini adalah pilihan yang dilakukan oleh Frankie Legarreta, seorang warga Manhattan yang telah mengayuh becak selama enam tahun ini di seputar Central Park, New York. Pilihan pekerjaannya cukup unik, terkesan “out of the box”, sehingga  ia layak diberitakan oleh VOA dengan tajuk “Kisah Seorang Penarik Becak di Kota New York” (3 April 2012).

Tentu saja, ini bukan keputusan tergesa karena tanpa pilihan seperti dilakukan oleh banyak penarik becak di negeri ini, sebut saja Kastini (seorang Ibu penarik becak di kd ota Tuban), atau Mbah Pon atau Ponirah (ibu penarik becak di Bantul, Yogyakarta), Dewi Rapika (ibu penarik becak motor di Medan), atau bahkan Suharto (mantan atlet balap sepeda yang pernah menyumbangkan medali emas pada SEA Games 1979 yang juga membecak).

Pekerjaan Frankie menjadi menarik karena profesi yang dilakukannya dianggap “lain” tapi dalam makna yang positif. Pekerjaan ini bukan profesi seperti sopir taksi yang mengendari kendaraan beroda empat dengan ruangan tertutup dan berpenyejuk udara seperti banyak berseliweran di pusat keramaian di New York. Pekerjaan ini menguras tenaga, keringat, dan semangat untuk menembus kebuntuan dan kemacetan kota New York dengan cara yang mengasyikkan.

Frankie merasa bahwa inilah pilihan yang tepat untuk dirinya: kebahagiaan yang didapat dengan cara berolahraga, memperoleh imbalan, bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, dan berbagi cerita tentang New York kepada para wisatawan yang menggunakan jasanya. Ia mampu memilih dan lalu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ia menikmati pekerjaan itu karena itulah yang diinginkannya.

Tidak demikian dengan Kastini, Mbah Pon, Dewi Rapika, atau Suharto. Mereka semua menarik becak karena keterpaksaan: pilihan yang dilakukan karena tak ada pilihan lain. Misalnya saja Kastini (45 th), ibu dari 7 anak, dan sudah lebih dari 15 tahun mengayuh becak untuk memperoleh nafkah. Ia kerap kali mangkal di Terminal Wisata Makam Sunan Bonang, Tuban (http://metrotvnews.com).

Mbah Ponirah. Sumber: http://rezco.wordpress.com
Pun demikian dengan Mbah Pon atau Ponirah (57 th) yang sudah lebih 22 tahun menarik becak di daerah Bantul, Yogyakarta. Perempuan yang satu ini dianggap sebagai “Perempuan Perkasa”, pernah menjadi bintang iklan minuman berenergi yang juga dibintangi almarhum Mbah Maridjan, dan tetap bertahan bahkan bangkit dari musibah gempa bumi yang merontokkan rumah dan memusnahkan ternak bebeknya (http://rezco.wordpress.com).

Agak berbeda dengan Kastini dan Mbah Pon, Dewi Rapika tidak mengayuh pedal becak, melainkan menggunakan becak motor (bentor/bemor) (http://berita.liputan6.com). Becak jenis ini memang salah satu kendaraan khas di Medan. Tidak perlu mengayuh dengan capek, atau mendorong becak saat tanjakan, cukup menginjak persneling dan memutar gas. Wuzzz... becak bisa meluncur kencang.

Tiga perempuan yang saya sebut tadi melakoni pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap tidak lumrah: pekerjaan “kasar” dan “berat” yang biasanya hanya dilakukan oleh laki-laki. Perempuan bukan hanya dianggap tidak wajar apabila berprofesi di bidang ini, tetapi bahkan dalam beberapa kondisi dianggap sebagai aib. Tetapi negeri ini memang tak memberikan banyak pilihan. Pendidikan yang rendah, keterampilan yang terbatas, serta sumberdaya ekonomi yang lemah, tak mampu mengangkat harkat masyarakatnya. Apalagi untuk perempuan.

Bahkan untuk beberapa waktu dalam proses adaptasi mereka, para perempuan ini mengalami penghinaan baik nampak maupun tidak. Tapi manisnya, akhirnya mereka memperoleh penerimaan, bahkan dianggap sebagai “pahlawan” karena mampu mendobrak asumsi dan persepsi negatif di lingkungannya.

Begitu pula Suharto. Mantan atlet balap sepeda yang mengandalkan kekuatan kayuhan paha-betis-kaki ini akhirnya hanya mampu memanfaatkan potensinya itu, tidak sebagai pelatih, melainkan pengayuh becak. Hidup nomaden dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain, dan lalu harus istirahat total dari pekerjaannya karena menderita hernia. (http://www.smartnewz.info).

Perbandingan dalam pepatah “lain ladang lain belalang” juga muncul dan ramai dibicarakan pada awal tahun ini: tukang sampah dari inggris menjajal pekerjaan tukang sampah di Jakarta. Dalam sebuah tayangan bertajuk “Toughest Place to be a Binman” (Tempat Tersulit untuk Menjadi Tukang Sampah) yang disiarkan oleh BBC London telah menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama yang bermukim di Inggris. Ada yang berkomentar, ini contoh yang “memalukan” bagi para pejabat di Jakarta. Tapi tak jarang juga yang merasa terharu.

Wilbur dan Imam. Sumber: http://www.bbc.co.uk
Tersebutlah Wilbur Ramirez yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah di Inggris menjajal pekerjaan sejawatnya, Imam yang menjadi tukang sampah di Jakarta. Selama 10 hari Wilbur mengikuti kegiatan sehari-hari Imam, bahkan beberapa kali mencoba menggantikan pekerjaan Imam. Hasilnya, Wilbur tak kuasa menahan haru. Bagaimana mungkin Imam mampu mengerjakan pekerjaan semaha-berat itu: berkeliling menarik gerobak dengan tubuhnya dari rumah ke rumah, dibayar dengan gaji rendah, dan tanpa jaminan kesehatan? (http://oase.kompas.com

Hidup seperti Sisifus

Cerita tentang tukang becak dan tukang sampah ini menyadarkan saya bahwa hidup memang tak selalu menyediakan pilihan. Atau mungkin lebih tepatnya, hidup tak menyediakan pilihan yang sama bagi setiap orang. Seseorang, karena dilahirkan dan hidup di suatu tempat, dapat lebih berdaya untuk memilih kehidupan yang diinginkannya. Sementara sebagian yang lain tak berdaya dengan pilihan-pilihan terbatas yang ditawarkan.

Menjadi apapun kita, bekerja di bidang apapun kita, bagi saya, selalu saja kita seperti sisifus yang “dikutuk” Dewa untuk selalu menggotong batu ke atas bukit, kemudian menjatuhkannya kembali. Sisifus melakukannya berkali-kali, dan kita menyaksikan itu sebagai “kutukan” yang paling menyakitkan: Dewa menghukum Sisifus dengan keterbatasan pilihan.

Tapi Albert Camus dalam Mite Sisifus melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Mungkin bagi sebagian dari kita, Sisifus nampak sangat tersiksa dengan pekerjaan yang sia-sia itu, pekerjaan yang absurd. Tetapi bagi Camus, Sisifus sebetulnya bahagia. Ia melakukan konsekuensi yang telah ia pilih: menentang para dewa meskipun diganjar hukuman yang paling muskil. 

Perjuangan yang yang dilakukan oleh Sisifus itu sendiri, untuk mengangkat bongkahan batu ke atas bukit meskipun ketika di puncak ia jatuhkan lagi, sudah cukup untuk mengisi hati kita bahwa begitulah makna perjuangan hidup. Bukankah dengan tetap bertahan dan berjuang mempertahankan hidup jauh lebih mulia daripada bunuh diri?

Hari ini kita menyaksikan banyak orang telah menjelma “Sisifus Jam 7 Pagi” sebagaimana sajak Ook Nugroho. Mereka berangkat pagi-pagi, memenuhi panggilan para “Dewa” yang telah menjelma menjadi bos-bos berdasi. Mereka mungkin tak nampak menggotong bongkahan batu, tetapi wajah kusut dan kuyu tak mampu menyembunyikan bongkahan masalah yang mereka bawa, bahkan hingga larut malam menjadi pekerjaan rumah. Mereka seolah terbelenggu. Seperti kata Ook Nugroho dalam sajaknya: “Sampai tua. Sampai lupa buat apa ini semua” (Ook Nugroho, dalam http://syairsyiar.blogspot.com).

Kalau boleh mengamini Camus, mungkin memang sebaiknya kita tak melulu melihat Kastini, Mbah Pon, Dewi Rapika, atau Suharto sebagai Sisifus yang (hanya) tersiksa jika kita membandingkannya dengan kisah Frankie Legarreta atau Wilbur Ramirez. Adakalanya mereka memang menggotong batu masalah yang maha berat, tetapi dari perjuangannya itu kita tahu: mereka sedang berjuang mengisi hidup. Tidak dengan berdiam diri atau mengulurkan tangan di perempatan jalan, melainkan dengan bekerja. Begitulah mungkin sebaiknya kita memaknainya. Meskipun itu tidak berarti kita bersepakat atau mengamini keadaan yang ada.[]

Karnaval Pengetahuan Remy Sylado

Lukman S.

Sumber: http://aklahat.wordpress.com
Saya merasa perlu menulis semacam ulasan setelah membaca beberapa roman karya Remy Sylado sekurang-kurangnya karena dua hal. Pertama, karangannya selalu menarik (setidaknya dari 4 karya yang saya baca), baik dari segi tema maupun caranya bercerita. Kedua, pengarang yang satu ini (menurut pribadi saya) merupakan salah satu pengarang jenius, atau setidaknya mendekati jenius karena muatan pengetahuan yang diembankan dalam karya-karyanya begitu kuat (rodo lebay ki... hehe...). Artinya, ia tak hanya piawai mengarang jalannya cerita, juga persentuhan antar-tokohnya. Terlebih lagi, Remy amat pandai menyelipkan berbagai pengetahuan mulai dari sejarah, musik, kata dan muasal kata, atau puisi ke dalam jalan ceritanya.

Sebetulnya saya sudah pernah membaca karya Remy sebelum ini, yaitu Ca Bau Kan. Tapi terus terang saya sudah lupa detailnya. Ketika saya mencoba menghatamkan Kerudung Merah Kirmizi tempo hari, prosa yang diganjar Khatulistiwa Literary Award itu, saya lalu tertarik untuk membaca novel-novel lainnya. Jadilah saya kemudian membaca pula Parijs van Java, Kembang Jepun, dan terakhir kemarin Menunggu Matahari Melbourne.

Sebelum saya kemukakan beberapa hal yang saya anggap menarik dalam karya-karya Remy itu, saya harus katakan bahwa sebelumnya saya membaca novel lain dari pengarang yang lain juga, antara lain Perahu Kertas karya Dewi Lestari/Dee, kemudian Arok Dedes karya Pramoedya, dan Desersi karya MTH. Paralaer. Kenapa hal ini saya utarakan, karena ada beberapa simpulan yang saya peroleh dengan membandingkan antara karya-karya Remy itu dengan novel-novel lain yang saya baca dalam jeda yang tak berapa lama. Selain itu, mau tak mau harus saya akui, penilaian saya ini sedikit banyak terkontaminasi pula oleh bacaan novel-novel yang lain itu.

Baiklah, hal pertama yang ingin saya kemukakan adalah, bahwa dalam karya-karyanya, Remy menunjukkan kelasnya sebagai pengarang yang ulung, juga pengarang yang telah matang akan ilmu dan pengetahuan. Sangkaan ini dapat saya kemukakan melihat caranya yang berhasil dalam mengeksplorasi kisah cinta dengan berbagai alur cerita, tokoh, dan konteks sejarah, sosial, dan budaya para pelakunya yang begitu kaya. Sehingga dengan membacanya, kita tak hanya disuguhkan kisah menarik, njlimet, dan kadang sok misterius dari perjalanan cinta sang tokoh, tetapi yang tak kalah penting juga adalah sisipan dan selipan pengetahuan mengenai hal ihwal yang melatari kisah cinta tersebut.

Dalam empat novel yang saya baca, setidaknya ada beberapa karnaval pengetahuan yang coba disisipkan oleh Remy, yaitu pengetahuan mengenai sejarah (terutama sejarah kota), karnaval puisi dan lagu (terutama puisi dan lagu-lagu klasik), peribahasa (baik lokal/daerah, nasional, maupun mancanegara), serta tentu saja pemilihan diksi-diksi klasik.

Saya katakan “karnaval” karena tidak banyak pengarang yang menyengaja menyisipkan hal-hal semacam itu, dan sebab itu membaca karya Remy terkadang terasa ganjil. Misalnya, saya mulanya kurang sreg dengan tebaran cuplikan-cuplikan puisi Timur Tengah dalam percakapan antar-tokoh dalam Kerudung Merah Kirmizi. Begitu juga pameran judul dan bait-bait lagu klasik (yang tentu saja dari Barat) yang saya tidak kenal karena minimnya minat dan pengetahuan musik saya.

Tetapi sebaliknya, saya merasa sangat senang jika ada sisipan pengetahuan sejarah yang ia sematkan pada nama-nama bangunan (asal muasalnya), asal muasal sebuah bangsa, asal muasal bahasa dan diksi, dan lain-lain.

Dari karnaval pengetahuannya itu, saya menangkap kesan bahwa Remy adalah salah satu pengarang yang mencoba “memaksakan” kehendaknya (baca: pengetahuan) kepada khalayak pembacanya.

(Atau jangan-jangan memang setiap pengarang memiliki ciri demikian? Ah, sepertinya tidak, sebab ada juga pengarang yang tipenya nyelebritas, alias mengikuti maunya pembaca).

Yang amat tampak dan paling menarik bagi saya adalah pemilihan diksi-diksi klasik yang digalinya dan dituturkannya kembali ke dalam narasi kontemporer prosa-nya. Diksi-diksi klasik itu (semula saya mencatatnya, tetapi setelah lebih dari 50 kata saya jadi malas, hehe...) sebagian besar berasal dari bahasa Arab (bahasa yang semula banyak menginfiltrasi bahasa Melayu), selain juga dari bahasa Jawa serta bahasa daerah lainnya.

Ambil contoh misalnya “mustahak”, “azmat”, “nudub”, “misbah”, “mudigah”, dan lain-lain. Selain dari bahasa Arab, ada juga dari bahasa Jawa, misalnya “yuwana”, “nugraha”, “driya”, dan “prayojana”. Kata yang terakhir ini (saya tak tahu pasti apakah benar dari bahasa Jawa/Sansekerta) diusulkan dan dipraktekkan langsung ke dalam prosa-nya oleh Remy untuk mengganti kata berbahasa Inggris trend setter. (Untuk arti dari kata-kata yang lain mohon maaf saya tidak paham secara pasti, hehe).

Nah, pertanyaannya, ada apa gerangan kok Remy (dalam karya-karyanya itu) secara sengaja mengampanyekan diksi-diksi klasik tersebut?

Mungkin saja ini bagian dari eksplorasinya sebagai pengarang. Dan, tentu saja mungkin juga untuk menunjukkan kepiawaiannya memilih kemudian menyisipkan kata-kata klasik itu tanpa mengurangi kenyamanan menarasikan dialog atau jalan ceritanya. Dan memang, berbeda dengan kesan saya mengenai karnaval pengetahuan ihwal musik atau puisi, saya merasa kemunculan diksi-diksi “aneh” tersebut terasa lebih pas, meskipun itu tadi, saya juga tak mengetahui secara pasti, kecuali mereka-reka dari konteks kalimatnya.

Tetapi alasan yang lebih tepat menurut saya adalah visi kepengarangan Remy yang mengantarkan ia pada keyakinan untuk mengeksplorasi kata-kata klasik itu ke dalam karyanya. Maksud saya, ada dorongan untuk memaksakan kepada pembaca supaya memamah atau setidaknya membaui kata-kata yang saat ini sudah tak lazim lagi digunakan.

Sebagai seorang penafsir bahasa, dan juga praktikus (lawan dari kritikus) dalam mengarang puisi dan prosa, Remy nampak intens sekali memperjuangkan apa yang ia sebut sebagai estetika bahasa. Keindahan dalam cara menuturkan dan melafalkan bahasa. Dan ia, sebagai praktikus, memilih media puisi dan prosa dalam menerapkannya. Terasa benar dalam prosa-prosa yang saya sebut di muka tadi, caranya menyisipkan kata-kata klasik itu dalam tuturan yang kontemporer, menggelitik para pembacanya untuk mencari apa maknanya.

Tapi sayangnya, bukannya mempermudah, Remy malah membiarkan pembaca kebingungan sendiri. Ia tak menyajikan arti harfiah sebagai keterangan pelengkap. Coba saja ada semacam glosarium, mungkin itu akan mempermudah pembaca mengetahui secara pasti apa makna kata-kata klasik itu. Tapi sudah saya katakan tadi, Remy mungkin pengarang yang masuk tipe memaksakan kehendak, hehe... (jadi, jarke wae... hahahaha).

Di Antara Novel-novel (dari Pengarang) Lain

Sudah saya katakan bahwa sebelum membaca karya-karya Remy, saya telah membaca beberapa novel lain. “Telah membaca” di sini maksudnya jeda antara membaca novel-novel lain dengan novel-novel Remy tak begitu lama, sehingga kesan masing-masing novel masih cukup kuat membekas. Dan apa yang telah saya kemukakan, sedikit banyak merupakan perbandingan juga dengan novel-novel dari pengarang lain itu. Namun demikian, ada beberapa perbandingan kecil antara karya Remy dengan novel lainnya yang dapat saya tambahkan di bawah ini.

Pertama dengan Perahu Kertas. Novel ini juga bercerita tentang “cinta sejati”, dan sama-sama dibuat dengan alur agak njlimet. Tetapi, tentu saja, karena konteks cerita yang dibuat Dee adalah kekinian (sekitar tahun 2000an), maka pengetahuan sejarah yang disisipkannya amat minim. Begitu juga dengan pilihan-pilihan diksinya, tidak banyak (atau malahan mungkin tidak ada) diksi klasik yang dituturkan kembali di dalam Perahu Kertas.

Kendati dua hal ringkas ini seolah-olah menyurukkan penilaian saya atas Perahu Kertas, namun sejatinya novel yang satu ini tetap memiliki kesan tersendiri bagi saya : Dee memang penulis handal! Caranya bercerita, selain bagus dan kadang kocak, juga makin meneguhkan apa yang pernah ditulis oleh Goenawan Mohamad dalam pengantar Filosofi Kopi, bahwa Dee adalah tangkisan, tangkisan atas anggapan sastrawangi (sastra yang mengumbar selangkangan belaka). Ya, kesimpulan ini menutup pembacaan saya atas Perahu Kertas, bahwa Dee dengan cantik menghindari pengumbaran seks di dalam karyanya (bandingkan misalnya dengan pengarang perempuan lainnya).

(Apakah karena ia seorang penganut Buddha dan pelaku olah Yoga yang niscaya memiliki ketenangan batin sehingga mendorongnya melahirkan tulisan yang “resik”? entahlah...).

Kedua dengan Desersi. Desersi ini oleh Paralaer, pengarangnya, disebut sebagai ethnograpische roman, maksudnya roman berlatar etnografis. Dan benar, latar cerita di Pulau Kalimantan dipenuhi dengan berbagai macam informasi mengenai alam, sejarah, dan budaya masyarakat lokal Kalimantan (terutama Dayak dan kemudian juga Melayu). Kesamaannya dengan Remy, menurut saya, caranya merangkum apa yang diketahui dan ingin ditularkan kepada pembacanya sama-sama piawai. Tentu saja informasi tersebut didapat dengan jalan riset; Remy mungkin riset pustaka, sementara Paralaer riset lapangan karena ia bekas tentara Belanda.

Dengan imbuhan berbagai pengetahuan itu, lagi-lagi dapat dikampanyekan bahwa dengan membaca novel kita tidak hanya dapat meresapi alur cerita dan karakter tiap-tiap tokohnya, melainkan juga memperoleh pengetahuan tambahan berdasarkan konteks cerita. Dalam hal ini, saya mencoba membandingkan apa yang pernah saya anggap sangat membosankan dalam pelajaran Sejarah semasa sekolah menengah, yaitu menghafal. Sebagai anak dengan bakat pelupa, tentu saja menghafal adalah momok. Jangankan tahun-tahun penting, nama-nama tokoh dan pelaku sejarah lokal, nasional, atau bahkan dunia saya sering lupa.

Tetapi dengan membaca novel, kita dapat menyisipkan pengetahuan sejarah tertentu dengan mudah dalam ingatan kita, sebab ada kesan khusus yang mampu memperkuat ingatan tersebut. Ambil misal, setelah membaca trilogi Rara Mendut-nya Romo Mangun, selain tentu saja dapat meresapi keganasan Sultan Agung dan kebiadaban Amangkurat, kita dapat segera tahu (meskipun sedikit) tentang sejarah Mataram Islam.

Dan jika ingin menyelidiki lebih jauh (ini biasanya langkah berikutnya dari seorang korban penasaran karena membaca novel), si pembaca dapat mencari info lebih jauh tentang sejarah (misalnya dari buku lain atau dengan mengunduh harta karun mbah Google), atau bisa juga berkunjung ke situs-situs yang diulas dalam cerita (kebetulan saya pernah ke kompleks Plered bersama Iid dan Arya untuk napak tilas, meskipun hanya menjumpai puing-puing masjid dan makam Ratu Malang yang mengenaskan, hehe...). Sumpah! Dengan cara macam ini, pelajaran sejarah jadi tak membosankan, hehe...

Nah, terakhir antara Pram dan Remy... Hal pertama yang membedakan karya-karya yang dihasilkan oleh dua pengarang ini adalah tema cerita. Pram, menurut saya, selalu mengetengahkan kisah-kisah yang bertitik tolak pada persoalan kemanusiaan. Sementara Remy, dari beberapa novel yang saya sebut tadi selalu ingin mengolah cerita mengenai relasi percintaan. Ujung-ujungnya adalah menemukan cinta sejati!

Lantas, apakah cinta bukan persoalan kemanusiaan? Memang, cinta juga merupakan persoalan kemanusiaan, dan sebaliknya dalam banyak persoalan kemanusiaan yang dikisahkan Pram tak jarang juga menampilkan kisah percintaan. Tetapi, menurut saya pribadi, ada titik tekan atau pelatuk yang berbeda antara visi kepengarangan Pram dan Remy, bahwa Pram kentara berpihak kepada kemanusiaan, apapun dan bagaimanapun caranya (baik melalui cerita tentang relasi percintaan, relasi anak-bapak, relasi tuan-gundik, dan lain-lain), sementara Remy kebanyakan berkutat pada ihwal menemukan cinta sejati (meskipun di dalamnya juga diketengahkan persoalan-persoalan kemanusiaan yang lain).

Nah, sebagai sesama kampiun, tidak usah disebutkanlah jika keduanya juga piawai memanfaatkan dan menafsirkan sumber sejarah, serta memaksimalkan pengetahuan bahasa mereka ke dalam cara bertutur prosanya.

Kesimpulan tentang perbedaan titik tolak cerita Pram dan Remy tersebut turut mempengaruhi jawaban saya jika ada pertanyaan apakah lebih bagus Pram atau Remy. Tentu pribadi saya menjawab Pram. Tetapi itulah, jawaban Pram yang mendahului Remy tidak membuat gugur penilaian saya bahwa Remy juga amat sangat piawai. Artinya, saya akan tetap tertarik membaca karya Remy yang lain, hehe...

Demikianlah, tulisan ini mungkin lebih banyak promosinya ketimbang telaah kritis atas karya. Supaya jika ada yang belum membaca karya Remy, monggo dipun diwoco... hehe... Maaf... Namanya juga pembaca biasa yang tidak pernah belajar analisis sastra. Namanya juga iseng... hehe...

Akhirul kalam... wallahua’lam...

[membaca-menulis apa saja dalam masa menunggu kepastian:]